Sodik Mujahid: Ada Peningkatan, Tapi Masih Ditemukan Masalah yang Berulang

0
45
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Sodik Mujahid. (foto:abi/hun)
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Sodik Mujahid. (foto:abi/hun)

HAJIUMRAHNEWS – Puncak ibadah haji yang ditandai dengan selesainya fase Arafah Muzdalifah dan Mina. Bahkan sejak 27 Agustus lalu, sudah ada kloter jamaah haji yang diterbangkan kembali ke Tanah Air. Artinya, Penyelenggaraan ibadah haji tahun 1439H/2018M boleh dibilang memasuki tahap pemulangan jamaah.

“Secara umum manajemen dan pelayanan haji berjalan baik, terdapat peningkatan dibanding  tahun lalu. Semua ini akibat kebijakan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang dalam hal ini Kementrian Agama sebagai leading sector nya serta kinerja dan kebijakan pemerintah Arab Saudi,” kata Wakil Ketua Komisi VIII, Sodik Mudjahid dalam keterangan tertulisnya bertajuk Catatan Haji 2018 yang diterima hajiumrahnews.com Kamis, (30/8).

Selain itu, kata Sodik, peningkatan kualitas  pelayanan yang paling signifikan adalah proses imigrasi. Di mana pengambilan sidik jari sudah diambil di seluruh embarkasi di Indonesia. Bahkan, 25 persen atau 70 ribu jamaah haji yang berangkat  melalui embarkasi Jakarta  sudah bisa menjalani pemeriksaan dan mendapat cap imigrasi pemerintah arab saudi di Jakarta.

“Hal ini sangat mempercepat proses imigrasi di bandara Jeddah dan Madinah yang biasanya menjadi salah satu faktor sulit dalam perjalanan ibadah haji,” ujarnya.

Walau demikian, lanjut Sodik, masih ada beberapa masalah yang masih terulang dan harus diselesaikan secara mendasar. Mulai dari kapasitas tenda di Mina, rasio toilet di Mina yang sangat tidak sesuai dengan jumlah jamaah.

Berikutnya masih ada jamaah Indonesia yang ditempatkan di lokasi Mina Jadid, kualitas penyejuk udara di Mina dan Arafah yang tiidak memadai. Masih terjadi keterlambatan konsumsi dan kualitas makanan yang basi saat di Mina dan maktab.

Kemudian, lokasi bangunan yang berjauhan untuk satu kloter juga menjadi masalah.  Tidak tersedianya warung di lokasi dekat maktab dan bis sholawat yang kurang sesuai frekuensi dan kapasitasnya. Minimnya bendera Indonesia dan sistem komunikasi dalam membantu penanganan jamaah yang hilang atau tersesat.

Di samping itu, masih ditemukan jamaah yang masih lemah pengetahun tata cara ibadah haji  serta pengetahun yang sangat lemah tentang fasilitas tour dan traveling (naik eskalator,toilet pesawat). Begitu pula dengan kualitas koper yang buruk banyak yang sudah jebol ketika baru sampe di embarkasi.

“Boleh jadi, masalah Koper sepertinya mslah kecil, tapi hal ini cukup penting bagi jamaah karena tidak bisa diganti supaya seragam dslam satu  kloter untuk memudahkan pencarian dan pengelompokan,” katanya.

Menurut Sodik, jika ditelisik, ada beberapa yang menjadi sumber masalah, diantaranya: pertama, Maktab-maktab perusahaan bis shawalat dan perusahaan catering yang nakan dan bandel yang bekerja tidak sesuai dengnan standar dan perjanjian yang telah disepakati dengan Kemenag.  Sumber masalah kedua, lemahnya pengawasan lapangan oleh petugas Kemenag kepada maktab, petugas catering dan transportasi atas pelaksanaan standar dan perjanjian yang telah disepakati.

Ketiga, kebijakan pemerintah Arab Saudi seperti lambatnya upgrade fasilitas di Mina Jadid untuk jamaah haji Indonesia dan kebijakan operasi bis shalawat setelah tanggal 13 Dzulhijjah.

Keempat, manasik haji serta diklat karu dan karom yang belum sesuai dengan kebutuhan dan tantangan meda haji.

Sebagai jalan keluar (solusi) dan perbaikan ke depan, Sodik mengusulkan lima langkah yang  musti dilakukan pemerintah. Diantaranya : pertama, perkuat lobbi kepada pemerintah Arab Saudi untuk peningkatan upgrading fasilitas di Mina dan Arafah terutama untuk kapasitas tenda, penambahan jumlah dan kualitas toilet agar lebih sebanding dengan jumlah jamaah, kebijakan waktu operasi bis shalawat, penempatan jamaah haji indo esia di Mina jadid, serta peningkatan sistem transportasi dari maktab  mina jadid ke jamarot

Kedua, tingkatkan kinerja, jumlah sumber daya manusia, fasilitas, sistem,  intensitas serta kecepattanggapan pengawasan dan keluhan jamaah di lapangan. Ketiga, berikan sangsi yang cepat dan efektif kepada maktab serta perusahaan catering dan bis yang nakal.

Berikutnya yang keempat, sempurnakan kurikulum dan pelaksanaan manasik agar lebih sesuai dengan kebutuhan jamaah serta tingkatkan kualitas diklat utuk Karu dan Karo. Kelima, tetapkan dan rekrut petugas haji untuk berbagai bidang  yang sudah  berpengalaman dan memenuhi standar serta kebutuhan haji. Keenam, awasi dengan ketat  pembuatan kopor dan fasilitas jamaah lainnya yang dibuat fihak ketiga.

Selain itu, Sodik juga mengingatkan terkait keberadaan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) agar bisa membantu peningkatan kualitas manajemen pelayajan haji terutama untuk menambah dukungan biaya kepada jamaah, efisiensi dalam kontrak dengan mitra-mitra serta pengawasan kinerja mitra.

“Semoga tahun 2019 dan tahun tahun selanjutnya manajemen dan pelayanan haji Indonesia semakin baik dan menjadi yang terbaik di dunia,” kata Sodik berharap. (hai)

LEAVE A REPLY