Gentong Haji, Tradisi Masyarakat Cirebon Ketika Pergi Haji

0
81

gentong-haji

Hajiumrahnews – Gentong haji adalah suatu tradisi yang mengakar kuat di tengah masyarakat Cirebon. Tidak tahu persis sejak kapan tradisi ini mulai muncul. Yang jelas, tradisi ini sudah sejak lama ada dan hingga kini masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat -meski efek modernitas membuat tradisi ini lambat laun menghilang.

Tradisi ini mulai muncul ketika salah satu anggota masyarakat ada yang pergi haji. Sebagai tanda syukur kepada Allah swt, orang yang mau pergi haji mengeluarkan dan meletakkan sebuah gentong berisi air di depan rumahnya. Orang yang lewat boleh meminum air yang ada di gentong tersebut sesuka hati.

Selain itu, tradisi ini juga sebagai upaya untuk melestarikan kebiasaan berbagi kepada masyarakat dengan air minum. Tentunya, sebagai penanda bahwa pemilik rumah yang di depannya ada gentongnya tersebut sebentar lagi akan pergi haji. Maka, doakanlah agar orang yang pergi haji itu bisa menjadi haji yang mabrur.

Saat musim haji, suhu udara di Makkah biasanya selalu panas. Beda dengan suhu udara di tanah kelahiran. Dengan adanya tradisi ini, orang pergi haji berharap hatinya bisa adem seadem air minum yang disedekahkannya kepada masyarakat.

Tak hanya bagi pemilik rumah yang menunaikan ibadah haji, gentong haji juga menyimpan harapan dan keyakinan pada masyarakat yang ikut meminum  air tersebut. Mereka yakin, air tersebut mengandung keberkahan dan mereka berharap bisa mengikuti jejak pemilik rumah untuk berangkat ke Tanah Suci.

Sementara itu, meski tradisi gentong haji itu masih dipertahankan, namun wadah penyimpan air minumnya tak melulu dalam bentuk gentong. Tak sedikit pelakunya yang kini mengganti gentong dengan air galon bahkan air mineral kemasan, dengan alasan kepraktisan.

Pengganti air gentong menjadi air galon dalam tradisi gentong haji itu salah satunya seperti yang terlihat di salah satu rumah di komplek perumahan Blok Kusuma Indah, Desa Setu Kulon, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Di depan rumah tersebut, tampak tersedia air minum galon beserta gelasnya.

“Kami persilakan siapapun yang haus untuk langsung meminumnya,’’ tutur Era, salah satu anggota keluarga pemilik rumah tersebut.

Budayawan Cirebon, Noerdin M Noer menilai, ada pergeseran budaya di tengah masyarakat dalam tradisi gentong haji. Pasalnya, banyak yang mengganti gentong sebagai penyimpan air menjadi galon bahkan air mineral kemasan.

“Secara ekonomis, masyarakat menganggap air minum kemasan lebih praktis ketimbang gentong,’’ tutur Nurdin.

Nurdin menjelaskan, penggunaan gentong merupakan perpaduan budaya Islam dan Hindu yang melahirkan budaya Jawa. Tradisi gentong haji selanjutnya lahir menjadi suatu kearifan lokal, khususnya di Cirebon.

“Sebenarnya tidak harus saat musim haji. Tapi memang penyediaan air minum di depan rumah itu marak dilakukan saat musim haji,’’ tandas Nurdin. (*)

LEAVE A REPLY