Mendapatkan Haji Mabrur Karena Orang Lain

0
67

f5ab101e-fcc5-4533-b4b3-ec6ce21803af_16x9_788x442-720x442

Hajiumrahnews – Siapa yang tak ingin mendapatkan predikat haji mabrur? Meski sulit untuk membuktikan apakah seseorang itu dapat haji mabrur atau tidak, namun setiap orang pasti menginginkannya. Agama memberikan petunjuk bahwa ciri-ciri haji mabrur itu dapat terlihat dari perilaku dia setelah berhaji, seperti semakin baik akhlaknya, makin dermawan, dsb.

Dalam kitab Hasyiah Jumal, Imam ibnu Khawalaih memaknai Haji Mabrur dengan arti maqbul, yaitu haji yang diterima di sisi Allah swt. Begitu juga dalam kitab Lisan al-Arobi, Muhammad ibnu Mukrim ibnu Mandzur memaknai mabrur sebagai haji yang diterima. Ada juga ulama yang memaknai lain, seperti Imam Nawawi dalam kitab Hasyiah Bujairomi ‘Ala al-Minhaj, beliau memaknai mabrur sebagai suatu tindakan yang tidak dicampuri dengan dosa walaupun dosa itu kecil.

Dari uraian beberapa ulama di atas, setidaknya terdapat gambaran bahwa makna mabrur adalah diterimanya amal ibadah seseorang, diperkuat dengan tidak adanya perbuatan dosa yang menyertainya.

Berkaitan dengan diterima atau tidaknya haji seseorang, menarik jika kita menengok kitab I’anatut Tholibin karya ulama kenamaan Sayid al-Bakr ibnu Sayid Muhammad Syatha ad-Dimyati. Di dalamnya diceritakan bahwa ada seorang yang bernama Ali ibnu Muwaffaq, seorang ulama yang tidur kemudian bermimpi. Ia melihat dua malaikat yang sedang berdialog.

Dalam dialog tersebut, salah satu malaikat bertanya, ”Kamu tahu berapa banyak jamaah yang berangkat haji tahun ini dan berapa yang diterima?” Temannya pun menjawab ”Tidak”.

“Jumlah jamaah haji yang datang ada enam ratus ribu dan hanya enam orang yang diterima,” jawabnya.

Mendengar dialog kedua malaikat tersebut, Muwaffaq kaget sekaligus takut jika ternyata ibadah hajinya juga tidak diterima.

Masih dalam alam mimpi, ketika ia sedang wukuf di Arafah dan mabit di Mina, untuk kedua kalinya ia melihat malaikat yang turun dari langit. Malaikat yang bernama Abdullah bertanya pada temannya, “Malam ini kamu tahu apa yang telah diputuskan Allah?”

“Tidak,” jawab rekannya.

Abdullah pun berkata, “Dari enam orang yang diterima, tiap satu orang diberi hak untuk bisa memberi syafaat seratus ribu orang.”

Kemudian Muwaffaq terbangun dari tidurnya dengan wajah ceria karena tahu bahwa dari sekian banyak jamaah haji telah diterima.

Cerita di atas bukanlah sekedar dongeng, namun juga diyakini kebenarannya, karena Ali ibnu Muwaffaq adalah hamba yang dekat dengan Allah SWT.

Tidak mustahil jika hanya beberapa orang saja yang diterima ibadah hajinya, karena jamaah haji yang berangkat menggunakan uang hasil korupsi tidak akan diterima hajinya karena sudah jelas keharamannya.

Namun demikian, masyarakat muslim juga harus tahu bahwa tradisi syafaat dalam ibadah juga ada, sehingga sangatlah mungkin jika satu orang saleh mampu menjadikan ibadah haji jamaah lain diterima oleh Allah SWT.

Begitu juga shalat, karena ada kesalahan prosedur atau kesalahan prinsip sehingga shalat orang tersebut tidak diterima. Tapi karena shalatnya berjamaah dan di dalamnya ada orang saleh sehingga kemungkinan besar shalatnya diterima lantaran orang saleh tersebut. Wallahu a’lam bil-shawab! (*)

 

LEAVE A REPLY