Keteladanan Nabi Ibrahim, Ujian untuk Menaikkan Derajat

0
133
Kyai Anizar saat membimbing jamaah Haji
Kyai Anizar saat membimbing jamaah Haji

Oleh Kyai Anizar Masyhadi*

UMAT Islam di seluruh penjuru dunia pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) sedang merayakan kemenangannya, sedang meneladani Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS) dan keluarganya.

Dalam kesempatan ini, penulis yang tengah menjadi pembimbing haji khusus yang tergabung dalam Gaido Travel ikut dalam rangka napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim AS. Tanggal 11 Dzulhijjah, jamaah haji melontar jumroh. Kala itu, suhu udara yang sangat panas mencapai 49 derajat, namun tidak mengurangi semangat dan kekhidmatan jamaah haji dalam melontar jumroh di bawah terik matahari.

Doktrin dan penanaman nilai-nilai keteladanan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya kepada jamaah haji sangat kuat melalui proses melontar jumrah ini. Sehingga para jamaah yang bergabung di Gaido Travel dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, sangat menjiwai dan melakukannya dengan penuh kekhusyukan.

Kepada tim media melalui sambungan whats app, penulis menjelaskan makna hari raya qurban dan lontar jumroh. Nabi Ibrahim AS dan keluarganya adalah teladan, contoh keluarga yang sukses, selamat dan ketaatannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala (SWT) sangatlah tinggi tidak terkalahkan.

Allah SWT selalu akan menguji hambanya, dengan ujian tersebut apakah bersyukur atau kufur. Setingkat Nabi Ibrahim AS yang sangat taatpun, Allah SWT rupanya ingin mengujinya, seakan-akan Allah SWT ingin memastikan, sejauh mana totalitas kepasrahan dan keyakinan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT.

Tidak tanggung-tanggung, ujiannya kali itu adalah melalui mimpinya, Nabi Ibrahim AS  diperintahkan menyembelih anaknya. Ujian yang sungguh terberat bagi manusia.

Dalam al-Quran surat As-Shaffat ayat 101-102, Allah SWT berfirman: yang artinya; “Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!.” Ia (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.”

Sungguh luar biasa, ada dialog antara bapak dan anak, Nabi Ibrahim AS bisa saja menjalankan perintah Allah SWT tanpa kompromi, tapi Nabi Ibrahim AS rupanya juga sedang ingin mendidik anaknya Ismail, mendidiknya berkomunikasi, dan tentunya menguji keyakinan dan kepasrahan Ismail kepada Allah SWT.

anizar lempar jumrah

Ternyata totalitas keyakinan dan kepasrahan serta ketaatan keduanya kepada Allah SWT sangat luar biasa. Seperti diriwayatkan, ketika Nabi Ibrahim AS akan menjalankan perintah Allah SWT tersebut, syaitan datang silih berganti; datang kepada Nabi Ibrahim AS, datang kepada Ismail dan juga ibunya Siti Hajar.

Misi syaitan hanya satu, menggagalkan rencana Nabi Ibrahim AS tersebut, agar tidak tercatat dalam sejarah menusia sebagai teladan. Syaitan terus menggodanya, maka Nabi Ibrahim AS mengambil batu kerikil dan melempar syaitan.

Tak mempan menggoda Nabi Ibrahim AS, syaitan mendatangi Ismail dan Siti Hajar, keduanya juga kokoh, tidak tergoyahkan, dilemparlah syaitan tersebut dengat batu.

Bayangkan, Nabi Ibrahim AS lama tidak dikaruniai anak, ketika punya anak, diperintahkan untuk menyembelihnya. Inilah ujian terberat Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Nabi Ibrahim AS meyakini bahwa ini hanyalah ujian. Nabi Ibrahim AS meyakini betul bahwa Allah SWT tidak akan membebankan sesuatu kepada hambanya diluar kemampuan untuk memikulnya, surat Al-baqarah ayat 103.

Maka dalam surat As-Shaffat ayat 103, Allah SWT juga menggambarkan, yang artinya : “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).”

Lalu Allah SWT memanggilnya, “Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim” (104)

Hampir saja Nabi Ibrahim AS menyembelih Ismail, namun Allah SWT memanggilnya; Cukup wahai Ibrahim, cukup, cukup. Allah sudah melihat kesungguhan dan totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Allah SWT menegaskan dan mengapresiasi Nabi Ibrahim AS, dalam ayatnya 105: “Sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (105)

Kemudian Allah SWT menegaskan, bahwa ini adalah bentuk ujian, cobaan untuk mengetahui, apakah Nabi Ibrahim AS layak dijadikan teladan oleh Allah SWT. “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (106)

Lalu Allah menebusnya dengan sembelihan yang besar sebagai ganti Ismail: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (107)

Jadi tidak mungkin Allah SWT mencelakakan hambanya, setiap ujian dan cobaan, tergantung bagaimana kita memandangnya, sebagai seorang mukmin, tentunya semua dipandang sebagai hal yang positif dari Allah SWT.

Momentum yang sangat mengharukan, sangat bermakna tersebut, Allah SWT menganggap dan menilai Ibrahim AS dan keluarganya sukses, selamat dan lulus, Allah SWT menaikkan derajatnya dan mengabadikannya dalam sejarah manusia.

Seluruh umat Islam mengenangnya pada tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dengan hari raya qurban.  Bagi jamaah haji, mereka mengenangnya dengan cara melontar jumroh (syaitan).

Lontar jumroh ini adalah simbol perlawanan manusia terhadap syaitan. Maka setiap lontaran jumroh, dimaknai dengan khusyuk, bahwa syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Kemudian Allah SWT mengabadikannya; “Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (108)

“(yaitu)” Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” (109)

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (110).

Kita harus meniru keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS, keluarga yang taat dan patuh kepada Allah, dapat melewati ujian terberatnya. Bagi kita, ujian adalah bagaimana cara kita menempuhnya, jika sabar dan sukses, maka Allah SWT akan menaikkan grade kita, lulus dan naik tingkatan.

Jika kita lulus, terus menebar kebaikan dan karya dalam hidupnya, maka sejarah akan mencatat kebaikan dan karya kita, selalu akan dikenang oleh orang-orang yang hidup setelah kita. (*)

Kyai Anizar Masyadi, Pimpinan Pondok Modern Tazakka,  ditulis di Mina, 11 Dzulhijjah 1439 (22 Agustus 2018).

LEAVE A REPLY