Ini Penjelasan Kemenag Soal Perbedaan Idul Adha Antara Indonesia dan Arab Saudi

0
64
Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi beserta jajaran PT Pertamina Balikpapan menunaikan salat Idul Adha meskipun diguyur hujan di Lapangan Merdeka, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat 1 9 17
Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi beserta jajaran PT Pertamina Balikpapan menunaikan salat Idul Adha meskipun diguyur hujan di Lapangan Merdeka, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (1/9/17). Foto: Tribun

Hajiumrahnews – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) telah menetapkan 10 Zulhijah atau hari raya Idul Adha jatuh pada Rabu, 22 Agustus 2018. Keputusan ini diambil setelah Kemenag menyelenggarakan sidang Isbat penetapan awal Zulhijah, di auditorium Kemenag, Jakarta, Sabtu (11/8/2018) malam.

Berbeda dengan Indonesia, Idul Adha di Arab Saudi terjadi pada Selasa, 21 Agustus 2018. Penetapan tersebut, merupakan hasil pengamatan Tim Ru’yatul Hilal di beberapa tempat, seperti di As-Sudair dan As-Syaqra’. Mereka menyatakan berhasil melihat bulan (ru’yatul hilal).

Menanggapi perbedaan itu, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengajak seluruh masyarakat untuk bijak menyikapinya.

“Perbedaan tanggal seperti itu bukan merupakan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Karena penetapan waktu ibadah di Indonesia bersifat lokal, bukan global, mengikuti wilayatul hukmi mencakup MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura),” ujar Menag, Minggu (12/8/2018) malam waktu Saudi di Kantor ‘Al Mabrur’ Daerah Kerja Makkah di kawasan Syisyah, seperti dilansir website resmi kemenag.go.id.

Menurut Lukman, untuk ibadah, terutama salat dan puasa kita merujuk pada waktu lokal, sehingga perbedaan waktu, jam termasuk hari bisa mengikuti wilayah di mana kita berada.

Pernyataan Menag ini sekaligus memberikan kepastian kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang menjalankan rangkaian ibadah di bulan Zulhijah, termasuk dalam merayakan Idul Adha.

Sebelumnya, sidang Isbat yang dihadiri oleh sejumlah pimpinan ormas Islam, MUI, dan sejumlah perwakilan negara sahabat, Sabtu (11/8/2018) malam, posisi hilal di seluruh Indonesia masih berada di bawah ufuk.

“Petugas rukyatul hilal sampai sidang Isbat ini berlangsung, tidak satu pun di antara mereka menyaksikan hilal,” kata Muhammadiyah Amin, Dirjen Bimas Islam Kemenag.

Karena itu, dari segi hisab dan rukyatul hilal, maka sebagaimana yang dipedomani berdasarkan Fatwa MUI Nomor 2 tahun 2004 tentang penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, menurut Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, bulan Zulkaidah 1439 Hijriah disempurnakan, dengan cara istikmal atau digenapkan menjadi 30 hari.

Dirjen Bimas Islam Kemenag itu berharap, keputusan yang dihasilkan dalam sidang isbat itu membawa berkah bagi semua umat muslim di tanah air.

“Atas nama pemerintah, kami menyampaikan selamat menempuh bulan Zulhijah dan Idul Adha 1439 Hijriah,” pungkas Amin. (*)

LEAVE A REPLY