IITCF dan ASITA DKI Gelar Kopdar Sambil Belajar

0
87
Suasana fullday workshop yang digelar IITCF dan ASITA DKI Jakarta di Hotel Sofyan Inn, Tebet Jakarta, Selasa (14/8).
Suasana fullday workshop yang digelar IITCF dan ASITA DKI Jakarta di Hotel Sofyan Inn, Tebet Jakarta, Selasa (14/8).

HAJIUMRAHNEWS –Boleh jadi, kopi darat (kopdar) rutin bulanan yang digelar Indonesia Islamic Travel Communication Travel Forum (IITCF) memang beda. Tak heran bila kopdar para pelaku industri biro travel dan wisata muslim ini selalu dinanti anggotanya. Betapa tidak, IITCF selalu mengemasnya dengan berbagai kegiatan yang mampu meningkatkan kapasitas dan kompetensi anggotanya.

Seperti kopdar yang dihelat pada Selasa (14/8) di Hotel Sofyan Soepomo, Jakarta ini, IITCF menggandeng Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) menggelar fullday workshop dengan tema Autopilot Tourism Design For Extreme Productivity. Workshop yang diikuti 50 owner travel anggota IICTF dan ASITA itu diampu oleh Master G Coach, Edy Aryanto dan Chairman IITCF Priyadi Abadi.

Ditemui di sela-sela workshop, Priyadi menjelaskan, menghadapi persaingan global dalam bisnis travel, wisata muslim bahkan bisnis apapun diperlukan sumber daya manusia yang kuat. Apalagi di era persaingan global dan Indonesia sebagai bagian dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) seperti saat ini.

“Kalau kita tidak menstandarisasikan pelayanan kita, maka kita akan tertinggal. Contoh yang paling gampag dalam hal penguasaan bahasa. Malaysia dan Singapur kan bahasa kesehariannya sudah bahasa Inggris, sementara kita bahasa Inggris bagi sebagian orang masih menakutkan, padahal kita mau bicara global,” kata Priyadi.

IITCF, kata Priyadi, yang memposisikan diri sebagai training center terus berupaya untuk mensosialisasikan dan mendorong para pelaku usaha untuk aktif ikut pelatihan melalui kopdar bulanan dengan tema yang berbeda-beda. “Pada hari ini, kita adakan workshop sekaligus kopdar atau bisa juga sebaliknya, terkait bagaimana menggrab peluang pasar yang ada yang sedemikian besar,” ujarnya.

Lebih lanjut Priyadi memaparkan, adapun materi yang diberikan dalam pelatihan ini, peserta belajar bagaimana grab data potensi pasar pariwisata base on data, belajar general chek up bisiness, belajar merancang business plan menuju blue ocean strategy, belajar cara eksekusi business plan, belajar personal and leadership mastery dan extreme productifity for tourism industry.

“Dan ternyata, masih banyak di antara teman-teman kita yang gaptek dan belum melek dengan kondisi pasar dan persaingan yang terjadi, karena itu IITCF komitmen untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan kapasitas pelaku bisnis agar mengerti bisnisnya,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Ketua ASITA DKI Jakarta Hasiyanna S. Ashadi, mengatakan ASITA menyambut positif wisata halal atau wisata muslim. Karena memang, di luar haji dan umrah, saat ini wisata muslim lagi tren. Apalagi, travel haji dan umrah kini juga sudah mulai melirik potensi pasar wisata muslim yang mungkin sebelumnya belum tergarap dengan maksimal.

Berdasarkan data base on visa, Jakarta setiap bulannya lebih dari 1,2 juta kedatangan turis asing. Apakah dalam rangka wisata atau bukan namun hal ini perlu direspon dengan baik.

“Sekitar satu juta dua ratus perbulan ada, bahkan lebih, apalagi pas peak season termasuk jelang hajatan Asian Games, pasti lebih,” katanya.

Sementara Edy yang ditemui di sela istirahat mengatakan kenapa pelatihan ini diadakan oleh IITCF dan ASITA, pasalnya saat ini banyak pengusaha yang menjalankan bisnisnya hanya sekedar berjalan saja tanpa memiliki visi yang jelas. Tak terkecuali pelaku bisnis pariwisata.

“Mereka asal jalan tanpa tahu mau dikemanakan perusahaannya, berapa targetnya, bagaimana strateginya, nyaman dengan posisi perusahaannya saat ini tanpa berpikir bagaimana para kompetitor bergeliat,” tandasnya.

Dalam pelatihan kali ini, kata Edy, ia menyampaikan kepada para peserta bagaimana merancang bisnis plan perusahaan dan gol dari sebuah perusahaan dalam jangka waktu setahun, dua tahun dan jangka panjang.

“Dengan mengikuti workshop ini, para pengusaha tahu akan dijadikan apa perusahaannya, ke mana arahnya, dan berapa besar net profit yang ingin dicapainya,” kata Edy yang tercatat sebagai the Indonesian Board of Grounded Business Coaching ini.

Edy menambahkan, jadi selain teori, peserta juga diajarkan praktik membuat business plan yang benar-benar real dengan kondisi perusahaannya masing-masing. (hai)

LEAVE A REPLY