Presiden ISABC: Saudi Kini Lebih Modern dan Peluang Pasarnya Besar

0
151
Presiden Indonesia Saudi Arabia Business Council (ISABC) Muhammad Hasan Gaido saat menyampaikan pemaparan terkait strategi menembus pasar Saudi dalam acara Talkshow: Potensi Pasar Pariwisata, Perdagangan, dan Investasi Saudi Arabia dan Strategi Menembusnya, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (9/8). (foto:hun)
Presiden Indonesia Saudi Arabia Business Council (ISABC) Muhammad Hasan Gaido saat menyampaikan pemaparan terkait strategi menembus pasar Saudi dalam acara Talkshow: Potensi Pasar Pariwisata, Perdagangan, dan Investasi Saudi Arabia dan Strategi Menembusnya, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (9/8). (foto:hun)

HAJIUMRAHNEWS–Merosotnya harga minyak bumi dan gas (migas), membuat Kerajaan Arab Saudi bertekad melepas ketergantungannya pada sektor migas. Karenanya, mau tidak mau pemerintah Saudi menyusun program reformasi ekonomi bertajuk Visi Saudi 2030 yang dipimpin langsung oleh Pangeran Muhammad bin Salman.

“Saudi yang sekarang bukan lagi Saudi yang dulu.  Di bawah pimpinan Raja Salman dan putra mahkotanya, Saudi menjadi lebih modern, sehingga untuk bisnis sangat menguntungkan,” kata Presiden Indonesia Saudi Arabia Business Council (ISABC) Muhammad Hasan Gaido dalam pemaparannya di Talkshow: Potensi Pasar Pariwisata, Perdagangan, dan Investasi Saudi Arabia dan Strategi Menembusnya, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (9/8).

Dalam acara yang digelar oleh Kantor Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah dan OKI (UKP Timur Tengah dan OKI) ini, Hasan juga menegaskan bahwa posisi Saudi saat ini bisa dijadikan sebagai hub kawasan Timur Tengah sehingga barang yang dijual bukan hanya untuk Saudi tapi bisa masuk ke semua negara Timur Tengah lainnya.

Menurutnya, tekad pemerintah Saudi untuk mereformasi ekonomi lewat Visi Saudi 2030 itu membuka peluang kerjasama ekonomi Saudi dengan negara-negara lain di dunia termasuk Indonesia. Indonesia, kata Hasan, memiliki peluang lebih besar untuk merebut peluang pasar Saudi yang semakin membesar dengan mempertimbangkan hubungan baik yang telah terjalin antar Indonesia-Saudi.

Pasalnya, jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim pun menjadi market tersendiri bagi Saudi. Buktinya, jumlah umrah dan haji dari Indonesia cukup besar. “Tahun ini saja diprediksi tembus di angka satu jutaan jamaah umrah,” kata Hasan yang juga tercatat sebagai Ketua Bilateral Kadin Komite Tetap Timur Tengah dan OKI (KT3-OKI) ini.

Sebagai praktisi dan pimpinan ISABC, Hasan Gaido memaparkan terkait potensi pasar perdagangan, pariwisata dan investasi Saudi Arabia. Hasan menjelaskan, dalam hal investasi, Saudi atau Timur Tengah lebih suka investasi kepada perusahaan yang sudah siap bukan dari nol mau bangun. “Kerjasama usaha dengan Saudi, mereka tidak akan mengirim tenaga kerja, karena penduduknya sedikit dan negara kaya,” ujarnya.

Sedangkan di sektor pariwisata, kunjungan Raja Salman beserta para petinggi dan pangeran kerajaan Saudi ke Bali tahun 2017 lalu harus menjadi batu loncatan Indonesia untuk meningkatkan pasar pariwisata di mata internasional. “Sudah terbukti sektor pariwisata Indonesia menjadi pilihan Raja Salman yang memilih Bali, bahkan extand beberapa hari, sehingga dampaknya Bali menjadi destinasi nomor satu  di dunia,” katanya Hasan Gaido.

Karena itu, kata Hasan, momen Indonesia Expo 2018 yang bakal digelar di Jeddah pada 28 November sampai dengan 1 Desember 2018 mendatang menjadi penting dan sangat strategis sebagai ajang untuk mempromosikan produk Indonesia.

Terkait gelaran Indonesia Expo 2018, Direktur PT Wahyu Promo Citra, Syukur Sakka, mengatakan pihaknya sengaja menggelar roadshow di Jakarta dalam rangka sosialisasi program bagaimana kunci sukses bisa menembus pasar Saudi. “Kegiatan expo bukan hanya tahun ini, tapi akan menjadi rutin setiap tahunnya, karena bicara pameran dan promosi tidak akan efektif apabila dilakukan hanya satu kali,” kataya.

Sebelumnya, Kepala UKP Timur Tengah dan OKI Alwi Shihab dalam sambutannya menyampaikan reformasi ekonomi Saudi yang tertuang dalam Visi Saudi 2030, di antaranya, menargetkan pendapatan ekonomi sektor non migas hingga enam kali lipat dari berbagai sektor seperti pajak, pariwisata, dan perdagangan. Artinya, reformasi ekonomi tersebut secara otomatis menempatkan posisi Saudi menjadi negara tujuan ekspor yang menjanjikan mengingat kebutuhan bagi pembangunan dan masyarakatnya menjadi semakin meningkat.

Karena itu, penyelenggaraan talkshow Potensi Pasar Pariwisata, Perdagangan, dan Investasi Saudi Arabia dan Strategi Menembusnya ini merupakan salah satu upaya meningkatkan kinerja perdagangan, pariwisata dan investasi Indonesia, khususnya dengan Arab Saudi dan Timur Tengah.

Tujuan dari acara ini adalah untuk memaparkan peluang bisnis produk-produk Indonesia di Pasar Saudi. Kemudian, untuk meningkatkan neraca perdagangan Indonesia – Saudi di masa yang akan datang dan mengidentifikasi kiat atau strategi jitu untuk sukses menembus pasar Saudi dan Timur Tengah. (hai)

LEAVE A REPLY