Jamaah Haji Perempuan Tak Perlu Khawatir Soal Menstruasi

0
30

berita-haji-2015

Hajiumrahnews – Salah satu yang dikhawatirkan perempuan saat beribadah haji adalah datangnya haid atau menstruasi. Dilansir New Straits Times, Sabtu (4/8), penyelenggara haji Malaysia, Tabung Haji mendapat pertanyaan terbanyak terkait datang bulan saat haji.

“Jamaah perempuan sering memiliki ketakutan berlebihan bahwa menstruasi akan berdampak buruk terhadap ibadah mereka,” ujar Pembimbing haji dari Malaysia, Yusnah Yusuf.

Yusnah pun meyakinkan bahwa hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Satu-satunya, kata Yusnah, hal yang tidak bisa dilakukan perempuan ketika menstruasi saat haji adalah tawaf atau mengelilingi Ka’bah.

“Namun, sa’i atau berjalan di antara Bukit Safa dan Marwah juga harus dilakukan setelah tawaf. Maka sa’i kemungkinan akan terpengaruh dan belum bisa dilakukan,” ujarnya lebih lanjut.

Menurut Yusnah, mereka dapat melakukan semua ritual lain, termasuk wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan melaksanakan ritual rajam di Mina.

Ia melanjutkan, jamaah yang sebelumnya haid dapat melakukan tawaf dan sa’i setelah mereka selesai menstruasi.

“Jika jamaah masih menstruasi dan tidak dapat melakukan keduanya secara tepat waktu sebelum jadwal penerbangan mereka kembali ke Malaysia, tetap ada cara lain untuk menyelesaikan rukun haji,” ujarnya.

Menurutnya, ini dibahas secara rinci dalam modul-modul agama yang telah diberikan kepada jamaah sebelum haji. Misalnya, melibatkan penundaan penerbangan pulang, kembali untuk melakukan tawaf di lain waktu, atau mengikuti praktik mazhab lain seperti membayar dam, dalam kasus ini berkurban seekor unta.

“Ada cara untuk beribadah haji. Tidak ada alasan untuk merasa cemas tentang menstruasi mereka,” katanya.

Saat ditanya tentang meminum pil untuk menekan menstruasi, Yusnah mengatakan itu diperbolehkan tetapi mungkin tidak sepenuhnya efektif. Menurut Yusnah, jamaah perempuan khawatir dan takut karena kurangnya pengetahuan.

“Yang paling penting adalah pengetahuan dan keyakinan pada Allah,” kata dia.

Selain itu, jamaah pria juga sebaiknya berperan dalam membantu menciptakan pemahaman di antara para istri dan anak-anak perempuan mereka. Mereka bisa membelikan mereka buku-buku tentang hal ini atau mengajak menghadiri majelis ilmu.

“Bagaimana pun, semua kasus yang melibatkan menstruasi akan diselesaikan oleh pemandu agama berdasarkan kasus per kasus karena pola dan durasi datang bulan berbeda dari orang ke orang,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY