IITCF Edutrip Nusantara Bakal Jelajahi Miniatur Dunia dan Eropa ala Jawa

0
110

dieng pwtHAJIUMRAHNEWS – Setelah sukses menggelar Educational Trip (Edutrip) Nusantara ke Garut van Java dan negeri Laskar Pelangi Bangka Belitung beberapa waktu lalu, Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) kembali akan mengadakan Edutrip untuk para anggotanya. Edutrip Nusantara kali ini bakal menyambangi kawasan Dieng Wonosobo dan Purwokerto pada 23-26 Agustus 2018 mendatang.

“Selain menggelar Edutrip ke luar negeri, IITCF juga mencoba mengeksplor keindahan Nusantara yang tak kalah menariknya, kali ini kita akan menyambangi kawasan Dieng dan Purwokerto, menikmati miniatur dunia dan Eropa ala Jawa. Program serupa juga pernah IITCF adakan yakni ke Garut dan Bangka Belitung,” kata Chairman IITCF Priyadi Abadi kepada hajiumrahnews.com, di Jakarta, Kamis (2/8).

Seperti biasa, dalam setiap gelaran Edutripnya, IITCF akan memberikan berbagai materi seputar guiding diantaranya, Guiding Technique, Leadership, Ice Breaking, Sharing Destination dan Problem Solving. Selain itu, kata Priyadi, dalam setiap Edutrip, IITCF juga menyelipkan materi kajian-kajian Islami dan aksi sosial berupa kunjungan sekaligus bakti sosial ke pesantren. “Edutrip kali ini kita akan berlangsung selama empat hari tiga malam,” katanya.

“Jadi sesuai nama kegiatannya educational trip, acara ini tidak melullu jalan-jalan, tapi diisi dengan berbagai materi yang menunjang profesionalisme kita di industri pariwisata,” ujar Priyadi menambahkan.

Sementara Project Officer IITCF Edutrip, Nonik Elkandhis menjelaskan, di event bertajuk Goes To Dieng and Purwokerto Educational Trip ini setibanya di Kota Purwokerto jelang subuh, peserta akan diajak ke Masjid Agung Purwokerto untuk shalat Subuh dan sarapan pagi di Hans Resto Sokaraja. Baru setelah itu, peserta akan melakukan city tour Purwokerto,  mengunjungi Baturaden, Pancuran 3, Small World, Caping Park dan The Village.

Terkait Baturaden, Nonik menuturkan ada cerita rakyat Banyumas yakni kisah percintaan terlarang antara majikan (Raden) dan pelayannya (Batur). Singkat ceritanya, keduanya dikutuk menjadi batu. “Patungnya ada di depan Baturaden,” tutur Nonik.

Begitu pula dengan Pancuran 3, bagi masyarakat Banyumas, legenda pancuran (mata air) ini berasal dari tiga kali ketukan tongkat seorang Wali, dimana kala itu daerah Banyumas tengah mengalami kekeringan panjang.

“Setelah seharian city tour, malamnya kita akan mengadakan gala dinner sekaligus temu wicara dan sharing tentang pariwisata bersama Pemkab Purwokerto di hotel tempat menginap,” jelas owner dari Ilhami Group ini.

WhatsApp Image 2018-07-29 at 6.04.03 PMKeesokan harinya, lanjut Nonik, usai santap pagi dan check out hotel, peserta akan melanjutkan perjalanan menuju ke Purbayasa, sebuah aquarium air tawar yang mengoleksi beberapa jenis ikan air tawar yang ada di penjuru dunia. “Mampir sebentar ke Masjid Jami’ Banjarnegara, lalu dilanjut menuju Erorejo – Luweng Sewu untuk hunting sunset danau laut di atas gunung,” kata Nonik.

Lebih jauh Nonik menjelaskan, Luweng Sewu merupakan danau alami yang pada saat airnya surut berubah menjadi danau dan begitu pasang berubah menjadi laut. “Terletak di atas Gunung Wadas Lintang yang dalam bahasa Jawa, wadas berarti batu,” paparnya.

Setelah itu, barulah menuju hotel untuk persiapan hunting golden sunrise di bukit Sikunir yang terletak di desa Sembungan, sebuah desa tertinggi di Pulau Jawa. “Dari atas bukit Sikunir ini, bila beruntung kita akan mendapati lautan awan yang dihiasi cahaya matahari pagi dan pemandangan bukit-bukit pegunungan, serasa bukit teletubbies,” kata Nonik berpromosi.

Destinasi selanjutnya, dari Gununng Sikunir peserta akan diajak menjelajahi kawasan dataran tinggi Dieng. Di kawasan itu terdapat komplek Candi Arjuna, kawah dan telaga. Menurut Nonik, komplek Candi Arjuna merupakan candi peninggalan agama Hindu tertua di dunia, bahkan sebelum adanya Candi Borobudur.  “Sampai saat ini masih digunakan untuk ritual agama Hindu dan Budha,” jelasnya.

WhatsApp Image 2018-07-30 at 3.16.12 PM (1)Sementara kawah yang ada di kawasan Dieng yang terkenal adalah kawah Sikidang. Kawah yang konon bisa melompat-lompat, sehingga dinamai Sikidang. Ada pula kawah Sinila, yang beberapa tahun lampai sekitar 1979, kawah ini pernah menyemburkan gas beracun dan menelan korban meninggal dunia sekitar 150 orang.

Di kawasan ini juga, kata Nonik, terdapat Telaga Warna yang terkenal dengan warna pelanginya apabila terkena sinar matahari. Lalu Telaga Pengilon yang dikenal lantaran saking jernihnya air telaga tersebut. Ada lagi Telaga Menjer, telaga bekas kawah gunung berapi yang kemudian digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menyuplai kebutuhan listrik Jawa-Bali.

“Sore harinya, peserta akan kembali lagi ke hotel untuk istirahat dan pada malam hari menghadiri gala dinner dengan Pemkab Wonosobo,” kata Nonik.

Di hari terakhir, usai santap pagi, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi plantation dan factory trip ke kebun teh Tambi. “Di lokasi ini, kita akan belajar tata cara memetik, mengolah. dan semua pengetahuan tentang teh di kebun Teh Tambi yang merupakan perkebunan peninggalan Belanda,” ujarnya.

Siangnya, lanjut Nonik, kembali ke hotel untuk check out lalu dilanjut menuju ke Masjid Jami’ Banjarnegara untuk sholat, kemudian mengunjungi Meruyung, sebuah pusat batik khas Purwokerto. “Barulah setelah itu, peserta diantar menuju ke stasiun Purwokerto untuk kembali ke Jakarta. Selesai sudah dan sayonara,” kata Nonik.

Penasarankan? Program Edutrip Dieng Purwokerto (4D3N) ini oleh IITCF dibanderol seharga Rp 2.750 juta per orang. Harga tersebut sudah termasuk akomodasi selama trip dan tiket kereta Jakarta Purwokerto (PP). Info lebih lanjut bisa menghubungi Nonik di nomer 08122579373 dan Eddy di nomor 081229500833. (hai)

LEAVE A REPLY