Anda Ingin Naik Haji? Belajarlah dari Tukang Tambal Ban Ini!

0
145
Safuan Azis (64), tukang tambal ban, warga Kelurahan Mangunharjo RT 02 02 Kecamatan Tugu, Kota Semarang Semarang yang akan berangkat haji tahun 2018 ini.
Safuan Azis (64), tukang tambal ban, warga Kelurahan Mangunharjo RT 02/02 Kecamatan Tugu, Kota Semarang yang akan berangkat haji tahun 2018 ini.

Hajiumrahnews – Siapa saja bisa pergi haji, tak perduli apakah ia seorang kuli bangunan, pekerja serabutan ataukah tukang tambal ban. Asalkan, ia punya niat sungguh-sungguh untuk bisa pergi haji dan kemudian dibarengi dengan kerja keras mengumpulkan uangnya. Kelak, niatnya akan bisa tercapai atas izin Allah, meski harus butuh waktu yang panjang.

Kisah ini, sekali lagi, memperlihatkan kepada kita betapa niat yang sungguh-sungguh dan kerja keras untuk bisa pergi haji akhirnya dikabulkan Allah swt.

Sebut saja namanya Safuan Azis (64). Sesungguhnya ia hanyalah seorang tukang tambal ban. Bisa Anda tebak sendiri berapa sih penghasilan dari profesi ini? Katakan saja sekarang 10 ribu per tambal ban, dulu mungkin lebih murah. Jika dalam sehari dapat 5 orderan saja, berarti dia hanya mampu mengumpulkan uang Rp50 ribu/hari. Dengan kebutuhan banyak masa sekarang, uang segitu tentu tidaklah cukup.

Tapi, Safuan tidaklah patah semangat. Meski pekerjaannya bisa dibilang “rendahan”, tapi ia tetap punya niat yang suci agar bisa pergi ke tanah suci. Maka, laki-laki asli warga Kelurahan Mangunharjo RT 02/02 Kecamatan Tugu, Kota Semarang ini mulai mengumpulkan uang untuk bisa pergi haji. Akhirnya, melalui pekerjaan yang tak pernah mengenal lelah dan bertahun-tahun, akhirnya terkumpullah Rp50 juta.

Dengan uang sebesar itu, Safuan pun mendaftar haji untuk dua orang, yakni dirinya dan istrinya bernama Musharofah. Dan setelah menunggu 7 tahun, ia pun akhirnya berangkat. Direncanakan, Safuan dan istri akan berangkat pada tanggal 6 Agustus 2018.

Atas keberhasilannya bisa pergi haji ini, Safuan pun mengingat-ingat soal niatnya dulu ingin pergi haji.

“Sejak 2008, saya dan istri tergerak hati ingin ke Mekah. Saya kumpulkan sedikit demi sedikit dari penghasilan. Yang sering mengumpulkan uang itu isteri saya. Tiap saya kasih katanya ditabung,” cerita dia.

Sejak ia meniatkan menabung untuk pergi haji itu, alhamdulillah rejekinya semakin lancar. Orderan tambal bannya semakin banyak. Apalagi, ia juga menambah penghasilannya dengan menjual bensin eceran. Ditambah istrinya juga bekerja di pabrik. Sehingga dalam waktu 3 tahun, uang sebanyak Rp50 juta itu pun bisa terkumpul yang kemudian dipergunakan untuk mendaftar haji.

Lalu, bagaimana cara melunasinya sehingga bisa berangkat?

“Untuk pelunasan, saya menjual motor hingga sampai terkumpul Rp 36 juta,” ujar kakek tujuh cucu itu.

Kini, Safuan masih bekerja di bengkel, meski sebentar lagi ia akan berangkat. Mungkin, uang itu bisa dipakai untuk tambal modal selama beribadah haji.

Demikian kisah mengharukan tentang bagaimana seorang pekerja rendahan bisa pergi haji. Jika Safuan dan istrinya saja bisa, apalagi seorang pekerja kantoran, pengusaha, pejabat, PNS dan sebagainya.

Jika berpikir soal penghasilan yang terbatas, Safuan pun demikian. Namun, ia tetap bertekad untuk bisa pergi haji.

“Kalau dipikir-pikir penghasilan sama pengeluaran itu minus. Tapi Gusti Allah memanggil saya untuk ke Mekah. Allhamdullilah kami akan berangkat ibadah haji,” pungkas Safuan.

Mungkin kisah Safuan dan tekadnya ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua. Bahwa siapapun bisa pergi haji, asalkan punya niat yang kuat dan kerja keras untuk mewujudkannya.

 

LEAVE A REPLY