Memaknai Haji Mabrur

0
33

kyai anang2SAHABAT Jabir Radhiallahu Anhu (RA) meriwayatkan bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) bersabda: “Haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.” Para sabahat bertanya: Wahai Nabi, apakah yang dimaksud haji mabrur itu? Rasulullah SAW menjawab:  “Memberi makan orang dan menebar salam.” (HR. Ahmad)

Hadis tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang ciri dan sosok haji mabrur yang berpahala surga. Dengan kata lain, haji mabrur bukanlah predikat yang otomatis melekat pada jamaah sepulang dari Tanah Suci. Haji mabrur memiliki ciri dan karakteristik yang harus dipenuhi, yaitu memberi makan orang dan menebar salam.

“Memberi makan orang” bermakna kepedulian dan kepekaan sosial, juga bermakna menyejahterakan, karena “makan” adalah simbol kesejahteraan. Seseorang dikatakan sejahtera hidupnya manakala ia bisa memenuhi kebutuhan makannya.

Dengan demikian, seorang haji harus menunjukkan kepedulian dan kepekaannya terhadap kondisi kemasyarakat di sekelilingnya. Kehadirannya kembali di tengah-tengah masyarakat diharapkan dapat membangkitkan dan menyemangati terwujudnya kesejahteraan bagi lingkungan sekitarnya.

Maka, jika ada seorang haji sepulang dari ibadah di Tanah Suci tidak menunjukkan sikap peduli dan tidak peka sosial, malah menunjukkan sikap acuh, maka hal itu jelas bertentangan dengan yang diajarkan Rasulullah SAW.

Kepulangan mereka ke tanah air setelah haji haruslah melahirkan gerakan-gerakan kemasyarakatan yang bermanfaat. Tengoklah para ulama dan pendahulu-pendahulu bangsa ini, mereka melakukan gerakan-gerakan pemberdayaan sepulang dari Tanah Suci. Misalnya, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari, keduanya mendirikan Muhammadiyah dan NU sepulang dari Tanah Suci.

Dengan kata lain, oleh-oleh dari Mekkah adalah ide, gagasan dan gerakan-gerakan, bukan malah menampakkan kesombongan, ekskusifisme dan membanggakan diri dengan atribut-atribut haji namun tidak berbuat apapun di masyarakat. Itulah ciri pertama orang yang hajinya mabrur: Kepedulian, kepekaan dan kedermawanan!

Ciri kedua adalah “menebar salam”. Yang dimaksud dalam hadis di atas bukan sekedar ‘mengucapkan salam’ (dalam Bahasa Arab disebut ‘ilqo’us salam’) yaitu tindakan menyapa orang lain dengan sapaan salam. Dalam hadis Rasul SAW di atas ditegaskan bukan sekedar mengucapkan salam, melainkan ‘menebar salam’ (ifsya’us salam).

Dalam bahasa Arab ‘salam’ artinya ‘damai’ atau ‘selamat’. Maka, ‘menebar salam’ bermakna menebar kedamaian dan keselamatan. Artinya, kehadiran seorang haji diharapkan mampu membawa suasana kedamaian dan keselamatan. Maka, jika ada seorang haji yang kepulangannya kembali ke tanah air malah membuat ga­duh di masyarakat, atau bahkan membuat suasana lingkungan menjadi tidak nyaman akibat tingkah polah buruk dan kesombongannya, apalagi menebar teror, maka jelas sekali hal demikian itu bertentangan dengan ajaran Rasulullah SAW.

Jangan sampai masyarakat dan lingkungan merasa tidak nyaman hidup bersamanya justru setelah kepulangannya dari ibadah haji! Dengan kata lain, haji mabrur adalah pelopor perdamaian dan persatuan umat; kehadirannya harus mampu merekatkan umat, bukan malah memecah-belah dan apalagi menjadi penghambat kemajuan umat dan menjadi sumber malapetaka bagi masyarakatnya.

Di dalam riwayat lain disebutkan ciri lain dari haji mabrur, yaitu ‘tiibul kalaam’; perkataan yang baik. Maka, sudah sepantasnya seorang haji lisannya menjadi lebih baik; tidak berkata tak senonoh (rafats), menggunjing, apalagi berdusta.

Bukankah saat ihram dilarang rafats (berkata tak senonoh), fusuq (merusak) dan jidal (bertengkar)? Mestinya ketika ihram saja diharuskan menahan diri melakukan ketiganya, maka pasca ihram pun harus mampu melestarikannya. Rafats, fusuq dan jidal bukan saja berlaku saat ihram (ketika sedang beribadah haji), namun spirit dan nilai-nilainya harus mampu diamalkan oleh seorang haji sepanjang hayatnya.

Itulah diantara ciri-ciri dan karakteristik haji mabrur yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW yang harus dipenuhi oleh seorang haji. Jika dicermati, ketiga ciri tersebut hampir semuanya berkonotasi sosial: memberi makan orang, menebar salam dan berkata yang baik.

Jika semua yang telah berhaji mendapatkan kemabrurannya, maka alangkah beruntungnya bangsa Indonesia. Sebab, setiap tahunnya akan lahir orang-orang baru di negeri ini yang siap bergerak menyejahterakan dan mendamaikan masyarakat. Mabrur itu action, jangan sekedar fashion saja! (*)

Kyai Anang Rikza Masyhadi, MA

Pendiir dan Pembina Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah

LEAVE A REPLY