Peristiwa yang Mewarnai Penyelenggaraan Haji dari Masa ke Masa

0
40
Tragedi crane di Mekkah. (foto:ist)
Tragedi crane di Mekkah. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS – Penyelenggaraan haji sebagai sebuah hajatan terakbar di dunia tak pernah lepas dari berbagai peristiwa menarik yang menjadi sorotan dunia. Setidaknya berikut ini beberapa kejadian dari masa ke masa yang mewarnai penyelenggaraan haji yang berhasil dihimpun redaksi hajiumrahnews.com, diantaranya:

11 September 2015

Alat berat berupa crane roboh di Masjidil Haram. Peristiwa jelang magrib ini menelan korban meninggal mencapai setidaknya 107 orang dan luka-luka sebanyak 238 orang.

24 September 2015

Sebanyak 1.800 jamaah haji tewas dan 850 orang luka-luka karena berdesakan di jalan 204 Mina. Lebih dari 100 jamaah haji berasal dari Indonesia.

18 September 2013

Petugas Bandara Muhammad bin Abdul Aziz menyita ribuan obat kuat yang dibawa oleh calon jamaah haji Ngaliman Marzuqi Abdul Latif. Obat-obat itu ditempatkan di dalam 225 boks rokok. Meski tergolong barang legal, jumlah bawaan yang terbilang fantastis ini jelas menyalahi aturan keimigrasian dan kepabeanan

8 Oktober 2010

Seorang perawat petugas Kesehatan haji Indonesia bernama Desi digerebek petugas Daerah Kerja (Daker) Madinah. Petugas Daker curiga karena ada suara tawa laki-laki dan perempuan di sebuah kamar, padahal saat itu waktu shalat Jumat. Setelah digedor, perempuan yang pandai bahasa Arab itu keluar dengan tidak mengenakan jilbab.

Akhirnya dia dideportasi dan diharuskan mengembalikan upah selama bekerja sebagai petugas pelayanan kesehatan haji di Daker Madinah. Dan oleh pemerintah, ia di-black list sehingga tidak akan bisa menjadi petugas haji pada tahun-tahun mendatang.

22 Desember 2007

Seorang jamaah yang mengalami stres berat, Mapaisse asal Kloter 9 Ujung Pandang, Sulawesi Selatan yang melakukan penusukan terhadap tiga jamaah haji lain. Tiga korban penusukan itu yakni, dua orang asal Sulsel dan satu orang India. Para korban adalah Husen Abdul Karim dan Sabarudin Toto asal Sulsel, serta jamaah asal India yang belum diketahui identitasnya.

28 Desember 2006

Saat wukuf jamaah haji Indonesia terlambat mendapat kiriman katering sampai 30 jam, sehingga banyak yang kelaparan.

12 Januari 2006

Insiden Jamarat Mina kembali terjadi saling dorong antar jamaah haji pada saat melempar jumrah dalam rangkaian ibadah haji tahun 2006 di Mina.  Sebanyak 362 orang tewas, dua orang di antaranya warga negara Indonesia

2003

Sebanyak 14 jamaah haji tewas dan ratusan lainnya luka-luka ketika melempar jumrah. Sebanyak 8 jamaah haji Indonesia tewas di Mina, termasuk 3 orang diantaranya Fadiran bin Suyagi (kloter 41 asal Solo), Khaidar Ali bin Abu Khail (kloter 86 Surabaya) dan Ha­f jamaah asal Jakarta. Ketiganya menghembuskan nafas terakhir bersamaan dengan musibah Mina.

2 Juli 1990

Tragedi terowongan Mina Al-Muaisin yang merenggut korban sebanyak 1.426 orang jamaah haji tewas, termasuk 649 jamaah asal Indonesia. Sebagian besar korban akibat kekurangan oksigen, lantaran terkurung dan saling dorong dalam terowongan sempit Al Mu’aisim, yang dilalui oleh ribuan jamaah haji dari dua arah pada waktu yang sama.

15 November 1978

Pesawat DC-8 Icelandic Loftleider dari maskapai penerbangan Eslandia yang mengangkut 249 jamaah haji Indonesia asal Kalimantan Selatan dari Jeddah menuju Surabaya dengan 13 awak dari total 262 penumpang jatuh di wilayah Srilanka. Sebanyak 173 jamaah haji dan 7 awak pesawat tewas, sementara 76 jamaah dinyatakan selamat. Para korban yang wafat dimakamkan di taman makam Pahlawan “Bumi Kencana” Banjar Baru Kalimantan Selatan.

4 Desember 1974

Pesawat Martin Air DC 8 Flight yang dicarter maskapai Garuda Indonesia untuk mengangkut jamaah haji menghantam wilayah perbukitan Tujuh Perawan di Maskeliya, Srilanka. Seluruh 182 penumpang berikut 9 awak pesawat tewas. Sebagian besar jenazah dimakamkan secara massal di Maskeliya, Srilanka. Ada pula sebagian kecil dimakamkan dalam satu peti di halaman Masjid Sunan Ampel, Surabaya.

1930-an

Pemerintah Belanda menjadikan pulau Onrust sebagai asrama haji. Para calon jamaah haji ditempatkan di pulau ini sebagai bagian dari proses adaptasi untuk perjalanan laut. Pemerintah kolonial Belanda termakan isu yang mengatakan bahwa jamaah haji merupakan sumber penyakit pes. Pemerintah Kolonial Belanda membangun karantina haji lantaran takut tertular penyakit pes. Padahal, penyakit pes itu berasal dari beras yang diimpor dari Myanmar.

Di pulau ini, Pemerintah Hindia Belanda membangun karantina haji yang mampu menampung 3.500 orang. Bangunan karantina seperti rumah sakit dan barak terbagi antara pulau Onrust dan pulau Cipir. Namun, pusat karantina berlangsung di pulau Onrust. Para jamaah ini diwajibkan untuk tinggal di pulau Onrust selama 5 hari. Dan, bagi jamaah yang kedapatan mengidap penyakit tertentu maka masa karantina akan lebih lama lagi.

LEAVE A REPLY