UI dan Gaido Group Gelar Pelatihan Menyulap Sampah Jadi Rupiah

0
210
Peneliti senior Fakultas Ekonomi Bisnis UI, Dr. Ir. Nining Soesilo, MA saat menyampaikan sambutan di pembukaan Pelatihan Menyulap Sampah Menjadi Rupiah yang digelar di Kawasan Wisata Halal Baduy Outbound, Serang, Minggu (15/7). (foto:hun)
Peneliti senior Fakultas Ekonomi Bisnis UI, Dr. Ir. Nining Soesilo, MA saat menyampaikan sambutan di pembukaan Pelatihan Menyulap Sampah Menjadi Rupiah yang digelar di Kawasan Wisata Halal Baduy Outbound, Serang, Minggu (15/7). (foto:hun)

HAJIUMRAHNEWS – Universitas Indonesia (UI) melalui Program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) menggandeng Gaido Group lewat anak perusahaannya PT Gaido Global Energi (Gaido Energi) kembali menggelar sosialisasi sekaligus pelatihan “Menyulap Sampah Menjadi Rupiah” bagi masyarakat.

“Sejatinya, sampah pun bisa menghasilkan rupiah, apabila diolah dengan baik. Lewat program Pengabdian Masyarakat inilah, UI dengan Gaido Group memberikan wawasan dan pelatihan bagaimana sampah disulap menjadi rupiah,” kata peneliti senior Fakultas Ekonomi Bisnis UI, Dr. Ir. Nining Soesilo, MA dalam sambutannya di pembukaan Pelatihan Menyulap Sampah Menjadi Rupiah yang digelar di Kawasan Wisata Halal Baduy Outbound, Serang, Minggu (15/7).

Selain Nining, turut hadir menjadi narasumber pada kegiatan ini adalah Ketua Pengmas UI Dr. Rambat Lupiyoadi, ME, Founder dan CEO Gaido Group, Muhammad Hasan Gaido, Presiden Direktur Koperasi Benteng Mikro Indonesia (BMI) Komaruddin Batubara, SE, Direktur PT Gaido Global Energi, Asep Haris dan Founder Composter Project Community Coach Melo.

Pelatihan ini dibagi menjadi tiga sesi, yang pertama terkait motivasi usaha yang dibawakan oleh Muhammad Hasan Gaido. Sesi berikutnya pelatihan socialpreneur (wirausaha sosial) disampaikan Rambat Lupiyoadi dan pelatihan microfinance yang dikupas oleh Komarudin Batubara.

Sesi terakhir yakni terkait pengenalan bisnis sampah dan pengenalan miniatur air lindi sampah yang dibawakan oleh Coach Melo. Program Pengmas untuk kali kedua yang diikuti sebanyak 30 orang ini akan berlangsung dari pagi hingga sore hari.

Peserta pelatihan foto bersama bersama para pembicara usai pelatihan Menyulap Sampah Menjadi Rupiah di Kawasan Wisata Halal Baduy OUtbound, Serang, Minggu, (15/7) (foto; hun)
Peserta pelatihan foto bersama bersama para pembicara usai pelatihan Menyulap Sampah Menjadi Rupiah di Kawasan Wisata Halal Baduy OUtbound, Serang, Minggu, (15/7) (foto; hun)

Saat menyampaikan materi, CEO Gaido Group Muhammad Hasan Gaido menegaskan dalam program ini, Gaido Energi sebagai perusahaan pengolah energi terbarukan mengembangkan teknologi pengolahan sampah yang tadinya bau menjadi tidak bau, yang tadinya identik dikerubuti lalat dan menjadi sumber penyakit bisa menjadi pupuk.

“Lewat alat ini sampah tersebut diproses menjadi air lindi lalu disuling menjadi pupuk organik,” kata Hasan Gaido.

Menurut Hasan Gaido, inilah bentuk kongkrit dari sebuah sinergi antara akademisi, pelaku bisnis, komunitas dan pemerintah. Sinergi ini tidak hanya akan memberi manfaat kepada masyarakat, tapi juga bagi seluruh civitas akademi, pelaku bisnis, maupun pemerintah baik pusat maupun daerah. “Inilah salah satu bukti karya nyata kami yang bersinergi baik pemerintah, akademisi, pelaku bisnis dan masyarakat dalam menangani sampah yang sampai hari ini masih menjadi masalah,” katanya.

Sementara Rambat Loupiyoadi yang mendapat giliran mengupas tentang socialpreneur menyampaikan, selama ini Pengmas UI, dalam menjalankan pengabdiannya kepada masyarakat selalu menggandeng pihak swasta yang memiliki kemampuan di berbabagi bidang. Dan di tahun ini, pihaknya kembali menjatuhkan pilihannya untuk menggandeng Gaido Group lewat unit perusahaannya Gaido Energi yang memiliki kemampuan mengembangkan teknologi tepat guna berupa pengolahan air lindi sampah.

“Kami sangat mengapresiasi teknologi yang dikembangkan Gaido Energi dalam pengolahan sampah, dimana selama ini masih sampah memang menjadi masalah di masyarakat. Oleh Gaido Energi sampah ini disulap menjadi rupiah, ini tentu akan sangat bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Rambat menegaskan, program pengolahan sampah menjadi rupiah yang merupakan kelanjutan dari tahap pertama pada tahun lalu di tempat yang sama. Dalam pelaksanaanya nanti, pihaknya bersama Gaido Group telah  membuat road map program pengolahan sampah yang akan berlangsung selama 4 tahun dengan sejumlah tahapan.

“Salah satu tahapannya adalah pelatihan yang kita adakan kali ini di lokasi yang juga akan dibangun instalasi pengolahan sampah menjadi air lindi yang akan dijadikan sebagai pupuk organik,” katanya.

Direktur Gaido Energi, Asep Haris yang ditemui di tempat yang sama menyampaikan melalui program ini, Gaido Energi bersama UI mencoba berkontribusi mengatasi masalah sampah yang ada di Banten. Gaido Energi sendiri, sebelumnya menerapkan program yang sama di Kabupaten Bandung dalam event Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2017 lalu.

Terkait pengolahan sampah, kata Asep, sebenarnya untuk di wilayah Banten sendiri, Pemprov Banten telah mengeluarkan peraturan daerah (Perda) yakni Perda Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam pelaksanaannya ini, Pemprov dapat bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota, kelompok masyarakat, maupun pihak yang lain. Termasuk dalam melakukan pengawasannya.

“Jika sampah dikelola secara maksimal tidak hanya membuat lingkungan bersih, tapi juga bisa menghasilkan materi, karena sampah bisa didaur ulang, salah satunya menjadi pupuk organik,” kata Asep.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutan Provinsi Banten, M. Husni dalam sambutannya yang diwakili oleh Kabid Lingkungan Hidup menyampaikan mulai sekarang kita harus merubah pola pikir bahwa sampah tidak melulu limbah tapi sampah kini bisa diolah menjadi bernilai ekonomis.

“Hal ini bisa dilakukan asal kita bisa menganut pola 3R, yakni Reduce, Recycle dan Reuse. Dimana masyarakat harus dapat memilah sampah organik dan nonorganik mulai dari rumahtangga. Selain daripada itu, hindari sampah plastik,” katanya. (hai)

LEAVE A REPLY