Kyai Ahmad Maimun Alie, Membentengi Umat dengan Ilmu Agama

0
256
KH Ahmad Maimun Alie, Lc., MA
KH Ahmad Maimun Alie, Lc., MA

HAJIUMRAHNEWS – Dengan teknologi, kehidupan umat serba mudah, namun di balik itu tantangan dakwah makin berat. Sebab, kemudahan akses ke berbagai sumber lewat teknologi informasi, dikhawatirkan malah menyesatkan umat. Karena itu, generasi muda muslim harus dibentengi dengan akidah yang kuat.

Itulah kiranya yang keprihatinan KH Ahmad Maimun Alie, Lc, MA. Karenanya, pria kelahiran Tangerang, 5 Desember 1957 ini terus berupaya sekuat tenaga dalam rangka membentengi umat agar tidak tersesat. Selain tentunya, membekali umat dengan wawasan yang luas, pemahaman agama yang benar dan kepekaan terhadap peristiwa yang terjadi akibat derasnya arus globalisasi.

“Di era globalisasi ini, umat Islam dituntut mempunyai wawasan yang luas, sehingga tidak mudah terbawa arus dan paham yang menyesatkan. Tugas kita adalah membentengi generasi muda dengan ilmu pengetahuan supaya bisa memfilter berbagai informasi yang didapatnya,” kata ulama yang akrab disapa dengan Kyai Maimun, beberapa waktu lalu.

Lewat pondok pesantren yang diasuhnya dan berbagai kegiatan keagamaan, Kyai Maimun kerap menyampaikan beratnya tantangan hidup di akhir zaman. Tak terkecuali bagi pondok pesantren sebagai kawah candradimuka para penerus ulama. Karena, lembaga ini pun baik santri maupun para pengasuhnya tak lepas dari godaan ghazwul fikr (perang pemikiran) lantaran bebasnya akses informasi.

Menurutnya, kondisi ini tentu berbeda dengan zaman sewaktu ia nyantri dulu. Di mana para santri maupun umat kebanyakan selain sederhana, juga lebih patuh dengan apa yang dikatakan kyainya. “Harus diakui, sadar atau tidak, memang dunianya sudah berubah. Tentu dalam membina umat, kita tidak bisa memaksakan seperti apa yang dulu kita alami dulu,” kata lulusan Universitas Madinah ini.

Kyai Ahmad Maimun Alie saat bersama Ketua MUI Pusat Kyai Ma'ruf Amin dan Gubernur Banten Wahidin Halim. (foto:ist)
Kyai Ahmad Maimun Alie saat bersama Ketua MUI Pusat Kyai Ma’ruf Amin dan Gubernur Banten Wahidin Halim. (foto:ist)

Sebelum hijrah ke Madinah untuk kuliah, Kyai Maimun terlebih dulu nyantri sekaligus menempuh pendidikan SMA di Pondok Pesantren Modern Gontor hingga lulus pada 1978. Dan sebelumnya, ia berguru kepada Kyai Abdul Karim di kampung halamannya untuk mempelajari kitab gundul setiap sore.

“Setiap sore di kampung, saya ngaji ke kyai cukup dengan membawa minyak tanah sebotol dan rokok gentong, karena memang belum ada listrik. Baru pagi hari kita pulang untuk sekolah umum. Sekarang pemandangan itu sudah tidak ada,” ujar putra dari almarhum KH Alie Rafiuddin ini.

Usai menamatkan S1 di Madinah, ia terbang ke Paskistan untuk menempuh pendidikan S2 di Universitas Islamabad Pakistan dan lulus pada 1987. Lantaran berpengalaman dalam melayani jamaah haji dan umrah asal Indonesia, ia pun diminta untuk menjadi pembimbing di biro travel. Namun, mantan Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Komisariat Madinah ini bertekad hanya dua tahun bekerja di perusahaan itu.

Pasalnya, ia dan keluarga tengah merintis pendirian pondok di kampung halamannya sebagai upaya membentengi umat. Meski demikian, Kyai Maimun kerap ditunjuk sebagai pembimbing ibadah haji dan umrah oleh beberapa biro travel.

“Alhamdulillah tahun 1990 Pondok Pesantren Subulus Salam berdiri. Mudah-mudahan, pesantren ini menjadi salah satu perhatian kami terhadap kaum muda muslim dalam membentengi mereka dari arus indormasi di era bebas ini,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Subulus Salam, Kresek, Tangerang, Banten ini. (oji)

LEAVE A REPLY