Wasatiyah Islam (2), Savic Ali: Kita Harus Lakukan Social Control

0
38
Diskusi wasatiyah Islam di Aula PGK, Jalan Duren Tiga Raya No.7 Pancoran Jaksel menghadirkan pembicara: Hajriyanto Y Thohari (Ketua DPP Muhammadiyah), Marbawi (Ketua Yayasan Nusadamai), Savic Ali (Direktur NU Online) dan Tauhid Nur Azhar (Dewan Pakar Neurosains Indonesia).
Diskusi wasatiyah Islam di Aula PGK, Jalan Duren Tiga Raya No.7 Pancoran Jaksel menghadirkan pembicara: Hajriyanto Y Thohari (Ketua DPP Muhammadiyah), Marbawi (Ketua Yayasan Nusadamai), Savic Ali (Direktur NU Online) dan Tauhid Nur Azhar (Dewan Pakar Neurosains Indonesia).

Hajiumrahnews – Islam wasatiyah atau wasatiyah Islam disebut juga sebagai Islam moderat. Dalam KTT Ulama dan Cendekiawan Islam Dunia pada 1-3 Mei 2018 di Bogor disepakati bahwa tujuh nilai utama wasatiyah Islam, yaitu: tawassut (berada pada posisi jalur tengah dan lurus), i’tidal (berperilaku proporsional dan adil serta bertanggung jawab), tasamuh (mengakui dan menghormati perbedaan dalam semua aspek kehidupan), syura(bersandar pada konsultasi dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah untuk mencapai konsensus), islah (terlibat dalam tindakan yang reformatif dan konstruktif untuk kebaikan bersama), qudwah (melahirkan inisiatif yang mulia dan memimpin untuk kesejahteraan manusia), dan muwatonah (mengakui negara bangsa dan menghormati kewarganegaraan).

Wasatiyah Islam ini perlu terus dikembangkan dan disuarakan di tengah gempuran radikalisasi atau fundamentalisme Islam yang kini mulai menjalar ke anak-anak remaja dan muda di hampir seluruh dunia, tidak saja di negara-negara Islam. Jangan sampai nilai-nilai wasatiyah Islam di atas semakin terkikis dan tergeser karena diambil alih perannya oleh sekelompok orang yang menyebarkan kebencian dan permusuhan atas nama agama (fundamentalisme Islam).

Salah satu cara untuk melawan fundamentalisme atau radikalisasi Islam ini adalah melalui media sosial. Sebab, cara ini pula yang mereka lakukan untuk mempengaruhi anak-anak remaja dan muda untuk menjadi radikal dan fundamental. Kita yang masuk dalam kelompok wasatiyah Islam harus aktif mengisi konten-konten positif (Islam moderat) di media sosial. Kita harus menjemput bola dan meramaikannya, bukan menunggu.

Inilah salah satu point penting yang mengemuka dalam diskusi “Strategi Mempromosikan Wasatiyah Islam Lewat Diplomasi Media Sosial” di Aula PGK, Jalan Duren Tiga Raya No.7 Pancoran, Jakarta Selatan (Selasa, 26 Juni 2018). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Komunikonten ini menghadirkan beberapa pembicara yang cukup familiar di telinga kita dalam mengembangkan nilai-nilai wasatiyah Islam, yaitu: Hajriyanto Y Thohari (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2020 dan Wakil Ketua MPR 2004-2019), Marbawi (Ketua Yayasan Nusadamai dan Ketua Umum GNKRI), Savic Ali (Direktur Pemberitaan Nahdlatul Ulama Online dan Pendiri islami.co), dan Tauhid Nur Azhar (Dewan Pakar Neurosains Indonesia, dosen fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung dan C-Gen Indonesia). Acara ini dimoderatori oleh Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten.

Menurut Savic Ali, direktur pemberitaan Nahdlatul Ulama dan pendiri islami.co, sekarang ini kita hidup di “era kebencian”.

“Penyebabnya bisa faktor interest, bisa juga ideologi,” ujar Savic Ali yang tampil sebagai pembicara pertama.

Faktor interest atau karena adanya kepentingan, kata Savic, bisa menyebabkan seseorang menjadi benci terhadap orang lain. Misalnya, kenapa orang benci pada isu atau berita tentang para pekerja Cina yang akan datang ke Indonesia?

“Salah satunya, karena para pekerja di sini (Indonesia) khawatir akan kehilangan pekerjaannya,” jelas Savic.

Jadi, karena adanya kepentingan sehingga menyebabkan mereka benci terhadap orang lain. Selain itu, adanya faktor ideologi.

“Setelah Etiopia dan Senegal, Indonesia adalah negara yang masyarakatnya masih menganggap agama sebagai hal yang paling penting dalam hidup mereka,” ujar Savic lebih lanjut.

Sehingga, kata Savic, jika ada hal-hal yang bertentangan dengan ideologi (agama) mereka, mereka akan dibenci. Sebab, mereka tidak lagi menjadi golongannya. Karena itu, mereka lalu dicap kafir, sesat dan sebagainya.

“Faktor ideologi yang sempit inilah yang cukup berbahaya jika tidak direm,” ujar Savic.

Karena itu, kata Savic, terhadap mereka kita tidak boleh kendor. Kita harus bergerak.

“Ibarat seorang striker sepakbola, jika tak ada yang menghadang, ia akan terus ke depan menggiring bola dan lalu mencetak gol,” jelas Savic.

Demikianlah posisi kita terhadap kaum radikalis ini.

“Jangan didiamkan pada orang-orang radikal,” ujarnya.

Sebab, kata Savic, orang-orang radikal ini biasanya amat percaya diri. Mereka begitu percaya diri melakukan postingan-postingan negatif di media sosial. Karena itu, kita harus lakukan social control terhadap mereka.

“Setidaknya, dengan dikontrol mereka akan menjadi tahu, oh ternyata ada orang yang tak sepaham dengan dirinya. Dengan begitu, rasa percaya dirinya akan menjadi terganggu,” pungkas Savic. (Eep)

LEAVE A REPLY