Kisah Teladan : Salim bin Abdullah yang Zuhud dan Kharisma

0
24
ilustrasi. (foto:ist)
ilustrasi. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS – Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab memang paling mirip dengan kakeknya, Umar bin Khaththab. Baik bentuk fisik, akhlak, agama dan kharismanya. Meski tinggal di kota Thaibah Madinah yang makmur, di bawah khalifah Bani Umayah, tak lantas membuat Salim terpikat dengan harta seperti yang lainnya.

Ia dikenal manusia zuhud, tawadu, namun tetap memiliki kewibawaan di semua kalangan. Termasuk kalangan khalifah Bani Umayah yang tak terhitung ingin memberikan hadiah berbagai kenikmatan, tapi selalu ditolak olehnya.

Suatu ketika, khalifah Sulaiman tengah menunaikan ibadah haji. Di saat melakukan thawaf, ia melihat sosok Salim bin Abdullah tengah bersimpuh di depan Ka’bah. Tampak sosok manusia zuhud itu tengah membaca Al-Quran dengan tartil dan begitu khusyu’nya. Usai menyelesaikan thawaf dan shalat dua rakaat, sang khalifah menghampiri Salim. Namun sepertinya Salim tidak menghiraukan kehadiranya, lantaran hanyut dalam tilawah dan dzikirnya.

Rupanya khalifah memperhatikan Salim rela menungguinya hingga berhenti sejenak dari bacaan dan tangisnya. Ketika ada peluang, khalifah segera memberi salam, lalu Salim pun membalasnya. Mendapat respon, khalifah pun berkata, “Katakanlah apa yang menjadi kebutuhan Anda wahai Abu Umar, saya akan memenuhinya.”

Setelah ditunggu, tak ada jawaban. Sambil merapat, khalifah mengulangi pertanyaanya. Salim pun menjawab, “Demi Allah, aku malu mengatakannya. Bagaimana mungkin, aku sedang berada di rumah-Nya, tetapi meminta kepada selain Dia?” Mendengar jawaban itu, khalifah terdiam malu, tapi ia tak beranjak dari tempat duduknya.

Ketika hendak pulang, orang-orang mengerumuni Salim untuk bertanya tentang hadis ini dan itu, atau meminta fatwa tentang urusan agama. Ada pula yang meminta untuk didoakan. Rupanya, khalifah Sulaiman pun tak mau menyerah, ia termasuk orang yang ada di kerumunan itu. Begitu mengetahui hal tersebut, orang-orang menepi untuk memberinya jalan kepada khalifah agar bisa mendekati Salim.

Kesempatan itu dimanfaatkan khalifah untuk menanyakan, “Sekarang kita sudah berada di luar masjid, maka katakanlah kebutuhan Anda agar saya dapat membantu Anda.” Salim menjawab, “Dari kebutuhan dunia atau akhirat?”

Lalu Khalifah pun berkata, “Tentunya dari kebutuhan dunia.” Dengan enteng Salim menjawab, “Saya tidak meminta kebutuhan dunia kepada yang memilikinya (Allah), bagaimana saya meminta kepada yang bukan pemiliknya?”

Lagi-lagi Khalifah dibuat malu dengan jawaban tersebut. Ia pun berlalu sambil bergumam, “Alangkah mulianya kalian dengan zuhud dan takwa wahai keturunan al-Khaththab, alangkah kayanya kalian dengan Allah Subhanahu wata’ala. Semoga Allah Subhanahu wata’ala (SWT) memberkahi kalian sekeluarga.”

Itulah secuil kisah perjalanan hidup Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab saat bersinggungan dengan penguasa. Dan di tahun 106H, Salim wafat, kota Madinah pun dirundung duka cita yang mendalam. Umat Islam hadir untuk mengantar jenazah dan menyaksikan pemakamannya. (hai)

(Dinukil dari buku Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009)

LEAVE A REPLY