Kisah Teladan: Kilab bin Umayyah Baktinya kepada Orang Tua

0
69
ilustrasi (foto:ist)
ilustrasi (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS – Baktinya pada kedua orang tua nyaris tak diragukan lagi. Betapa tidak, saban pagi dan petang, ia menyiapkan susu untuk kedua orangtuanya. Namanya pun begitu dikenal di kalangan para sahabat Rasulullah. Suatu ketika, ia dianggap memilih jalan yang keliru.

Dialah Kilab bin Umayyah bin Askar. Sosok lelaki yang memiliki ayah dan ibu yang sudah tua renta. Suatu hari datanglah dua orang menemuinya untuk mengajaknya pergi berberang. Rupanya, Kilab setuju dengan ajakan itu. Tanpa pikir panjang ia membeli seorang hamba sahaya untuk menggantikan tugasnya selama ini. Kilab pun pergi berjihad.

Suatu malam, hamba sahaya itu hendak mengantarkan susu untuk kedua orangtua Kilab, namun keduanya masih tidur. Setelah menunggu, keduanya terbangun. Kemudian bapak Kilab yang buta itu menceritakan apa yang terjadi pada putranya kepada hamba sahaya itu.

“Dua orang telah memohon kepada Kilab. Keduanya telah bersalah dan merugi. Kamu meninggalkan bapakmu yang kedua tangannya gemetar, dan ibumu tidak bisa minum dengan nikmat. Jika merpati itu bersuara di lembah Waj karena telur-telurnya, kedunya mengingat Kilab. Dia didatangi oleh dua orang yang membujuknya. Wahai hamba-hamba Allah, sungguh keduanya telah durhaka dan merugi. Aku memanggilnya lalu dia berpaling dengan menolak. Maka dia tidak berbuat yang benar. Sesungguhnya ketika kamu mencari pahala selain dari berbakti kepadaku, hal itu seperti pencari air yang memburu fatamorgana. Apakah ada kebaikan setelah menyia-nyiakan kedua orang tua? Demi bapak Kilab, perbuatannya tidak dibenarkan.”

Selaku Amiril Mukminin, Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu ketika ada orang luar yang datang ke Madinah, selalu menanyakan tentang berita dan keadaan mereka. Rupanya seseorang dari Thaif menjawab apa yang ditanya sang Khalifah, bahwa ia melihat seorang laki-laki menyebut ucapan seperti yang dikatakan bapaknya Kilab. Mendengar jawaban itu, Umar pun menangis dan berkata, “Sungguh Kilab mengambil langkah yang keliru.”

Kemudian suatu hari, Umaiyah bin Askar ayah dari Kilab menemui Umar di masjid. Dia mengatakan, “Aku dicela. Kamu telah mencelaku tiada batas, dan kamu tidak tahu penderitaan yang kurasakan. Jika kamu mencelaku, maka kembalikanlah Kilab manakala dia berangkat ke Irak. Tidak, demi bapakmu, cintaku kepadamu tidaklah usang. Begitu pula harapanku dan kerinduanku kepadamu. Seandainya kerinduan yang mendalam membelah hati, niscaya hatiku telah terbelah karena kerinduan kepadanya. Aku akan mengadukan al-Faruq kepada Tuhannya yang telah menggiring jamaah haji ke tanah berbatu hitam. Sesungguhnya al-Faruq tidak memanggil Kilab untuk pulang kepada dua orang tua yang sedang kebingungan.”

Mendengar omongan Umayyah bin Askar yang memang buta itu, Umar menangis. Lalu ia menulis surat yang ditujukan kepada Abu Musa al-Asy’ari agar memulangkan Kilab ke Madinah. Setelah surat itu sampai ke tangan Abu Musa, ia pun segera memanggil Kilab dan berkata, “Temuilah Amirul Mukminin Umar bin Khattab.”

Mendapat perintah seperti itu, Kilab kebingungan. “Aku tidak melakukan kesalahan, tidak pula melindungi orang yang bersalah.” Abu Musa berkata, “Pergilah!”

Akhirnya Kilab pun pulang ke Madinah dan menemui Umar bin Khattab. Dalam pertemuan itu Umar bertanya, “Sejauh mana kamu berbuat baik kepada orang tuamu?”

Kilab menjawab, “Aku selalu mementingkannya dengan mencukupi kebutuhannya. Jika aku hendak memerah susu untuknya, maka aku memilih onta betina yang paling gemuk, paling sehat dan paling banyak susunya.”

Kemudian Kilab diminta untuk memerah susu onta untuk bapaknya, seperti yang biasa ia lakukan. Setelah tersedia, Umar pun menyerahkan gelas susu itu kepada bapaknya Kilab. Ketika Ummayah mendekatkan gelas ke mulutnya, dia berkata, “Demi Allah, aku mencium bau kedua tangan Kilab.”

Umar pun mengatakan, “Ini Kilab, dia ada di sini. Kami yang menyuruhnya pulang.” Para sahabat yang hadir menangis. Mereka berkata, “Wahai Kilab, temani kedua orang tuamu.” Maka sejak saat itu, Kilab pun tidak pernah lagi meninggalkan mereka sampai wafat. (hai)

LEAVE A REPLY