Kisah Teladan: Pahala Haji Mabrur untuk Tukang Sol Sepatu

0
100
Kabah Masjidil Haram. (foto:ist)
Kabah Masjidil Haram. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS – Suatu ketika, dalam keadaan fisik yang lelah, Abdullah bin Mubarak tertidur di lantai Masjidil Haram. Ulama zuhud ternama yang hidup di era pemerintahan Bani Abbasiyah ini bermimpi didatangi dua malaikat. Dalam mimpinya, ia mendengar dialog kedua malaikat itu.

“Berapa jumlah kaum muslim yang menunaikan haji tahun ini?” tanya salah satu malaikat.

“Ada 600 ribu orang,” jawab yang satunya.

“Lalu berapa orang yang hajinya diterima Allah?”

“Tidak seorang pun. Tapi, ada seorang lelaki bernama Muwaffaq dari Damaskus yang hajinya diterima oleh Allah. Bahkan berkat ibadahnya itu menyebabkan haji kaum muslim diterima Allah,” jawab malaikat yang ditanya.

Begitu terbangun, Abdullah bin Mubarak mencari orang bernama Muwaffaq. Ternyata Muwaffaq adalah seorang lelaki tukang sol sepatu yang bertahun-tahun mengumpulkan uang untuk bekal menunaikan ibadah haji.

Suatu saat, istrinya minta dibelikan makanan. Tak sulit bagi Muwaffaq menemukan makanan yang diminta istrinya. Ketika hendak pulang, Muwaffaq tertarik dengan kepulan asap yang keluar dari dapur rumah seorang tetangganya. Setelah mengucap salam, Muwaffaq masuk ke rumah itu. Apa yang didapatinya?

Seorang perempuan tua dan beberapa anak yatim sedang memasak daging keledai. Menurut perempuan tua itu, yang ia masak adalah bangkai keledai. Ia terpaksa melakukannya karena telah beberapa hari tak ada yang bisa dimakan. Betapa terkejutnya Muwaffaq mendengar penuturan perempuan tua itu. Ia pun segera pulang menemui istrinya.

Sesampainya di rumah, didapatinya sang istri tak bernafsu lagi dengan makanan yang dicari suaminya itu. Muwaffaq gembira dan lantas menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya. Akhirnya keduanya sepakat menyerahkan tabungan berjumlah 300 dirham yang semula mau digunakan sebagai bekal haji kepada perempuan tua yang menanggung beberapa anak yatim itu.

“Aku telah menunaikan ibadah haji di depan rumahku,” ucap Muwaffaq kemudian sambil menengadahkan kedua tangannya ke langit.

Kisah tersebut mengajarkan kepada kita, bahwa dalam Islam, pahala tak bisa dinilai semata secara kuantitas, tapi juga harus memperhatikan kualitasnya. Secara kualitas, mereka yang berangkat ke Tanah Suci, melakukan thawaf, sa’i, wukuf di Arafah dan rangkaian ibadah haji lainnya, tentu lebih besar dibandingkan orang yang cuma memberi makan tetangganya. Tapi, dalam kisah di atas, Muwaffaq baru pertama kali ingin berhaji. Bagaimana dengan mereka yang sudah berulang-ulang?

Imam Al-Ghazali dalam karya kitabnya, Ihya’ Ulumuddin dengan keras mengritik para haji, baik yang melakukannya untuk kali pertama, maupun yang ingin mengulanginya.

Jadi, berhaji cukup sekali. Kalaupun menunaikan ibadah haji berkali-kali hanya terbilang sunnah –yang mungkin akan lebih afdhal kalau biayanya dimanfaatkan untuk menyantuni fakir miskin dan yatim-piatu. Pun andai saja haji boleh dilakukan berkali-kali tentu sudah dikerjakan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Nyatanya, Nabiyullah Muhammad sendiri hanya sekali melaksanakan ibadah haji yaitu pada tahun ke 10 hijriyah –yang dikenal dengan istilah haji wada’— karena setelah itu beliau wafat.

Dan para sahabat juga tak memfokuskan diri untuk berhaji saban tahun. Mereka cukup melaksanakan umrah. Dan bila mereka rindu kepada Rasulullah maka mereka berziarah ke makam beliau di Masjid Nabawi di Madinah. Semoga kisah tersebut bisa menjadi renungan bagi kita semua. Semoga (hai)

LEAVE A REPLY