Makna Silaturahim

0
30
Kyai Anang bersama Pangdam Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto. (foto:arm)
Kyai Anang bersama Pangdam Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto. (foto:arm)

SILATURAHIM dalam ajaran Islam termasuk tema penting. Banyak ayat Al-Quran, Hadis maupun pendapat sahabat dan ulama-ulama terdahulu dan kini yang menegaskan pentingnya silaturahim.

Saya ingin kutipkan salah satu Hadis Qudsi terkait keutamaan silaturahim ini. Dalam Hadis Qudsi disebutkan bahwa Allah SWT, yang artinya : “Aku-lah Allah, dan Aku-lah Ar-Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku ambilkan dari Nama-Ku. Maka, barangsiapa menyambung rahim-rahim itu Aku pun akan menyambungkan Diri-Ku dengannya, dan barangsiapa yang memutuskannya maka Aku pun akan memutuskan hubungan dengannya.”

Rahim itu organ tubuh manusia, ada pada ibu-ibu. Tidak ada organ tubuh manusia yang namanya diambilkan dari salah satu Nama-nama Suci Allah (Asmaul Husna), kecuali rahim. Baik dalam bahasa Arab maupun Indonesia, coba dicek: mata bahasa Arabnya; ain, tidak ada kaitannya dengan Asmaul Husna. Telinga = udzun; tangan = yad; kaki = rijl, dan lain sebagainya tidak ada kaitannya dengan Asmaul Husna. Tapi, rahim jelas-jelas diambilkan dari Asmaul Husna: Rahiim; artinya Allah Yang Maha Penyayang.

Rahim itu fungsinya apa? Menaruh janin. Sedangkan janin akan tumbuh menjadi manusia, dan manusialah yang melahirkan peradaban dunia. Jadi, dari rahim ibu itulah peradaban manusia ini bermula. Padahal peradaban manusia itulah salah satu misi Allah dalam penciptaan manusia (khalifah di muka bumi).

Maka, ibu-ibu ini hakekatnya tiap saat kemana-mana menggendong Asmaul Husna, karena melekat dalam dirinya sebuah organ yang diambilkan dari sempilan Nama Suci Allah: Ar-Rahiim, Yang Maha Penyayang. Maka, peradaban manusia yang bermula dari rahim para ibu haruslah diliputi oleh suasana saling cinta, kasih dan sayang. Bukan peradaban yang dibangun melalui kebencian dan apalagi pertumpahan darah.

Maka, bisa dipahami pula mengapa dalam Islam pernikahan itu bersifat sakral (sangat suci). Bayangkan hanya dengan ijab qobul yang hanya berupa kalimat pendek antara wali nikah perempuan dengan pengantin pria, maka sejak itu resmi sah dan dinyatakan halal semuanya. Padahal sebelumnya haram semua. Simpel sekali proses dari haram ke halal.

Mengapa pernikahan menjadi sangat sakral dan harus melibatkan Allah di situ, sebab hasil dari pernikahan yaitu benih janin akan disimpan di suatu organ yang menggunakan Asmaul Husna. Ini tidak main-main.

Dari sini bisa dipahami pula mengapa Islam sangat menolak keras perzinahan dan pelacuran. Sebab, perzinahan itu akan menodai Asmaul Husna yang sangat sakral. Apakah rahim yang menggunakan Asmaul Husna digunakan untuk menaruh barang haram? Saya katakan dimana-mana: jangan sampai rahim yang dipinjami dengan Nama Suci Allah menjadi ‘tempat sampah’.

Masih terkait dengan silaturahim. Ada beberapa Hadis Nabi yang menyatakan bahwa silaturahim dapat memperluas rezeki dan memperpanjang umur. Apakah yang dimaksud adalah bahwa orang yang sering silaturahim matinya jadi tertunda?

Dalam bahasa Arab, ada perbedaan antara usia dan umur. Usia adalah sinnun, sedangkan umur adalah umrun. Untuk sinnun artinya usia biologis, yaitu usia kronologis dari lahir sampai hari ini. Sinnun juga berarti gigi, karena diantara tanda pertumbuhan manusia adalah gigi.

“Berapakah usiamu?” dalam bahasa Arab: “kam sinnuka?” Maka jawabannya bisa 50 tahun, 60 tahun dan seterusnya.

Sedangkan umrun satu akar kata dengan imaroh (bangunan); ta’mir (memakmurkan). Jadi, umur bermakna usia produktif, yang bermanfaat dan  yang menghasilkan karya (imaroh = bangunan).

Ada anak muda, tapi umurnya melampaui usianya, karena produktifitas dan karyanya yang besar bagi masyarakat. Namun, ada pula orang tua tetapi umurnya masih muda, karena karyanya baru sedikit di masyarakat.

Jadi, umur tidak dilihat dari tua muda usianya, akan tetapi dari karya dan kemanfaatan hidupnya bagi masyarakat. Maka, berdoalah minta dipanjangkan umur, bukan sekedar dipanjangkan usia. Jika usia sudah pasti kapan mati, tidak ada yang bisa memajukan atau menundanya sedetik pun. Usia, jika jatuh tempo besok mati, maka matilah dengan berbagai sebab. Namum, jika jatuh temponya masih 10 tahun lagi, misalnya, maka menunggulah sampai 10 tahun lagi, meskipun sudah sakit-sakitan tapi jika belum saatnya mati tidak akan mati.

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 34)

Maka, mintalah kepada Allah supaya usia yang diberikan kepada kita bisa produktif, bisa bermanfaat sebanyak-banyaknya dan menghasilkan karya monumental untuk masyarakat. Buat apa minta usia panjang jika hanya akan menambah tumpukan noda dan dosa, bikin susah di akhirat dan siksa tambah berat. Jadi, bukan soal panjang pendeknya usia, tapi seberapa manfaatkah usia itu. Itulah umur.

RasululLaah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) usianya cuma 63 tahun, tetapi umurnya abadi hingga hari ini. Karena masih banyak orang menyebut namanya, menirukan ucapannya, dan juga meneladani perilakunya. Bayangkan, mana ada orang sudah wafat 1400 tahun lalu tetapi kata-katanya masih dihafal persis seperti saat masih hidup.

Para pahlawan kita umurnya panjang karena Republik ini adalah karyanya. Soekarno Hatta masih disebut, dikenang, dan namanya abadi karena keduanya adalah proklamator kemerdekaan Republik ini. Sama halnya dengan Pangeran Diponegoro, yang diabadikan menjadi nama kesatuan TNI Jawa Tengah, umurnya panjang karena berdirinya Republik ini ada peran besar Pangeran Diponegoro di dalamnya.

Contou lain: KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari secara usia keduanya telah wafat. Namun sesungguhnya kedua ulama besar itu umurnya panjang, karena Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama adalah karya monumentalnya yang hingga kini masih terus memberi kontribusi dan manfaat kepada umat.

Maka dari itu, teruslah berbuat dan berkarya untuk memberi manfaat sebaik mungkin dan kepada sebanyak mungkin orang. Harga diri, martabat dan nilai seseorang diukur dari seberapa banyak kebaikan yang telah dilakukannya.

Jangan sampai kita hidup di dunia ini hanya menghabiskan jatah usia; hanya menunggu pergantian hari demi hari. Maka, berkaryalah sebelum habis masamu. Berkaryalah supaya umurmu panjang.

Berkaryalah karena karya itulah yang akan dinilai oleh Allah ketika kita berada di liang lahat maupun saat Hari Perhitungan. “Jika seorang manusia mati, maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Bukhari Muslim)

Kyai Anang Rikza Masyhadi, MA

Pendiri sekaligus pembina Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah

Materi di tulis di Serang, Banten, pada 17 Juni 2018 (3 Syawal 1439H)

LEAVE A REPLY