Seorang Pria Bunuh Diri di Masjidil Haram, Ini Pendapat Ahli

0
111

8486385_201806100232310033

Hajiumrahnews – Jamaah haji dan umrah yang sedang berada di sekitar Kabah dikejutkan dengan suara dentuman keras ke arah lantai Masjidil Haram. Ternyata, itu adalah suara benturan seorang yang melakukan bunuh diri dari lantai tiga, tepatnya atap mataf.

“Ada seorang warga negara asing yang loncat dari atap Masjidil Haram,” kata kepolisian Arab Saudi, yang dikutip kantor berita resmi Arab Saudi, Saudi Press Agency (SPA).

Peristiwa yang terjadi pada hari Jumat, 8 Juni 2018 habis Isya pukul 21.20 waktu setempat ini tentu saja mengejutkan banyak orang karena satu kejadian yang amat langka. Setelah dicek, ternyata pria yang melakukan bunuh diri tersebut adalah warna negara Prancis.

Menurut situs berita Life in Saudi Arabia.net, pria tersebut bernama Azzouz Boutabba. Dilaporkan pria itu tewas di lokasi kejadian dan jasadnya kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Kementerian luar negeri Prancis membenarkan bahwa pria yang melakukan bunuh diri di Masjidil Haram adalah warga negara Prancis, seperti dilaporkan kantor berita AFP. Namun demikian, pejabat Kemenlu Prancis itu tidak memberikan rincian tentang jati diri pelaku bunuh diri tersebut.

Sejumlah laporan yang belum bisa diverifikasi kebenarannya menyebutkan pria itu berusia 26 tahun (ada yang menyebutkan 35 tahun).Tindakan bunuh diri ini sempat terekam video dan kemudian diunggah ke media sosial dan menyebar luas.

Insiden Langkah

Dilaporkan bahwa jenazah pria itu dilarikan ke rumah sakit untuk “mengetahui identitas korban dan penyebab kenapa melakukan bunuh diri”, ungkap SPA.

Kepolisian Arab Saudi mengatakan pihaknya juga tengah menyelidiki bagaimana pria itu menaiki pagar besi di atap bangunan masjid itu sebelum akhirnya meloncat.

“Penyelidikan masih berlangsung,” kata pejabat kepolisian Saudi.

Aksi bunuh diri ini, yang merupakan insiden langka di Mekkah, bukanlah yang pertama kali terjadi di kota suci tersebut. Tahun lalu, seorang pria Arab Saudi mencoba membakar diri di depan Ka’bah, tetapi aksinya kemudian dihentikan oleh petugas keamanan.

Hotel Menginap

Menurut situs berita Life in Saudi Arabia.net, Azzouz Boutabba masuk ke Arab Saudi pada 3 Juni 2018. Ia datang ke Mekah untuk menjalankan ibadah umrah.

Awalnya, pihak keamanan menduga kalau pelaku berkebangsaan Pakistan. Sebab, saat peristiwa ini terjadi ia mengenakan pakaian tradisional Pakistan atau disebut dengan Salwar Kameez.

“Namun semua spekulasi itu salah,” tulis Life in Saudi Arabia.net.

Kendati terdeteksi masuk ke Arab Saudi pada 3 Juni 2018 atau hanya lima hari sebelum kematiannya, data di pemerintahan setempat menyebutkan, Boutobba direncanakan masuk ke negeri itu pada 15 Juni 2018. Ia lebih cepat 12 hari dari rencana semula.

Batoubba sudah memesan hotel di Mekah dan Madinah selama lima hari. Di paspornya disebutkan Batoubba merupakan kelahiran 8 Juni 1992 dengan nomor paspor 18AF93802.

“Dia masuk ke Arab Saudi melalui bandar udara internasional Pangeran Mohammed bin Abdul Aziz di Madinah menggunakan visa umrah berlaku selama 30 hari,” tulis Life in Saudi.net lebih lanjut.

Data lain juga menyebutkan, selama di Madinah, Boutabba menginap sehari pada 15 Juni 2018 di Manazil al-Darra. Sedangkan di Mekah, dia rencananya tinggal di Hotel Anan al Aziziah selama empat hari pada 16 Juni-19 Juni 2018. Mengenai alasan mengapa Baoutabba bunuh diri belum terungkap. Petugas kepolisian Arab Saudi masih melakukan investigasi atas aksi nekadnya.

seorang-pria-bunuh-diri_20180609_175841

Pendapat Ahli

Peristiwa bunuh diri di Masjidil Haram tersebut memunculkan pertanyaan di benak kita? Apa yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan konyol tersebut?

Asisten profesor di Konseling Kesehatan Mental Klinis Argosy University Atlanta, dr. Melinda Paige, mengatakan bahwa banyaknya pemberitaan bunuh diri dapat mengembalikan perasaan-perasaan putus asa juga kesedihan yang mereka alami. Tidak hanya kesedihan, katanya dikutip dari Bustle, rasa marah juga dapat muncul.

Maka, menghindari atau berhenti melihat pemberitaan terkait bunuh diri di media merupakan langkah awal yang bisa dilakukan.

“Depresi adalah penyakit mental yang serius. Jika seseorang mengalaminya dan media menjadi pemicu tindakan lebih ekstrem, penting untuk berhenti melihatnya,” ucap Melinda kepada Bustle.

Meniru tindakan bunuh diri menjadi kekhawatiran bagi para ahli. Orang tidak hanya meniru perilaku yang mereka lihat di berita. Pemberitaan tentang bunuh diri sering mengingatkan orang-orang tentang kesepian atau depresi diri mereka sendiri.

Namun, selain berhenti ‘melahap’ berita terkait bunuh diri di media, jangan lupakan untuk menjangkau diri terhadap orang lain. Apa pun yang dapat Anda lakukan untuk menjangkau dan mengungkapkan penderitaan Anda agar didengar, sangatlah penting. Bangun terus koneksi dengan teman, keluarga, kekasih atau komunitas Anda. Peningkatan dalam merawat diri juga bisa sangat membantu untuk menenangkan pikiran Anda.

Kemudian, jika Anda khawatir tentang seseorang yang Anda sayangi dengan masalah depresi, selalu tanyakan bagaimana keadaan mereka. Lalu, dengarkan jawabannya. Jangan memberikan saran atau bahkan mengabaikannya. Karena banyak sekali yang semakin terpuruk saat mereka berusaha menceritakan masalahnya, namun dipandang remeh orang lain. (Eep)

 

 

 

LEAVE A REPLY