Malam Lailatul Qadar Tahun Ini Jatuh Pada Tanggal 25 Ramadan

0
177
Berdasarkan analisa Imam Al-Ghazali, malam lailatur qadar tahun 2018 jatuh pada 25 Ramadan
Berdasarkan analisa Imam Al-Ghazali, malam lailatur qadar tahun 2018 jatuh pada 25 Ramadan

Hajiumrahnews – Salah satu momen penting dalam bulan Ramadan adalah adanya malam lailatul qadar. Disebut juga malam seribun bulan, malam ini akan memberikan jaminan pengampunan bagi mereka yang mendapatkannya.

Namun, mungkin saja Anda masih bertanya-tanya, kapan datangnya malam lailatul qadar?

Imam Ghazali dan sejumlah ulama, seperti dikutip situs resmi Nahdlatul Ulama (NU), melakukan “penelitian” untuk menemukan lailatul qadar.

Dari penelitian berdasarkan pengalaman mereka itu, didapatkan formula malam keberapa lailatul qadar yang ternyata berulang menurut malam jatuhnya Ramadan.

* Jika hari pertama Ramadan jatuh pada malam Ahad atau Rabu maka lailatul qadar jatuh pada malam tanggal 29 Ramadan

* Jika malam pertama jatuh pada Senin maka lailatul qadar jatuh pada malam 21 Ramadan

* Jika malam pertama jatuh pada Kamis maka lailatul qadar jatuh pada malam 25 Ramadan

* Jika malam pertama jatuh pada malam Sabtu maka lailatul qadar jatuh pada malam 23 Ramadan

* Jika malam pertama jatuh pada Selasa atau Jumat maka lailatul qadar jatuh pada malam 27 Ramadan

Seperti diketahui bersama, malam pertama Ramadan 1439 Hijriyah tahun ini jatuh pada malam Kamis, sehingga jika formula ini benar, lailatul qadar akan jatuh malam ini (malam 25 Ramadan).

Benarkah formula ini? Tidak ada yang berani memastikan.

Jumhur ulama mengikuti hadits-hadits Rasulullah yang secara umum menyatakan lailatul qadar jatuh pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadan.

Meskipun ada hadits yang secara khusus berisi nasehat Rasulullah untuk mencari lailatul qadar pada malam 27, jumhur ulama tidak berani memastikan apakah lailatul qadar setiap tahun terjadi di tanggal yang sama.

إِنِّى أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، وَإِنِّى نُسِّيتُهَا ، وَإِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى وِتْرٍ

“Sungguh aku diperlihatkan lailatul qadar, kemudian aku dilupakan –atau lupa- maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam yang ganjil” (Muttafaq alaih).

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar

Ibnu Hajar Al Asqolani berkata,

وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي

“Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260).

Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

“Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR Muslim nomor 762).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ nomor 5475.)

Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi.

Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut.

Pilihan Malam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa sepantasnya bagi seorang muslim untuk mencari malam lailatul qadar di seluruh sepuluh hari terakhir.

Karena keseluruhan malam sepuluh hari terakhir bisa teranggap ganjil jika yang dijadikan standar perhitungan adalah dari awal dan akhir bulan Ramadan.

Jika dihitung dari awal bulan Ramadan, malam ke-21, 23 atau malam ganjil lainnya, maka sebagaimana yang kita hitung.

Jika dihitung dari Ramadan yang tersisa, maka bisa jadi malam genap itulah yang dikatakan ganjil. Dalam hadits datang dengan lafazh,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah malam lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan. Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021).

Jika bulan Ramadan 30 hari, maka kalau menghitung sembilan malam yang tersisa, maka dimulai dari malam ke-22.

Jika tujuh malam yang tersisa, maka malam lailatul qadar terjadi pada malam ke-24.

Sedangkan lima malam yang tersisa, berarti lailatul qadar pada malam ke-26, dan seterusnya.

Semoga Allah memudahkan kita bersemangat dalam ibadah di akhir-akhir Ramadan dan moga kita termasuk di antara hamba yang mendapat malam yang penuh kemuliaan.

 

LEAVE A REPLY