Kisah Kiai yang Disangka Tukang Kebun Oleh Santri

0
66
KH. Ulin
KH. Ulinuha Arwani (Kiri) dan KH. Dimyati Rois (Kanan).

Hajiumrahnews – Suatu waktu, Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ Kudus) akan mengadakan acara Haflatul Hidzaq (Khataman Al-Qur’an). Dalam musyawarah para khotimin, disepakati yang menjadi pembicara (penceramah) adalah KH. Dimyati Rois Kaliwungu (Abah Dim).

Salah satu santri diutus untuk sowan di kediaman Abah Dim. Karena ia belum pernah melihat kediaman ataupun wajah Abah Dim, maka ia pun sering tanya-tanya orang. Setelah sampai di rumah Abah Dim, kebetulan di depan rumah ada sosok laki-laki paruh baya yang hanya memakai kaos oblong dan berpenampilan layaknya orang biasa.

Ia pun memberanikan diri bersalaman tanpa mencium tangannya dan bertanya kepada orang tersebut,

“Maaf, apa benar ini rumahnya Abah Dim? Kira-kira Abah Dimnya, ada nggak ya?”

Orang tersebut pun mempersilahkan masuk si santri,

“Ada, silahkan masuk saja!”

Setelah si santri masuk ke dalam ruang tamu rumah Abah Dim, ia menunggu Abah Dim menemuinya. Beberapa saat kemudian, Abah Dim keluar dari ruang tengah rumahnya.

Mak jleb, betapa kaget si santri, ternyata orang yang tadi duduk di depan rumah Abah Dim adalah Abah Dim sendiri, padahal ia tidak mencium tangan beliau dan tidak berperilaku layaknya santri kepada kyainya karena menganggap orang itu adalah orang biasa yang sedang duduk-duduk saja.

Itulah gambaran kesederhanaan KH. Dimyati Rois (Abah Dim). Walaupun memiliki nama besar dan dikenal sangat ‘alim, namun beliau tidak pernah menunjukkan kebesaran namanya ataupun kebanggaan statusnya. Beliau tetap berpenampilan sederhana layaknya orang biasa dan tetap santun kepada siapapun. (Sebagaimana dikisahkan oleh Kiai Atho’illah dari Bumijawa Tegal).

Sekilas tentang KH. Dimyati Rois

KH. Dimyati Rois merupakan salah satu mustasyar PBNU. Ia merupakan pengasuh pesantren Al-Fadlu wal Fadilah yang ia dirikan di Kp. Djagalan, Kutoharjo, Kaliwungu pada 1985. Sebagaimana tradisi santri pada zaman dahulu, ia menjadi santri kenala dengan nyantri di berbagai pesantren seperti pesantren Lirboyo dan APIK Kaliwungu.

Atas prestasi yang dimilikinya, ia diambil menantu oleh KH. Ibadullah Irfan, sesepuh dan tokoh masyarakat Kaliwungu. Kiai Dimyati sendiri dilahirkan di daerah Brebes Jawa Tengah. Akhirnya ia menetap di daerah tersebut.

Sebagaimana tradisi kiai besar di lingkungan NU, ia merupakan orator ulung yang mampu membius massa. Ia dengan setia selalu memenuhi undangan dari masyarakat untuk memberi nasehat dalam berbagai ceramah agama.

Karena pengaruhnya yang besar, rumahnya selalu menjadi rujukan tokoh nasional, namun demikian ia tidak mau terjun langsung menjadi politisi. Ia dikenal dekat dengan Matori Abdul Djalil, ketua umum pertama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Salah satu kelebihan yang tidak banyak dimiliki kiai lain adalah kemampuannya dalam kewirausahaan. Tak hanya mengajar mengaji, ia memiliki berbagai usaha yang menghasilkan uang sekaligus melatih para santrinya untuk bisa berwirausaha, terutama dalam bidang pertanian dan perikanan.

Ia juga dikenal sebagai kiai yang banyak memiliki ilmu hikmah atau ilmu kesaktian. Hal ini menambah kewibawaannya di kalangan masyarakat. (Eep)

 

LEAVE A REPLY