Masjid Agung Roma, Masjid Terbesar di Eropa yang Dibiayai 23 Negara

0
1163
Masjid Agung Roma, Italia
Masjid Agung Roma, Italia

Hajiumrahnews – Apa yang Anda ingat ketika mendengar nama Roma? Mungkin ada sebagian dari kita yang menjawab sebuah klub sepakbola bernama AS Roma. Mungkin juga ada yang menjawabnya sebuah pepatah, “Banyak Jalan Menuju Roma.” Dan sudah pasti, tak sedikit yang menjawab nama sebuah kota di Italia.

Tapi terlepas dari semuanya itu, tahukah Anda bahwa di kota Roma ada sebuah Masjid Agung yang dibiayai oleh 23 negara. Wowww…!!!

Ya, namanya Masjid Agung Roma. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Italia dan bahkan di Eropa yang dibangun di atas lahan seluas 30.000 meter persegi. Masjid yang mampu menampung 5000 jamaah ini, selain dijadikan sebagai tempat ibadah juga difungsikan sebagai Islamic Centre.

Pembangunan Masjid Agung sendiri membutuhkan kurun waktu 20 tahun dan dibiayai oleh 23 negara Arab dan muslim. Selain Indonesia, negara yang ikut menyumbang adalah Brunei, Malaysia, Arab Saudi, Aljazair, Bahrain, Bangladesh, Mesir, Uni Emirat Arab, Yordania, Irak, Kuwait, Libya, Maroko, Mauritania, Oman, Pakistan, Qatar, Senegal, Sudan, Tunisia, dan Yaman.

Imam besar Masjid Roma, Salah Ramadan, menuturkan bahwa Raja Faisal dan 23 negara memberikan sumbangan sebesar US$50 juta untuk membangun fasilitas ibadah dan belajar bagi umat Islam di Italia.

“Sumbangan yang cukup besar pada waktu itu untuk membangun masjid dan pusat pembelajaran Islam ini,” kata Salah.

Keterlibatan negara-negara Islam dalam pendirian masjid yang mulai pada 1975 ini ditandai dengan prasasti yang diabadikan dalam sebuah plakat marmer putih dipasang di dinding dekat tangga utama masjid.

Diresmikan pada tahun 1995, diarsiteki oleh Paolo Portoghesi, warga asli Italia, masjid ini memadukan gaya Roman dan Islam. Gaya Roman (Romanesque) pertama kali diperkenalkan oleh Charles Alexis dan Adrien de Gerville untuk menggambarkan arsitekur di atas Gotik.

Memasuki ruangan utama masjid yang terletak di Jalan Viale della Moschea ini, kita mesti melewati selasar terlebih dahulu. Selasar ini panjangnya kurang lebih sekitar 15 meter dari tangga yang menghubungkan antara bagian luar dan dalam masjid.

Setelah menaiki tangga dengan ketinggian kurang lebih 2,5 meter dari dasar tanah ini, baru kita akan mulai merasakan detail kemegahan bangunan-bangunan Romawi kuno. Kemegahan tersebut juga diwakili oleh keberadaan 16 kubah ditambah sebuah kubah besar di tengah yang atasnya dihiasi dengan bulan sabit serta sebuah menara berbentuk pohon palem setinggi 40 meter.

Islam di Italia

Salah mengakui bahwa jumlah pemeluk Islam di Italia tidak sebanyak di London, Belanda, Jerman, Swedia atau Rusia. Total umat Islam di Italia sekitar 1,5 juta orang. Mereka kebanyakan pendatang dari negara Islam, seperti Mesir, Maroko, Tunisia, Bangladesh, Pakistan, dan negara lain di Afrika.

Penduduk asli Italia sendiri yang menganut agama Islam jumlahnya lebih kecil lagi, sekitar 100 ribu orang. Meski demikian agama Islam cukup berkembang di Italia.

“Tiap minggu ada saja yang memutuskan pindah ke agama Islam, satu sampai dua orang. Mereka yang masuk Islam biasanya orang asli Italia atau pendatang dari negara Eropa lainnya,” ujar lulusan Universitas Al Azhar-Mesir itu.

Kota Roma sendiri merupakan pusat agama Katolik di dunia, sehingga sebuah kebanggaan jika ada masjid agung di sana. Dan bila kita merujuk sejarah, tampaknya hal ini suatu keajaiban. Benito Mussolini (1922-1943), pemimpin Italia kala itu yang beraliran fasis, pernah menentang pendirian masjid di Italia.

“Tak ada masjid di Roma, selama tak ada gereja di Mekkah,” katanya saat itu.

Lima puluh tahun setelah kematian Mussolini, umat Islam di Kota Roma akhirnya memiliki sebuah masjid megah. Setiap hari masjid ini selalu ramai. Salah sendiri merasa beruntung bisa tinggal satu kawasan dengan Masjid Roma. Selain sebagai masjid terbesar di Uni Eropa, juga fasilitasnya terlengkap.

Pada bulan Ramadan ini, Masjid Agung Roma mengadakan lomba hafalan Alquran di samping berbuka puasa dan salat Tarawih bersama. Salat Tarawih baru dimulai sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Pada akhir musim semi matahari di Italia baru tenggelam sekitar pukul 20.30.

“Sebagian besar dari mereka berdatangan sebelum salat Isya dimulai pukul 22.30,” ujar Salah.

Ketika salat Tarawih dimulai, Salah tidak menjadi imam, namun ia bertindak sebagai penceramah. Ceramah dilakukannya setelah menyelesaikan empat rakaat tarawih. Rangkaian salat tarawih di Masjid Roma berjumlah 11 rakaat.

Selama bulan puasa jamaah yang datang ke Masjid Roma bisa mencapai 3.000 orang. Semakin dekat penghujung Ramadan, jumlah jamaah akan semakin banyak. Salah seorang warga negara Indonesia yang sudah tinggal di Roma selama 16 tahun, Tari, menuturkan bahwa jumlah jamaah Masjid Roma membludak saat salat Ied.

“Salat Ied bisa diselenggarakan sampai tiga kali,” ujar Tari.

Tari mengaku bahwa persaudaraan sesama Muslim di Roma sangat kuat. Apalagi, katanya, mereka menjadi minoritas di negara yang dekat sekali dengan pusat kepimpinan agama Katolik di Vatikan. (Eep)

 

LEAVE A REPLY