Inilah Asal-Usul Adanya Libur Puasa Bagi Anak Sekolah

0
57

8071289e56efb6afc67e6bf2b487acea

Hajiumrahnews – Dulu saat saya masih kecil (SD), bahkan hingga kini, selalu libur beberapa saat sebelum Ramadan tiba. Liburnya cukup panjang hingga memasuki awal-awal puasa.

Setelah itu kami masuk sekolah lagi dan kemudian libur panjang lagi menjelang lebaran tiba atau masa-masa akhir puasa hingga beberapa hari paska lebaran.

Selidik punya selidik, ternyata hal tersebut ada kisah sejarahnya. Menurut catatan, libur puasa anak sekolah bermula ketika sistem pendidikan modern masuk ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Sistem ini merupakan kebijakan pemerintah kolonial dan berada di bawah naungan Departemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan yang kemudian berubah jadi Departemen Pendidikan dan Agama pada 1912.

Pemerintah kolonial menimbang perlu memberi orang-orang tempatan pendidikan demi menciptakan tenaga-tenaga terampil di lapangan kesehatan, birokrasi, pertukangan, pertanian, dan teknik. Kebetulan orang-orang tempatan yang mengecap pendidikan kolonial mayoritas beragama Islam dan ada yang menjalankan ibadah puasa selama Ramadan.

Pemerintah kolonial meliburkan semua sekolah binaan mereka dari tingkat dasar (HIS) sampai tingkat menengah atas (HBS dan AMS) selama bulan puasa dan beberapa hari setelah Lebaran.

“HIS zaman Belanda dulu libur pada bulan puasa,” kata Aziz Halim, tamatan HIS, dalam Pelita, 2 Mei 1979.

Lama libur puasa anak sekolah sekira 39 hari.

“Sekarang boleh pulang, sampai ketemu habis Lebaran,” kata Menir van Dalen seperti dikutip Mahbub Djunaidi, cendekiawan kelahiran tanah Betawi, dalam Asal Usul: Catatan-Catatan Pilihan, mengenang ucapan gurunya menjelang bulan puasa pada 1930-an.

Kebijakan libur sekolah pada bulan puasa beralas dari cara pandang pemerintah kolonial terhadap Islam dalam bidang pendidikan.

Dr. N. Andriani, penasihat Urusan Bumiputera, pernah menyampaikan pertimbangannya tentang kedudukan Islam dalam bidang pendidikan kepada J.A.C. Hazeu, direktur Pendidikan dan Agama, pada 1913.

“Islam adalah satu-satunya milik mereka yang tak dapat dihilangkan dan tidak dapat diganggu gugat. Mereka ingin tetap memiliki Islam, juga bagi anak-anak mereka. Mereka tidak menginginkan pelajaran agama dari Belanda,” kata Andriani seperti dikutip S.L. van der Wal dalam Kebijaksanaan Pendidikan di Hindia Belanda 1900-1940.

Andriani juga mengingatkan pemerintah kolonial jangan main paksa melepaskan Islam dari penduduk tempatan.

Sepanjang menyangkut urusan peribadatan seperti puasa, lebih baik kasih kesempatan luas bagi anak-anak sekolah yang beragama Islam untuk menjalankannya.

Apalagi anak-anak sekolah kadung senang dengan kedatangan bulan puasa. Sejak gelap hari mereka membangunkan orang sahur dengan bebunyian kaleng rombeng. Siang hari mereka jumpalitan di pohon belimbing.

Menjelang sore hingga magrib, anak-anak sekolah itu tidur-tiduran di langgar.

“Jika saat berbuka tiba, mereka nyaris menelan seluruh isi bumi,” begitu cerita Mahbub Djunaidi tentang keriangan anak-anak pada zamannya kecil dulu selama bulan puasa.

Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, yang masa kecilnya jadi siswa HIS di Kotanopan, Sumatra Utara, pada 1930-an, menceritakan pengalamannya libur sekolah selama bulan puasa pada masa kolonial.

“Bagi anak desa, bulan puasa dan Lebaran adalah saat-saat yang paling berbahagia. Berlibur, orang-orang pada pulang kampung dari perantauan, malam hari beramai-ramai di masjid mengaji… Siang hari anak-anak mengembara di bukit-bukit atau bermain-main di kali mencari ikan,” kata Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Semasa Muda.

Tapi tak semua anak-anak pada masa kolonial menghabiskan libur puasa dengan beribadah saja.

Ajip Rosidi, sastrawan sohor Sunda yang dulu sempat mengenyam sekolah HIS pada 1930-an, mempunyai pengalaman libur sekolah selama bulan puasa. Sekali waktu dia pergi ke kebun mangga di belakang sebuah masjid raya dekat pekuburan.

Bersama teman-teman, Ajip memanjat pohon mangga, memetik buahnya, dan memakannya. Padahal mereka sedang berpuasa.

“Masing-masing kami setelah sampai di rumah dari pekuburan yang berpohon mangga itu, mengaku masih tetap puasa; kami juga berbuka bersama ketika magrib,” kenang Ajip dalam Hidup Tanpa Ijazah. Pada kemudian hari, Ajip mengaku menyesali perbuatan tipu ini.

Ibnu Sura Maesti, mantan redaktur majalah Muhammadiyah pada zaman pergerakan nasional, juga punya kisah mirip dengan Ajip Rosidi.

Ketika Ibnu masih bersekolah di HIS Cikaso, Kuningan, Jawa Barat, pada 1910-an, dia telah menjadi pujaan orang kampung lantaran kefasihannya membaca Alquran dan kesediaannya membantu kerjaan rumah orang tua dan neneknya.

Dia menikmati puja-puji dari orang kampung dan berusaha terus mempertahankannya dengan giat aktivitas sana-sini.

Upaya Ibnu ternyata berdiri di atas dusta. Dia sering batal puasa sebelum azan magrib berkumandang.

Tanpa diketahui oleh keluarga dan orang sekitarnya pula. Hingga datanglah saatnya dia ketahuan secara tak sengaja oleh keluarga dan orang sekitarnya bahwa dia telah bolong puasa.

“Benar-benar waktu itu aku sangat merasa malu dan menyesal, serta berjanji dalam hatiku, tidak akan berdusta dan berbuat sesuatu untuk mendapat pujian belaka,” tulis Ibnu dalam “Dari Asuhan Nenek hingga ‘Ayah’ Belanda” termuat di Perjalanan Anak Bangsa: Asuhan dan Sosialisasi dalam Pengungkapan Diri suntingan Aswab Mahasin dan kawan-kawan.

Begitulah anak-anak zaman kolonial menghabiskan libur sekolah sepanjang bulan puasa. Kebijakan yang bertahan terus sampai masa merdeka. Kelak kebijakan libur sekolah lebih dari sebulan ini kena gugat Daoed Joesoef, menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pada 1978.

LEAVE A REPLY