Kisah Pilu Penjual Nasi Jamblang yang Gagal Naik Haji

0
86
Nasabah BMT Global Insani, Ratna, saat ditemui di Hotel Apita, Jl Tuparev, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Minggu (15/4/2018).  Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Kisah Nasabah Global Insani: Gagal Naik Haji, Nasib Uang Rp 90 Juta pun Tak Jelas, http://jabar.tribunnews.com/2018/04/16/kisah-nasabah-global-insani-gagal-ke-naik-haji-nasib-uang-rp-90-juta-pun-tak-jelas?page=4. Penulis: Ahmad Imam Baehaqi Editor: Tarsisius Sutomonaio
Ratna (47), salah satu nasabah BMT Global Insani yang gagal berangkat haji karena travel tersebut dinyatakan pailit sejak Mei 2017. Uang 90 juta yang disetorkannya pun tak jelas nasibnya. 

Hajiumrahnews – Wajahnya terlihat senduh dan begitu sedih. Kerudung pink yang membungkus kepalanya tak bisa menutupi kegundahannya. Sudah sekian waktu, kabar keberangkatan dirinya dan suami ke tanah suci belum mendapatkan titik terang. Kapan waktu itu tiba? Entahlah! Yang ia pikirkan sekarang, hanyalah bagaimana uang 90 juta yang sudah ia setorkan untuk berangkat haji bersama sang suami bisa kembali, jika tak jadi berangkat.

Ratna (47), demikian orang-orang memanggil ibu asal Desa Sutawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon ini. Sudah beberapa pekan ini ia begitu sedih karena dipastikan gagal berangkat ibadah haji. Pasalnya, BMT Global Insani yang dipercayainya sebagai biro perjalanan haji malah dinyatakan pailit sejak Mei 2017.

Kepada siapa ia harus mengadu? Pemerintah ataukah siapa? Ia sendiri bingung, tak tahu harus ke mana melangkah. Yang jelas, uang 90 juta bukanlah kecil, untuk ukuran dirinya. Harus menunggu waktu 3 tahun sebagai penjual nasi jamblang keliling untuk bisa mengumpulkannya. Ketika sudah terkumpul, uang itu malah tak jelas ke mana.

Ratna memang tak sendirian. Ia bersama 4 ribuan nasabah lainnya masih menanti kejelasan kapan diboyong ke hadapan Ka’bah.

“Saya dan suami sudah melunasi biaya untuk berangkat haji sejak 2 tahun lalu tapi enggak tahu kapan berangkatnya,” ujar Ratna kala itu.

Ia mengatakan, mendaftar sebagai nasabah BMT Global Insani sejak 2012. Persis satu tahun setelah berdirinya BMT Global Insani pada 2011.

Ratna rela menyisihkan keuntungan dari berjualan nasi Jamblang untuk mencicil biaya naik haji. Padahal, keuntungannya itu tidak seberapa, paling banyak Rp 100 ribu per hari. Semua itu dilakukannya hanya demi satu alasan, bisa beribadah di depan Ka’bah.

Ratna mengaku, mengetahui BMT Global Insani dari Khaeron, mantan pegawai yang kini menjadi koordinator forum nasabah yang menuntut ganti rugi.

“Pertama mendaftar percaya saja, enggak menyangka akhirnya begini,” kata Ratna.

Ia semakin percaya kepada BMT Global Insani setelah mengikuti beberapa kali gathering nasabah. Bahkan, Ratna juga tertarik berinvestasi di program qiradh berupa penanaman jahe dan jabon.

Satu paket qiradh BMT Global Insani mematok Rp 9 juta, namun Ratna menginvestasikan uang senilai Rp 40 juta. Ia ikut serta dalam program itu untuk membiayai pendidikan anaknya. Namun, nasib program qiradh itupun tak jelas seperti kebarangkatannya ke Tanah Suci. Selain itu, keuntungan program qiradh yang dijanjikan pun tak juga diterimanya.

Ratna tak mau menyebut berapa keuntungan yang dijanjikan BMT Global Insani dalam program qiradh itu.

“Saya juga ikut menanam jahe di rumah, karena dijanjikan dibeli BMT Global Insani Rp 13 ribu per kilogram,” ujar Ratna.

Pada kenyataannya, BMT Global Insani hanya membeli jahe itu Rp 6000 per kilogram. Padahal, modal yang dikeluarkan Ratna hanya untuk membeli bibit tanaman jahe mencapai Rp 4 juta.

Jumlah tersebut belum termasuk biaya pembelian pupuk dan perawatan lainnya. Ratna yang merasa dirugikan itupun tak mau ambil pusing. Ia justru membagikan jahe itu kepada para tetangganya.

“Daripada dijual murah, lebih baik dipanen rame-rame bersama tetangga,” kata Ratna.

Usai ditandatanganinya nota kesepakatan oleh pemilik BMT Global Insani, Ratna mengaku hanya bisa pasrah. Ia hanya berharap uang yang telah disetorkannya itu segera dikembalikan.

Ia mengatakan, tak mau tercebur ke dalam lubang yang sama. Rencananya, Ratna akan mendaftar berangkat haji ke pihak bank langsung saat uangnya telah dikembalikan. (Kun Kun)

 

 

LEAVE A REPLY