Mahasiswa Indonesia Mendulang Prestasi di Bidang Medis di Saudi

0
790
Wahyu saat menerima penghargaan sebagai pemenang kompetisi research paper. (foto:candra)
Wahyu saat menerima penghargaan sebagai pemenang kompetisi research paper. (foto:candra)

HAJIUMRAHNEWS – Prestasi demi prestasi kembali ditorehkan oleh putra bangsa Indonesia di kancah internasional. Adalah Wahyu Choirur Rizky, salah satu mahasiswa program ilmu kedokteran dan bedah di Sulaiman Al Rajhi Colleges (SRC), Arab Saudi yang telah berhasil menempati posisi runner-up pada kompetisi penulisan karya ilmiah di bidang topik ulasan kritis (Critical Appraisal Topic) seputar ilmu medis.

Kompetisi tersebut ditujukan untuk mahasiswa kedokteran di Arab Saudi dan merupakan bagian dari rangkaian acara SRC Annual Research Symposium yang dihelat pada hari Kamis, (19/4) lalu di Sulaiman Al Rajhi Colleges, Qassim, Arab Saudi. “Judul tulisan yang dijadikan topik utama dalam karya ini adalah Endhotelial Progenitor Stem Cells Transplantation for Post-Myocardial Infarction,” kata Wahyu Choirur Rizky kepada kontributor hajiumrahnews.com di Saudi, Adam Prabowo pada, Senin (23/4).

Menurutnya, topik tersebut berisikan ulasan terkait pemanfaatan sel punca (stem cells) pada terapi infark miokardium ditinjau dari segi keamanan klinis dan kemungkinan adanya beberapa perubahan klinis pasca-terapi.

Wahyu menjelaskan, topik seputar sel punca (stem cells) dipilih karena dalam dekade terakhir teknologi pengembangan sel punca sangat meningkat pesat di berbagai negara termasuk di Indonesia dan memiliki potensi besar untuk dijadikan terapi alternatif pada kasus infark miokardium.

Infark miokardium (myocardial infarction) atau sering disebut sebagai serangan jantung yaitu kondisi dimana suplai darah yang menuju sel-sel otot jantung terhenti secara tiba-tiba dan berakibat pula berkurangnya kadar oksigen di area tersebut sehingga memicu kematian sel-sel otot jantung.

Wahyu bersama pembimbing akademiknya
Wahyu bersama pembimbing akademiknya

Konsekuensinya, kata Wahyu, darah yang seharusnya dipompa dari jantung ke seluruh tubuh akan berhenti seketika karena otot jantung tidak bekerja. Wahyu juga menuliskan dalam ulasan topiknya bahwa perbaikan jantung berbasis sel merupakan pendekatan yang menarik untuk melakukan regenerasi otot jantung yang rusak pada kasus infark miokardium.

Dalam tulisannya, Wahyu menyatakan, beberapa sumber sel punca yang memiliki potensi dalam perbaikan fungsi jantung di antaranya sel punca atau sel progenitor, sel punca cardiac, sel punca sumsum tulang, sel punca embrionik, progenitor endothelial. Namun berdasarkan hasil tinjauan dalam karya tulisnya, di antara beberapa jenis sumber sel punca, yang memiliki tingkat keefektifan tinggi dan perbaikan fungsional yang baik adalah sel punca sumsum tulang dan progenitor endothelial.

Selain mengulas tentang alasan utama terkait keunggulan sel progenitor endothelial dalam terapi infark miokard, Wahyu juga menuliskan tentang posibilitas beberapa metode transplantasi sel punca tersebut dan ulasan tentang percobaan klinis dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu.

Ulasan mengenai percobaan klinis yang dituangkan dalam karyanya hanya difokuskan pada fase percobaan klinis tingkat 2 dan 3 (Phase II/III). Fase 2 dan 3 merupakan fase lanjutan dari tingkat 1 yang khusus meneliti keefektifan terapi sel punca ditinjau dari segi kemungkinan efek yang ditimbulkan dan cara menanganinya, dosis atau rezim terbaik yang harus digunakan, perbandingan efektifitasnya dengan terapi standar, serta melibatkan relawan pasien dalam jumlah yang besar (misal lebih dari 100 orang relawan).

“Menulis sebuah karya ilmiah tentang ilmu medis bukanlah suatu hal yang mudah, setiap data dan fakta yang digunakan harus diuji validitasnya, karena ini berkaitan dengan keberlangsungan penelitian berikutnya dan keselamatan jiwa pasien”, tutur Wahyu seusai menerima penghargaan dari Kepala Dekan Sulaiman Al Rajhi Colleges atas keberhasilannya.

Untuk mengikuti kompetisi ini ia harus melalui beberapa tahapan, tahap awal adalah seleksi ide yang diseleksi berdasarkan ikhtisar singkat terkait rancangan ide yang akan ditulis. Dari sekian banyak ide yang masuk, Wahyu berhasil lolos ke tahap 50 besar ide terpilih untuk kemudian menuju tahap selanjutnya yakni bimbingan penulisan dan revisi dengan dosen pengajar di masing-masing department.

Beruntunglah pada saat itu Wahyu berkesempatan memperoleh pembimbing ahli di bidang stem cell, Prof. Khawaja Husnain Haider, M. Pharm. PhD. Beliau adalah seorang guru besar yang menggeluti riset teknologi dan terapi stem cell selama lebih dari 30 tahun, serta memiliki jam terbang tinggi untuk riset dan klinis di Ohio, Amerika Serikat.

Di samping partisipasinya dalam kompetisi tersebut, Wahyu juga mempresentasikan dua karya poster hasil penelitian bersama pembimbingnya. Poster yang pertama berjudul “A Critical Appraisal of Bone Marrow-Derived Mesenchymal Stem Cells and Mononuclear Cells for Post-Myocardial Infarction Management of the Heart in Clinical Perspective”. Kemudian poster kedua berjudul “Perpetual Smoking Compromise the Osmotic Fragility of Red Blood Cells”.

Wahyu menambahkan, bahwa tantangan yang dihadapinya dalam penulisan karya ilmiahnya yaitu waktu yang sangat terbatas. Komite kompetisi hanya menyediakan waktu tidak lebih dari satu bulan (selama bulan Maret 2018) untuk menyelesaikan satu karya tulis utuh, sedangkan Wahyu juga harus pandai membagi waktu dengan usahanya untuk membuat poster ilmiah, padatnya jadwal kuliah dan praktikum pada momen itu. Hal ini tak lantas membuat dia menyerah.

Alhasil, kata Wahyu, berkat kerja keras, kegigihan, doa dan semangat dari keluarga serta teman-temannya dia berhasil mendulang prestasi terbaik yang dipersembahkan untuk bangsa tercinta, Indonesia. Dan berkat prestasinya, Wahyu juga berhak menerima hadiah sejumlah uang tunai dan sertifikat CME hours (Continuing Medical Education) dari Saudi Commission of Health Specialties.

Wahyu menyampaikan harapan semoga karya tulisnya bisa dikembangkan lebih baik lagi dan banyak evaluasi yang harus ditempuh ke depannya supaya benar-benar menjadi karya yang layak untuk dikaji oleh praktisi medis serta membuka peluang penelitian yang lebih bermanfaat.

“Terus semangat membangun negeri sesuai dengan keahlian masing-masing serta jangan pernah menyerah untuk terus menuntut ilmu dimana pun dan kapan pun kita berada,” pesan Wahyu kepada sesama generasi penerus bangsa. (dam/hai)

LEAVE A REPLY