Ipda Ria, Dokter Polwan Pertama yang Dikirim ke PBB

0
31

2f37661d-de34-49bf-af86-57796c868ba8_169

Hajiumrahnews – Ipda Ria (31) pantas bangga karena ia diutus menjadi dokter dalam misi perdamaian di PBB. Bukan karena perutusannya semata, tetapi karena ia adalah wanita pertama dari kalangan polwan yang berprofesi dokter yang diutus dalam misi tersebut. Ria sendiri adalah seorang anggota Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulawesi Barat.

Menurut Ria, motivasinya untuk bergabung di FPU (Formed Police Unit) karena ingin menjadi pioner. Sebelumnya belum pernah ada dokter perempuan dalam formasi FPU dan ini misi pertama di daerah baru. “Senior saya di Biddokes yang mengikuti misi Sudan FPU Unamid semuanya laki-laki,” kata Ria ketika berbincang dengan detikcom, Senin (23/4/2018).

Lebih lanjut menurut Ria, keterlibatannya dalam misi perdamaian merupakan keinginannya sejak 2017. “Namun saat itu Polri belum melibatkan polwan dalam formasi pasukan penjaga perdamaian (peacekeeper),” ujarnya lebih lanjut.

Menurut Ria, pada Januari 2018 dirinya mendapat info dari Pakor Polwan Polda Sulbar mengenai perekrutan polwan dalam misi FPU ke Sudan Selatan. “Saat itulah saya langsung mendaftarkan diri untuk mengisi formasi Pasi Kes FPU 1 UNMISS,” cerita Ria.

Seputar persiapan misi, Ria mengaku sudah mencari tahu terlebih dahulu tentang budaya dan situasi yang terjadi di kebanyakan wilayah konflik. Bekal untuk bertahan di negara konflik, dia dapat dari pelatihan FPU di Cikeas, Jawa Barat sejak 18 Maret lalu.

“Sebelum berangkat ke suatu area konflik, hierarkinya pasti mencari tahu terlebih dahulu tentang kultur dan konflik apa yang mendasari. Jika dikorelasikan dengan pekerjaan saya, pada intinya di area mana pun, kita harus siap dengan kemungkinan terburuk. Jadi bagi saya dibutuhkan perpaduan tactical mind set dan capability of medical combat di setiap situasi pada wilayah konflik,” terang Ria.

Menurut Ria, dia sudah siap untuk kemungkinan terburuk karena setiap situasi dapat berubah menjadi situasi darurat. “Kita harus cepat dan tepat dalam membuat keputusan,” sambung dia.

Ria mengatakan bahwa selama sebulan lebih mengikuti kegiatan persiapan pasukan perdamaian, hari-harinya diisi dengan pelatihan mental, spritiual dan fisik.

Tactical trainning seperti menembak jelas bukan basic saya, tapi karena kita harus siap dengan segala kemungkinan terburuk, yang awalnya bukan basic kemampuan, sekarang menjadi kebutuhan yang harus dipelajari untuk bisa menjalani misi,” ucap perempuan berdarah Sumatera ini.

Ria berharap kehadiran sebagai dokter polwan pertama FPU Polri dapat menginspirasi dokter-dokter polwan lainnya.

“Melalui ini, saya berharap bisa menjadi pembuka jalan bagi polwan-polwan lain, terutama dokter polwan untuk mengasah kemampuan dalam misi-misi FPU selanjutnya,” tutur Ria. (Kun)

LEAVE A REPLY