Dr. Taufan: Hormati MUI, Tapi Proses Hukum Tetap Berjalan

0
59
Dr. Taufan
Dr. Taufan Maulamin, MM

HAJIUMRAHNEWS – Kasus Puisi Ibu Indonesia karya Sukmawati terus bergulir dan sepertinya tidak reda dalam waktu dekat. Bahkan, Jumat kemarin ribuan umat Islam melakukan demo ke Bareskrim untuk segera memproses dugaan penistaan agama yang telah dilakukan oleh adik Megawati Soekarno Putri tersebut, meski yang bersangkutan telah meminta maaf kepada publik di depan MUI dan awak media.

Melihat adanya potensi perpecahan umat di balik kasus puisi yang sarat kontroversial ini, Sekjen Aliansi Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia (APPERTI), Dr. Taufan Maulamin, SE, Ak, MM pun angkat bicara. Ia menilai putusan Majelis Ulama Indonesia yang mengimbau agar umat Islam memaafkan Sukmawati Soekarnoputri sudah benar. “Jangan sampai gerakan menuntut keadilan menyisakan perpecahan umat,” ujar Direktur Pascasarjana Institut STIAMi Jakarta ini.

Menurut Taufan, dengan tetap memuliakan dan hormat kepada alim ulama dan MUI, kita kawal kasus penistaan agama ini yang dilakukan oleh Sukmawati Soekarnoputri.

“Majelis Ulama Indonesia (MUI) merupakan institusi yang mewakili organisasi massa Islam. Di dalamnya banyak ulama dan cendekiawan Islam yang sangat dihormati umat. Oleh sebab itu, pernyataan yang dikeluarkan oleh MUI akan merepresentasikan suara umat yang menjadi mayoritas di negara ini,” ujarnya lebih lanjut.

Secara pribadi, Taufan yang juga Alumni FEB UNS Solo, menyatakan telah memaafkan Sukmawati yang dianggap membuat resah umat dengan pembacaan puisi yang menyudutkan cadar dan azan.  “Meski kita harus menerima maaf, namun penegakkan hukum harus terus dilanjutkan tentunya melalui koridor konstitusi yang telah kita sepakati bersama,” jelasnya.

Taufan menyarankan agar tetap berhati-hati dalam memilih langkah. Pikirkan secara jernih. “Jangan sampai umat terjebak mencaci dan tidak hormat kepada ulama dan MUI yang merupakan orang tua kita semua,” katanya.

Taufan sendiri merupakan salah satu aktifis GNPF Ulama yang pada tahun lalu menyuarakan penangkapan Ahok yang kini telah divonis bersalah atas tuduhan penistaan agama. Menurut Pimpinan Pondok Pesantren Ibad Arrahman Pandeglang ini, jika kasus Sukmawati tidak diselesaikan melalui koridor hukum, maka itu akan menimbulkan preseden buruk di kemudian hari. “Bukan tidak mungkin akan banyak orang yang seenaknya menghina agama lalu menangis dan meminta maaf,” ujarnya.

Menurut Taufan, akan ada sosial efek yang dahsyat jika kasus seperti ini dibiarkan tanpa ada penegakkan hukum. “Timbul semangat menista dan menghina agama orang lain yang bisa merusak tatanan sosial,” ujarnya mengakhiri. (Kun)

 

LEAVE A REPLY