PPI Lebanon Gelar Seminar tentang Kahlil Gibran

0
137
Penampilan Tim Seni PPI Libanon dalam Seminar Gibran From The Other Side of The World (image, vision, and ideology of Gibran in Indonesia)" di Auditorium Lebanese University (LU) pada 27 Maret 2018.
Penampilan Tim Seni PPI Libanon dalam Seminar “Gibran From The Other Side of The World (image, vision, and ideology of Gibran in Indonesia)” di Auditorium Lebanese University (LU) pada 27 Maret 2018.

HAJIUMRAHNEWS – Siapa yang tak kenal Kahlil Gibran? Bagi penikmat sastra, nama ini begitu melekat dalam pikiran karena karya-karyanya yang luar biasa, terutama tentang cinta. Artinya, ketika kita berbicara soal keindahan cinta, tak jarang seseorang akan mengutip karya sang pujangga dari negeri Libanon ini.

Dialah sang pemilik karya Sang Nabi (1923), Sayap-sayap Patah (1912), dan Air Mata dan Senyuman (1914) yang sangat kesohor itu. Hingga kini, namanya masih menggaung dan karya-karyanya selalu menjadi rujukan banyak orang ketika berpantun, bersajak atau berpuisi.

Atas hal luar biasa yang telah dilakukan oleh Kahlil Gibran itulah, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Lebanon menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema “Gibran From The Other Side of The World (image, vision, and ideology of Gibran in Indonesia)” di Auditorium Lebanese University (LU) pada 27 Maret 2018.

Acara yang merupakan kerjasama antara PPI dengan Gibran National Committee (GNC) dan didukung oleh KBRI Beirut ini mampu menghadirkan Presiden GNC, Dr. Tarek Chidiac dan Dekan Fakultas Seni LU, Dr. Mohamed Husni El-Hajj serta mahasiswa dari berbagai kampus di Lebanon.

Dalam sambutannya, Ketua PPI Lebanon, Hamid Hodir menjelaskan tentang besarnya pengaruh Gibran pada tren anak muda dan pergolakan kesusastraan di Indonesia. “Atas dasar inilah kami mengadakan seminar ini,” ujarnya.

Sementara itu menurut Duta Besar RI untuk Lebanon, Achmad Chozin Chumaidy yang juga memberikan sambutannya mengatakan soal besarnya hubungan Indonesia dan Lebanon terkait Gibran tersebut. Bahkan, dengan kelakar ia mengatakan bahwa anak pertama dari Presiden Indonesia (Joko Widodo) sendiri bernama Gibran. Hal ini menunjukkan betapa familiarnya nama sang penyair di benak orang Indonesia –meski kita tak tahu, apakah nama Gibran pada anak presiden itu punya kaitan khusus dengan nama Gibran sang penyair ataukah hanya kebetulan.

Acara seminar itu juga diramaikan dengan penampilan Tim Seni PPI Lebanon yang menggunakan Kolintang, berkolaborasi dengan mahasiswi LU menyanyikan lagu A’tini al-Nay, puisi Gibran yang dipopulerkan oleh Fairuz.

Dalam sesi seminar, hadir sebagai pembicara dari Indonesia, Asrie Tresnady. Pendiri Tuanthakur ini berbicara mengenai sejarah penerjemahan Gibran di Indonesia. “Naskah Gibran mulai diterjemahkan ke Bahasa Indonesia pada era 80-an. Kemampuan penerjemah mengawinkan rasa sastra Indonesia dengan rasa milik Gibran sangat menentukan larisnya buku tersebut di pasaran,” jelasnya.

Asrie juga bercerita, Sri Kusdyantinah yang juga istri Soebandrio, bisa dibilang yang tersukses menerjemahkan karya-karya Gibran. Meski sampai tahun 2000 telah banyak nama baru bermunculan dengan terjemahan yang lebih modern, mereka tak sanggup mempertahankan popularitas Gibran di pasaran. “Sampai pada akhirnya, pasca 2000, muncul kembali penerbit yang mengangkat nama Sri sebagai penerjemah dan menaruhnya di bawah nama Gibran pada cover buku. Dan sejak itu, Gibran kembali akrab di kalangan pembaca Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, hadir sebagai pembicara, Dr. Tarek Chidiac Presiden GNC dan Dr. Walid Dakroub dari Lebanese University. Mereka hadir sebagai pembanding ide tentang Gibran di Lebanon.

Acara ini kemudian ditutup kembali dengan penampilan Tim Seni PPI Lebanon yang mementaskan Tari Saman, Tari Piring, kolaborasi Rampak Gendang dan alunan Gamelan, serta Pencak Silat. Selain itu turut memeriahkan, penampilan mahasiswi LU yang membawakan lagu dengan Gitar Oud.

Selain penampilan seni, terdapat juga pameran makanan tradisional, promosi kopi serta stan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. (Kun)

LEAVE A REPLY