Tahun 2017 Kontribusi Asuransi Syariah di Indonesia Rp 12 T

0
398

aasiHAJIUMRAHNEWS–Perkembangan industri perasuransian syariah di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup memuaskan. Pasalnya, total kontribusi yang berhasil dibukukan pada 2017 sebesar Rp 12 Triliun.

“Ada peningkatan sebesar 13,85 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari sisi aset juga tercatat peningkatan sebesar 21,9 persen hingga membukukan angka sebesar Rp 40,52 Triliun,” kata Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Ahmad Sya’roni dalam keterangan resminya yang diterima hajiumrahnews.com pada Sabtu (24/3).

Alhasil, kata Ahmad Sya’roni, pangsa pasar asuransi syariah bila dibandingkan industri perasuransian nasional berada di kisaran 5,04 persen untuk kontribusi (premi) dan 5,79 persen untuk aset. Akan tetapi, pihaknya, menilai dengan porsi di kisaran 5 persen, angka tersebut relatif rendah dan belum signifikan untuk menopang perekonomian nasional secara makro. “Angka tersebut juga menggambarkan peluang dan potensi besar yang masih dapat terus digali oleh para pelaku usaha,” katanya.

Karena itu, AASI sebagai wadah yang menjadi jembatan penghubung antara industri, regulator dan para pemangku kepentingan lainnya, turut mengambil peran penting dalam perkembangan industri. Di antaranya, lanjut Ahmad, kegiatan yang telah berhasil dirampungkan AASI adalah peningkatan pengetahuan bagi Dewan Pangawas Syariah (DPS) terkait aspek teknik dan operasional di perusahaan perasuransian syariah bekerja sama dengan Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia.

Kegiatan tersebut, lanjut Ahmad, dilakukan secara berkala sebagai bagian dari program berkelanjutan sebagaimana di atur dalam POJK. Kegiatan lain yang melibatkan DSN-MUI seperti pertemuan berkala membahas issue terkini di kalangan masyarakat, utamanya terkait fiqh muamalah perasuransian syariah. “Kami juga melakukan program literasi dan edukasi asuransi syariah kepada berbagai lapisan masyarakat, seperti kalangan akademisi, masyarakat umum dan media massa,” ujarnya.

Pasalnya, program ini diyakini menjadi sangat penting mengingat indeks literasi asuransi syariah yang masih sangat rendah yaitu hanya di kisaran 2,51 persen. Artinya di antara seribu orang Indonesia, hanya ada 25 orang yang mengerti dan memahami asuransi syariah.

Ahmad menambahkan, untuk menunjang aktivitas organisasi, pada medio 2017 lalu, pihaknya telah berhasil melakukan pembelian aset yang digunakan sebagai Sekretariat AASI. “Insya Allah, acara peresmian Graha AASI akan dilaksanakan pada hari Kamis, 29 Maret 2018 mendatang,” imbuhnya.

Sementara dari aspek workforce, Ahmad menyampaikan bahwa sampai saat ini terdapat lebih dari 200 ribu tenaga pemasar yang sudah memperoleh sertifikasi sebagai agen asuransi jiwa syariah, dan lebih dari 500 orang agen asuransi umum syariah. Dan pada pertengahan 2017 lalu, Islamic Insurance Society (IIS) yang sebelumnya merupakan organ dari AASI yang konsentrasi pada kegiatan pelatihan dan pendidikan, telah resmi terpisah dan sudah membentuk sebuah badan hukum tersendiri.

Ahmad berharap, pemisahan ini akan bisa lebih mempercepat ketersediaan tenaga ahli yang profesional dan kompeten di bidang perasuransian syariah sesuai dengan Standar Kerja dan Kompetensi Nasional Indonesia (SKKNI). Setidaknya, hingga saat ini sudah terdapat 27 orang yang memiliki gelar profesi Ahli Asuransi Syariah (FIIS) dan 408 tenaga Ajun Ahli Asuransi Syariah (AIIS).

AASI sendiri, kata Ahmad, melalui Lembaga Sertifikasi Profesi telah berhasil mengadakan uji kompetensi keahlian asuransi syariah yang diselenggarakan bagi para pelaku industri. Di kesempatan lain, asesmen ini juga telah diselenggarakan bagi para mahasiswa/i dimana kelulusannya dapat digunakan sebagai Sertifikat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).

Seperti halnya pemisahan IIS, AASI di tahun 2018 ini juga akan melakukan pemisahan (spin-off) penyelenggaraan sertifikasi oleh sebuah badan hukum baru berbentuk Perseroan Terbatas. “AASI dan IIS akan bersama-sama bertindak sebagai pemegang saham,” katanya. (hai)