UIII akan Siapkan Imam dan Akademisi Islam Wasathiyah ke Dunia Internasional

0
66
Staf Ahli Menteri Agama RI Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi, Oman Fathurahman bersama President of the Civilizations Exchange & Cooperation Foundation Imam Mohamad Bashar Arafat. (foto:ist)
Staf Ahli Menteri Agama RI Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi, Oman Fathurahman bersama President of the Civilizations Exchange & Cooperation Foundation Imam Mohamad Bashar Arafat. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS-Pemerintah tengah menyiapkan berdirinya Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Kampus ini diproyeksikan akan turut mempersiapkan para imam sekaligus akademisi yang dapat mempromosikan Islam yang toleran, ramah, dan moderat ke dunia internasional melalui jalur pendidikan tinggi Islam tingkat pascasarjana.

Hal ini dinyatakan Staf Ahli Menteri Agama RI Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi, Oman Fathurahman. Oman yang tergabung dalam tim akademik UIII baru saja melakukan kunjungan ke Civilization Exchange and Cooperation Foundation (CECF), Baltimore, Maryland, USA guna mengikuti Program International Visitor Leadership Program (IVLP) On Demand, U.S. Department of State. Program ini mengusung tema “Strengthening Moderate Voices in Higher Education”.

Tim Indonesia terdiri dari Prof. Kamaruddin Amin (Dirjen Pendidikan Islam), Prof. Bahtiar Effendy, Prof. Oman Fathurahman (staf ahli Menteri Agama), Dr. Ismatu Ropi, Dr. Jajang Jahroni, Dadi Darmadi, M.A., dan Dr. Kaharudin (Sekretariat Wakil Presiden).

Pada hari pertama (26/2), tim ini berdialog dan bertukar pengalaman bersama Imam Mohamad Bashar Arafat, President of the Civilizations Exchange & Cooperation Foundation di Baltimore, Maryland.

Staf Ahli Menteri Agama RI Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi, Oman Fathurahman memaparkan bahwa Imam Mohamad Bashar khususnya, dan Dunia internasional umumnya, tidak meragukan bahwa Indonesia adalah salah satu negara muslim terpenting dalam membangun peradaban dunia yang lebih baik, damai, adil, dan demokratis.

“Ia sendiri beberapa bulan lalu bertemu langsung dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, untuk menunjukkan keseriusannya dalam mengajak Indonesia untuk lebih berperan di dunia internasional,” ujarnya.

Hanya saja, dibanding dengan kapasitasnya yang sangat besar itu, menurutnya peran Indonesia masih dianggap belum maksimal dalam mempromosikan nilai-nilai Islam yang moderat (wasathiyah) ke dunia internasional.

“Meski cukup aktif menyuarakan pentingnya membangun Islam rahmatan lil’alamin di ruang publik, tapi muslim Indonesia dinilai masih lebih banyak menghabiskan energinya untuk persoalan-persoalan domestik kontroversial dalam dirinya sendiri,” imbuh Oman.

Salah satu program yang selama ini dilakukan oleh Civilizations Exchange & Cooperation Foundation di Baltimore adalah mengkoordinir para imam dari berbagai Negara Muslim untuk melakukan kegiatan “cultural exchange” bersama para pendeta, rabi, pastor, dan tokoh-tokoh agama lainnya. Program ini dimaksudkan untuk menerjemahkan konsep “Islam rahmatan lil ‘alamin” ke dalam bentuk kegiatan interaktif yang lebih praktis sehingga memberikan manfaat tidak saja untuk kepentingan keumatan, tapi lebih dari itu kepentingan kemanusiaan (humankind) universal.

Menurut Oman, Imam Mohamad Bashar Arafat menerjemahkan konsep Islam “rahmatan lil ‘alamin” menjadi kegiatan-kegiatan dalam Program yang dikreasi dengan motto “Better Understanding for Better World”, atau disingkat BUBW.

Oman memaparkan bahwa Kementerian Agama telah menyadari pentingnya pembinaan dan pengiriman imam-imam asal Indonesia ke negara-negara lain. Mereka akan menjadi duta bangsa dalam mempromosikan Islam rahmatan lil ‘alamin, yakni Islam dengan pandangan dan tafsir keagamaan moderat yang tidak hanya memikirkan kemaslahatan dirinya, melainkan juga kemaslahatan manusia (humankind) secara keseluruhan.

“Sejak tahun 2017, Direktorat Jenderal Bimbingan Islam misalnya telah menjalin kerjasama dengan Kedutaan Uni Emirat Arab di Jakarta dalam pengiriman imam-imam masjid asal Indonesia, untuk menjadi imam di UEA,” ujarnya.

Tahun 2017, Kementerian Agama telah mengirimkan 13 imam ke UEA, dan akan diikuti tahun 2018 ini ke Abu Dhabi.

Menurut Oman, program pengiriman imam oleh Kementerian Agama dengan misi promosi moderasi beragama memang perlu dikembangkan dan lebih responsif lagi. Bahkan, mungkin ke depan dapat dipikirkan dibentuknya semacam atase keagamaan di luar negeri (Eropa, Barat, Asia), yang tugasnya adalah membina kehidupan keagamaan masyarakat di luar negeri, bukan saja penduduk setempat, melainkan juga warga Muslim Negara Indonesia sendiri yang bekerja di luar negeri.

“Selama ini para tenaga kerja Indonesia, misalnya, sering kali harus mendatangkan secara instan imam-imam dari Indonesia, demi untuk memenuhi dahaga kegiatan keagamaan mereka,” terang Oman.

Selain itu, ia menambahkan bahwa Kementerian Agama juga dapat memproyeksikan pengiriman imam ke Negara-negara Barat dan Eropa. Pemahaman masyarakat Barat/Eropa terhadap Islam yang terbatas, serta lebih banyak dipengaruhi oleh citra Islam politik di Timur Tengah yang penuh dengan konflik, adalah salah satu sebab menguatnya ketakutan terhadap Islam (islamophobia) serta penolakan melalui kekerasan dan teror terhadap kehadiran Muslim di Barat/Eropa, seperti yang terjadi di Norwegia, Prancis, dan lainnya beberapa tahun lalu.

“Ini adalah kesempatan bagi Indonesia, melalui Kementerian Agama, untuk lebih memainkan perannya dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih damai,” ujarnya.

“Kampus UIII sendiri akan turut mempersiapkan para imam sekaligus akademisi yang dapat mempromosikan Islam yang toleran, ramah, dan moderat ke dunia internasional ini melalui jalur pendidikan tinggi Islam tingkat pascasarjana,” imbuh Oman.

Ia juga menilai bahwa selama ini, imam-imam di Negara-negara Barat/Eropa lebih sering berasal dari wilayah Asia Tengah yang dalam dakwahnya lebih banyak menekankan pendekatan halal-haram, ketimbang pendekatan kultural dan spiritual.

“Inilah kesempatan imam dan akademisi Muslim Indonesia untuk lebih terlibat dalam isu-isu kemanusiaan multikulturalisme di dunia internasional,” ujar Oman.

Oman menyarankan, selain mengundang professor di bidang kajian Islam dari luar, UIII juga dapat menyelenggarakan program pengiriman professor Muslim ke kampus-kampus di Barat/Eropa, untuk memberikan kuliah umum tentang Islam Indonesia.

LEAVE A REPLY