Gaido Group Gandeng Politeknik Negeri Jakarta Wujudkan Indonesia Jadi Sentral Ekonomi Syariah Dunia

0
294
Direktur Politeknik Negeri Jakarta, Abdillah dan founder sekaligus CEO Gaido Group Muhammad Hasan Gaido, foto bersama Kepala Cabang Gaido Travel Tangsel Samsudin, Pembantu Direktur Bidang Kerjasama, Dianta Mustofa Kamal, Ketua Jurusan Akuntansi, R. Elly Mirati, Ketua Jurusan Administrasi Niaga, Titi Purwinarti, Sekretaris Jurusan Akuntansi, Tetty Rimenda, Sekretaris Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Susilawati Thabrani, dan Kepala Program Studi Keuangan dan Perbankan Syariah, Agus Kusumaramdhani usai pertemuan di Ruang meeting Direktur PNJ Depok, Kamis (1/3). (foto:sam)
Direktur Politeknik Negeri Jakarta, Abdillah dan founder sekaligus CEO Gaido Group Muhammad Hasan Gaido, foto bersama Kepala Cabang Gaido Travel Tangsel Samsudin, Pembantu Direktur Bidang Kerjasama, Dianta Mustofa Kamal, Ketua Jurusan Akuntansi, R. Elly Mirati, Ketua Jurusan Administrasi Niaga, Titi Purwinarti, Sekretaris Jurusan Akuntansi, Tetty Rimenda, Sekretaris Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Susilawati Thabrani, dan Kepala Program Studi Keuangan dan Perbankan Syariah, Agus Kusumaramdhani usai pertemuan di Ruang meeting Direktur PNJ Depok, Kamis (1/3). (foto:sam)

HAJIUMRAHNEWS–Sinergi antara akademisi dengan pelaku bisnis di era pasar global seperti saat ini adalah sebuah keniscayaan. Pasalnya, dunia usaha sangat bergantung pada sumberdaya manusia yang dimiliki maupun lulusan perguruan tinggi yang berkualitas. Pun dengan civitas akademika akan membutuhkan dunia bisnis dalam menerapkan teori-teori dan ilmu pengetahuan yang didapatnya.

Demikian disampaikan founder sekaligus CEO Gaido Group, Muhammad Hasan Gaido dalam pertemuannya dengan Direktur Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Abdillah, SE. M.Si, beserta jajarannya di kampus PNJ Depok, Kamis (1/3).

“Karena itu, Gaido Group dalam menjalankan usahanya selalu mensinergikan tiga pihak yakni akademisi, dunia usaha dan pemerintah atau biasa kami sebut ABG yaitu Academy, Business and Goverment,” kata Hasan Gaido mengawali pembicaraan.

Dalam kesempatan itu, Hasan Gaido memaparkan sejarah Gaido Group mulai dari sebuah perusahaan biro travel yang melayani haji khusus, umrah, halal travel, ticketing, wisata domestik, wisata internasional, voucher hotel, dan transportasi darat yang didirikan pada tahun 2003 bernama Gaido Travel&Tours. Kini, setelah 15 tahun, kata Hasan, Gaido Travel, menjelma menjadi sebuah holding yang menangungi unit-unit usaha di berbagai bidang.

“Jadi, selain perusahaan biro travel sebagai cikal bakal usaha kami, Gaido Group mengembangkan berbagai unit bisnis di bidang pariwisata, penerbitan media, multimedia, perbankan, transportasi, kuliner, garmen, properti, pertanian, perkebunan dan energi,” kata Hasan Gaido.

Hasan Gaido menambahkan sebagai sebuah entitas bisnis, Gaido Group dalam Rakornas 2017 memantapkan diri sebagai perusahaan yang fokus untuk mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Karena itu, Gaido Group kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi nasional, salah satunya adalah Politeknik Negeri Jakarta. “Dengan menggandeng civitas akademik mulai dari mahasiswa dan akademisi, Gaido Group bertekad untuk menciptakan sejuta pengusaha di Indonesia yang mapan secara pengetahuan dan pengalaman,” ujar Hasan Gaido yang tercatat sebagai Presiden Indonesia Saudi Arabia Business Council (ISABC) ini.

Saat ini, lanjut Hasan, Gaido Group tampil sebagai motor penggerak, pelaku bisnis yang berkomitmen untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. “Gaido Group membangun visi 2045 dalam rangka memperingati 100 tahun Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bertekad untuk menjadikan Indonesia sebagai sentral ekonomi syariah dunia,” tegasnya sembari menyebut bahwa Gaido Group hadir sebagai integrated syariah business corporate.

Di kesempatan yang sama, Direktur PNJ, Abdillah menyampaikan bahwa perjalanan PNJ yang berdiri sejak 1982 pada awalnya merupakan bagian dari Universitas Indonesia (UI) dengan nama Politeknik UI. Barulah sejak 1998 lalu, lembaga pendidikan vokasi dalam bidang teknik dan bisnis ini berganti nama Politeknik Negeri Jakarta. Adapun kampusnya masih tetap berada di lingkungan UI Depok.

Menurut Abdillah, PNJ memiliki tujuh jurusan yakni Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Informatika dan Komputer, Teknik Grafika dan Penerbitan, Akuntansi dan Administrasi Niaga. Kampus ini, lanjut Abdullah, menyelenggarakan program diploma tiga dan sarjana terapan. Dan sejak 1985, PNJ telah meluluskan mahasiswa lebih dari 25.921 orang. “Saat ini, PNJ memiliki 6.976 mahasiswa dan 612 staf termasuk pengajar,” katanya.

Abdillah menambahkan, melalui visinya, menjadi politeknik unggul berkelas dunia pada tahun 2029, PNJ fokus pada pengembangan dan implementasi model pendidikan berbasis kompetensi. “PNJ hadir sebagai tempat pembangunan pengetahuan, keterampilan dan sikap, sebuah tempat pembangunan disiplin diri dan kepercayaan diri serta pembangunan keterampilan berwirausaha,” ujar Abdillah yang telah menjabat Direktur dua periode ini.

Di akhir pertemuan, kedua belah pihak siap untuk bersinergi mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Bahkan, selaku pimpinan tertinggi di PNJ, Abdillah menyatakan pihaknya membuka pintu lebar bagi dunia usaha khususnya dalam hal ini Gaido Group sebagai sebuah korporasi bisnis syariah yang terintegrasi untuk merealisasikan cita-citanya menciptakan sejuta pengusaha melalui kampus. “Sinergi antara akademisi dan pelaku bisnis semacam inilah yang musti kita dukung bersama terlebih PNJ telah mengikrarkan diri sebagai sebuah tempat pembangunan keterampilan berwirausaha,” tegasnya.

Turut hadir dalam pertemuan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) antara keduanya yang ditandatangani pada saat perayaan HUT Gaido Travel ke-15, Sabtu (10/2) lalu itu Kepala Cabang Gaido Travel Tangsel Samsudin, Pembantu Direktur Bidang Kerjasama, Dianta Mustofa Kamal, Ketua Jurusan Akuntansi, R. Elly Mirati, Ketua Jurusan Administrasi Niaga, Titi Purwinarti, Sekretaris Jurusan Akuntansi, Tetty Rimenda, Sekretaris Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Susilawati Thabrani, dan Kepala Program Studi Keuangan dan Perbankan Syariah, Agus Kusumaramdhani. (hai)

LEAVE A REPLY