Gaido Group Dorong Indonesia Jadi Sentral Ekonomi Syariah Dunia

0
340
Dialog "Indonesia Sentral Ekonomi Syariah Dunia" di Lumire Hotel Jakarta, Sabtu, 10 Februari 2018 menghadirkan pembicara dari Kadin, MUI, Bank Indonesia dan pelaku bisnis syariah. Dialog dipandu oleh Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Haji & Umrah.
Dialog “Indonesia Sentral Ekonomi Syariah Dunia” di Lumire Hotel Jakarta, Sabtu, 10 Februari 2018 menghadirkan pembicara dari Kadin, MUI, Bank Indonesia dan pelaku bisnis syariah. Dialog dipandu oleh Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Haji & Umrah.

HAJIUMRAHNEWS – Bisnis syariah di Indonesia belum pada titik yang menggembirakan. Hal ini bila diukur dari perspektif Indonesia sebagai negara dengan mayoritas agama Islam terbesar di dunia.

Dengan fakta ini, kita (Indonesia) seharusnya bukan lagi sebagai objek, tapi sebagai pelaku dan penggerak utama bisnis syariah di dunia.

Inilah tema utama yang mengemuka dalam dialog berjudul “Indonesia Sentral Ekonomi Syariah Dunia” di Ballroom Lumire Hotel, Sabtu, 10 Februari 2018.

Acara yang dipandu oleh Pemimpin Redaksi Majalah Haji & Umrah, Hayat Fakhrurrozi ini menghadirkan beberapa pembicara kompeten di bidang ekonomi syariah seperti M. Hasan Gaido (Inisiator Indonesia Sentral Ekonomi Syariah Dunia dan Presiden ISABC), HM Dawud Arif Khan (Sekretaris Bidang Industri, Bisnis dan Ekonomi Syariah-Badan Pengurus Harian DSN MUI), Jardine Ariena Husman (Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia) dan Helmy Shebubakar (Wakil Ketua Kadin Komite Tetap Timur Tengah & OKI).

Dalam salah satu ulasannya, M. Hasan Gaido, CEO Gaido Group dan Presiden ISABC (Indonesia Saudi Arabia Business Council) mengatakan bahwa Indonesia punya potensi besar untuk menjadi sentral ekonomi syariah dunia. Sayangnya, pangsa pasar keuangan syariah di Indonesia saat ini masih relatif kecil, yaitu baru sebesar 5,3% terhadap industri perbankan nasional.

Bahkan, bila dibandingkan dengan Jepang saja yang notabene bukan negara Islam, Indonesia ketinggalan start.

“Indonesia adalah mayoritas muslim terbesar di dunia, ya. Apakah sudah terdepan? Belum. Jepang itu sudah. Mohon maaf! Dengan Malaysia, (Jepang) sudah ada kerja sama tentang halal tourisme. Orang Indonesianya plango-plongo,” kata Hasan yang juga inisiator Indonesia Sentral Ekonomi Syariah Dunia ini.

Meski begitu, Hasan meyakini bahwa Indonesia akan menjadi pusat ekonomi syariah dunia kelak. Yang penting, “Sekarang bagaimana kepedulian kita bersama-sama untuk mewujudkan Indonesia menjadi sentra ekonomi syariah dunia. Yuk kita mulai dari diri kita sendiri,” ajaknya kepada para peserta dialog yang memadati Ballroom Lumire Hotel.

Sementara itu perwakilan dari Kadin, Helmy Shebubakar menekankan pada minimnya kesadaran orang-orang Indonesia untuk menggunakan bank syariah.

“Di Indonesia, yayasan Islam yang mengelola zakat, infak, sedekah dan wakaf itu banyak bahkan ribuan jumlahnya. Tapi, apakah mereka pakai rekening syariah? Nyatanya, masih ada yang di konvensional,” ujar Helmy yang juga Wakil Ketua Kadin Komite Tetap Timur Tengah & OKI ini.

Lebih lanjut Helmy juga mengatakan bahwa pabrik farmasi di Indonesia itu banyak, tapi untuk memproduksi obat masih sekedar pengemasan. Bahan-bahannya masih diimpor yang mungkin belum tentu halal.

“Ini juga masalah,” katanya.

Fakta ini, katanya, menunjukkan bahwa umat Islam di Indonesia hanya menjadi objek dari ekonomi syariah, belum menjadi subjek.

“Nah, Gaido ini salah satu satu pihak yang sudah mau jadi subjek. Semoga bisa terwujud!” ujarnya lebih lanjut.

Pembicara lainnya dari MUI, yaitu HM Dawud Arif Khan, mengatakan bahwa pihaknya telah berusaha untuk terus mendorong sertifikasi halal terhadap berbagai produk.

Bahkan, “MUI sendiri sudah menjalin kerjasama dengan banyak pihak termasuk Kadin dalam hal perdagangan produk halal,” ujar Dawud.

Di sisi lain ia juga menaruh kebanggaannya pada Gaido Group yang telah konsen pada upaya pengembangan bisnis syariah di Indonesia.

“Kami bangga ada pihak swasta dalam hal ini Gaido yang konsen dengan visinya untuk mewujudkan Indonesia sebagai sentral ekonomi syariah. Kami akan dukung,” ujarnya lebih lanjut.

Sementara itu, pihak Bank Indonesia yang kali ini diwakili oleh Jardine Ariena Husman, Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia masih menjadi 10 besar player ekonomi syariah dunia. Meski begitu,

Alhamdulillah, Pak Jokowi presiden kita melihat ini sebagai potensi yang sangat besar sehingga beliau sebagai Ketua Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) kemarin tanggal 5 Februari di istana negara melakukan rapat pleno yang pertama. Dan bisa dilihat di koran-koran bahwa beliau mencanangkan perlunya strategi nasional untuk mengembangkan ekonomi syariah ini terutama di industri produk halal dan pariwisata halal,” ujar ibu berkerudung dan berkacamata ini.

Selanjutnya, menurut beliau, pihak Bank Indonesia juga telah mengusulkan sebuah strategi nasional dan akan menjadi agenda besar di KNKS untuk dicapai, yaitu menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.

“Tujuan kami memang (Indonesia) menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Insya Allah, tahun 2024 keinginan itu akan terwujud,” ujarnya diikuti dengan tepuk tangan para peserta yang hadir. (Kun)

 

LEAVE A REPLY