Sepanjang 2017, YLKI Terima 22.613 Pengaduan Korban Jamaah Umrah

0
48
Ketua YLKI Tulus Abadi saat Jumpa Pers di Gedung YLKI, Duren Tiga-Jakarta, Jumat (29/7). (foto:ist)
Ketua YLKI Tulus Abadi saat Jumpa Pers di Gedung YLKI, Duren Tiga-Jakarta, Jumat (29/7). (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS-Tahun 2017 boleh dibilang menjadi tahun yang cukup kelam bagi penyelenggaraan ibadah umrah tanah air. Bagaimana tidak, hampir di sepanjang tahun 2017 penyelenggaan umrah di Indonesia selalu menjadi sorotan. Hal ini tak lain akibat banyaknya jamaah yang menjadi korban akibat program promo umrah yang ditawarkan para travel umrah.

Bahkan, di sepanjang tahun 2017 Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat telah menerima sebanyak 22.613 pengaduan dari calon jemaah yang batal berangkat umrah.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan jumlah pengaduan terbanyak berasal dari jamaah korban PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel) sebanyak 17. 557 pengaduan.

“Pengaduan 2017 terutama dipicu kasus First Travel dan Hannien Tour. Biro itu yang mendominasi pengaduan sehingga pengaduan batal umrah sangat tinggi,” papar Tulus Dalam konferensi pers di Kantor YLKI Jakarta, Jumat (19/1).

Selain First Travel, YLKI juga mencatat jumlah pengaduan yang cukup besar yaitu  dari travel Kafilah Rindu Kabah dengan jumlah pengaduan sebanyak 3.056 laporan, Hannien Tour  sebanyak 1.821 pengaduan, KJL Tour sebanyak 122 pengaduan, Basmalah Tour (Bandung dan Bintaro) sebanyak 33 pengaduan, Zabran & Mila Tour sebanyak 24 pengaduan, dan SBL Tour 2 pengaduan.

Jumlah ini, diakui Tulus masih sangat jauh dibanding jumlah real korban yang terdata di Mabes Polri dan Kementerian Agama . Apalagi yang terbaru ada Abu Tours yang kesulitan memberangkatkan 27 ribu jamaahnya.

Tulus pun menyoroti fungsi pengawasan yang harusnya menjadi kewenangan dari pemerintah kepada biro perjalanan umrah. Seperti misalnya mampu memantau dan menindak travel-travel yang menawarkan promo umrah murah dengan harga tak logis.

“Banyak biro-biro umrah yang memberikan harga di bawah Rp 10 juta misalnya, tetapi itu dibiarkan saja, padahal sudah jelas bagaimana mungkin umrah hanya dengan Rp 8 juta,” papar Tulus.

Sementara itu,  Staf bidang Pengaduan Konsumen dan Hukum YLKI Abdul Baasith menuturkan lambannya respon pemerintah dalam menindak lanjuti biro travel nakal tersebut membuat pengaduan jamaah ke YLKI terus bertambah. Bahkan nama-nama travel baru pun kian bermunculan.

 “Dulu Mei 2017 kami rilis hanya ada enam travel, namun di akhir 2017 ada tambahan tiga biro umrah, yaitu SBL Tour, Al Isya Tour dan Tisa Tour,” kata Abdul.

YLKI sendiri, lanjut Basith, telah melakukan beragam proses advokasi dan audiensi kepada pihak perusahaan travel, kepolisan pemerintah dan jamaah. Namun, lambannya respon pemerintah, menurutnya membuat proses penyelesaian kasus seperti ini pun menjadi berlarut-larut

LEAVE A REPLY