Rugikan 708 Jamaah Sebesar Rp 14 miliar, Bos JPW Dipenjara

0
36

Turquoise Happy Summer Quote Instagram PostHAJIUMRAHNEWS – Beberapa orang berseragam warna merah marun berkumpul di depan kantor Joe Pentha Wisata (JPW). Sejurus kemudian dua orang, yang satu berbaju merah marun yang tidak lain adalah seorang polisi (terlihat dari adanya tulisan “Polisi” di bagian punggung) dan satunya lagi baju warna hitam, mencoba untuk membuka pintu kantor yang terkunci. Setelah berusaha, tak lama kemudian kunci terbuka dan mereka pun masuk ke dalam.

Setelah itu tiba-tiba datang sebuah mobil polisi warna orange yang di sisi kirinya ada tulisan INAFIS (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System) Polda Riau. Mobil itu kemudian berhenti di depan kantor JPW.

Perhatian kita kembali ke sosok polisi yang berhasil membuka kunci kantor travel beberapa saat sebelumnya. Kini ia sudah berdiri lagi di pintu menghadap keluar sambil memperlihatkan sebuah barang bukti seperti koper, baju batik seragam jamaah dan berkas-berkas penting. Sementara itu beberapa wartawan terlihat sibuk mengabadikan moment tersebut sambil jepret sana dan jepret sini.

Setelah beberapa barang bukti disita dan dibawa pergi untuk dikumpulkan di satu tempat, pihak polisi yang diwakili oleh anggota INAFIS membentangkan garis polisi warna kuning pada bagian depan kantor. Sebuah tanda bahwa bangunan tersebut terlarang untuk dimasuki oleh siapapun kecuali pihak yang berkepentingan.

Demikian proses penggeledahan dan penyitaan kantor milik travel Joe Pentha Wisata yang sebelumnya bernama Joe Pentha Madania dan beralamat lengkap di Jl. Panda No.27/45 Sukajadi Pekanbaru Riau (Depan Mabes Brimob Jl. K.H. Ahmad Dahlan) ini.

Kepada media Kombes Polisi Hadi Purwanto, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, pun mengatakan soal aksi anak buahnya ini, “Jadi penggeledahan yang kita lakukan berdasar dari beberapa pemeriksaan yang kita lakukan terhadap beberapa orang saksi. Dari beberapa orang saksi kita menemukan adanya keterangan bahwa masih ada tersimpan di kantor Pentha ini untuk dilakukan penggeledahan. Dan penggeledahan ini kita lakukan mulai hari ini.”

Penggeledahan dan penyitaan kantor JPW memang sudah dilakukan beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 4 Januari 2018. Kini, sang pemilik travel sendiri yang bernama M Yusuf Johansyah (MYJ) sudah ditahan dalam rangka untuk memudahkan proses penyelidikan.

Sebelumnya, kuasa hukum JPW yaitu Fahmi mengaku kepada awak media bahwa kliennya berusaha untuk mengembalikan atau memberangkatkan jamaah dengan menjual asset-asetnya.

Adapun soal pemanggilan kliennya yang tidak datang sebanyak dua kali ke kantor polisi hingga kemudian ditangkap Fahmi mengaku,  “Kemarin karena berada di luar kota dalam rangka mencari investor untuk penjualan asset dan pemberangkatan jamaah.”

Itu dulu, kini sang tersangka sudah ada di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang menipu uang jamaah sebanyak 14 milyar dari 708 korban. Tapi, apakah setelah pelakunya ditangkap (pihak polisi masih mencari kemungkinan ada tersangka lain), semuanya selesai begitu saja?

Tentu saja tidak. Sebab, keinginan jamaah sederhana, hanya dua: diberangkatkan atau dikembalikan uangnya. Pasalnya, ternyata, banyak kisah pilu di balik terbongkarnya kasus penipuan travel JPW ini. Ada jamaah yang harus menjual tanahnya hanya demi bisa umrah. Ada pula yang harus menjual kebun karetnya seluas ¼ hektare seperti yang dilakukan Azhar, warga desa Terantang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau. Bahkan, ada yang menjual hewan ternaknya.

Bayangkan, mereka harus menjual sumber penghasilan mereka hanya demi bisa ke tanah suci. Tapi, apa yang mereka dapatkan? Kegagalan dan kemungkinan hilangnya uang dari genggaman mereka (tidak balik).

Bahkan, karena stress menghadapi kenyataan pahit ini, ada jamaah yang meninggal dunia seperti yang dialami oleh Maryulis (suami Nurhias). Bukannya kebahagiaan yang mereka dapatkan dengan bisa pergi ke tanah suci, melihat kakbah, shalat di Masjidil Haram, berdoa di dekat makam Nabi dan sebagainya. Justru nestapa yang mereka peroleh.

Pertanyaannya: bagaimana bisa JPW ini gagal memberangkatkan banyak jamaahnya? Ke mana uang mereka?

Untuk jawaban itu bisa kita dapatkan dari penjelasan Kombes Polisi Hadi Purwanto, “Yang bersangkutan tidak memberangkatkan karena uang digunakan untuk pendaftar pertama. (Jamaah) Yang membayar digunakan untuk yang membayar (jamaah) yang sebelumnya diberangkatkan.”

Dalam sebuah pembelaannya pihak travel mengaku, persoalan yang sebenarnya terjadi karena pihak maskapai membatalkan booking tiket jamaah, sehingga tidak jadi diberangkatkan.

Terlepas dari semuanya itu, kasus yang terjadi pada JPW ini sepontan saja semakin menambah daftar travel-travel yang bermasalah belakangan ini seperti First Travel (sudah dicabut izinnya), Hannien Tour (sudah dicabut izinnya), SBL (Solusi Balad Lumampah) dan yang lainnya.

Bisa jadi, akan kembali bermunculan travel-travel lainnya yang bermasalah. Pertanyaannya: sudah sedemikian parahkan kondisi bisnis travel haji dan umrah sehingga banyak jamaah yang gagal berangkat?

Tentu saja tidak. Sebab, masih banyak travel haji dan umrah yang amanah. Kasus di atas hanyalah segelintir saja. Meski begitu, kasus yang kecil ini justru menyoreng muka bisnis travel haji dan umrah secara keseluruhan. Alih-alih ingin mendapatkan pahala dari bisnis religi ini, justru dosa yang mereka gali dan kesedihan yang mereka bagi pada para jamaah.

Atas keadaan ini Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Riau, Ahmad Supardi Hasibuan pun berujar, “Kasus penipuan oleh JPW merupakan permasalahan yang harus disikapi dengan seksama oleh Kemenag karena hal tersebut berkaitan dengan pelaksanaan umrah yang berada di bawah pembinaan bidang PHU Kementerian Agama Provinsi Riau.”

Menurut Supardi, mencermati kasus ini dan untuk mengantisipasinya ke depan Kemenag Riau akan melakukan pertemuan dengan seluruh travel haji dan umrah untuk mendapatkan informasi yang akurat terkait 5 pasti (prosedur) haji dan umrah itu, sehingga tidak ada lagi jamaah haji dan umrah yang tertipu. Semoga! (Kun)

LEAVE A REPLY