Kisah Driver Ojek Online, Punya Pondok Pesantren dan Biayai Ratusan Santri

0
223
Endang Irawan Driver GO-JEL Pemilik Pesantren Nurul Iman dan Hidupi ratusan santrinya. (foto:ist)
Endang Irawan Driver GO-JEL Pemilik Pesantren Nurul Iman dan Hidupi ratusan santrinya. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS-Nilai ibadah seorang manusia tak hanya dipandang dari ibadah mahdhoh (langsung) kepada Allah saja. Melainkan juga dilihat dari bagaimana manusia mampu menebar kebaikan dan saling memberikan manfaat satu sama lain.  Berbuat baik dan memberi manfaat bisa dilakukan oleh semua orang, tak harus kaya dan tak harus punya jabatan.

Seperti yang dilakukan oleh Endang Irawan, seorang driver GO-JEK asal Bogor. Endang merupakan Ustadz sekaligus pemilik dari Pondok Pesantren Nurul Iman di Gunung Putri, Bogoryang mampu menghidupi 126 santrinya lewat pekerjaaannya bergelut dengan debu jalanan mengantar penumpang setiap hari.

Saat ditemui, Endang mengaku tak malu mengenakan jaket GO-JEK karena yang ia lakukan merupakan pekerjaaan halal demi menghidupi santri-santri dari kalangan kurang mampu di pesantrennya.

 “Awalnya saya bekerja mekanik elektrik khusus wilayah luar Pulau Jawa. Lalu memutuskan untuk berhenti karena tidak bisa fokus mengurus pesantren. Pulangnya harus nunggu sampai 6 sampai 8 bulan. Akhirnya barulah bergabung di GO-JEK,” kata Endang.

 “Saya sedang belajar ilmu agar tak dikenal orang. Selain itu, bagaimanapun juga, GO-JEK ini juga lah yang berjasa ikut membesarkan pondok saya,” lanjutnya.

Endang mengungkapkan bahwa pondok pesantrennya itu sudah ia dirikan sejak 12 tahun lalu dan memang diperuntukan bagi mereka yang memiliki kekurangan dari sisi biaya. Setelah bergabung dengan GO-JEK, ia pun mulai menawarkan bantuan  bagi anak para driver GO-JEK yang yatim atau tidak mampu dan ingin belajar Alquran dengan semua biaya ia  biaya pondok termasuk makan dan kebutuhan sehari-hari akan Ia tanggung.

Setiap harinya, Endang memberikan uang saku sebesar Rp 5 ribu kepada para santrinya. Dengan uang tersebut para santri sudah bisa membeli jajanan di daerah sekitar yang memang masih memiliki harga yang terjangkau.

“Makanya kalau saya datang, tukang jajanan pasti habis. Tukang bakso, di sana satu mangkok masih Rp 2 ribu, masuk gerobak pulangnya kosong. Bakwan juga, pokoknya kalau saya datang tukang-tukang dagang pasti udah bolak-balik,” tutur Endang.

Bergabung dengan GO-JEK menurut Endang memudahkannya untuk bisa lebih memantau kegiatan anak asuhnya di Pondok Pesantren karena memang masalah jam kerja yang lebih fleksibel. Meski begitu, banyak rekan sesame driver GO-JEK yang mengaku tak percaya bahwa dibalik penampilannya Endang merupakan pimpinan pondok pesantren.

“Orang tidak ada yang menyangka saya ketua pembina pondok pesantren. Tapi kalau saudara-saudara ke sana, melihat santri cium tangan sama saya, baru percaya,” katanya.

Setiap harinya, penghasilan yang ia dapatkan dari menjadi driver GO-JEK selalu ia bagi menjadi empat. Sebagian untuk menghidupi santri-santrinya, untuk keluarga, membayar kontrakan dan satu lagi untuk diri sendiri.

“Selalu saya bagi. Kan saya juga punya keluarga, punya anak yang saya sekolahkan di pondok pesantren di luar kota, dan rumah saya masih ngontrak. Belum untuk saya, untuk beli bensin, service motor dan lainnya,” pungkasnya.

Endang mengaku sejauh ini, melalui profesinya sebagai driver GO-JEK, ia tak begitu kesulitan untuk memenuhi semua kebutuhannya tersebut. Sebab, ia percaya setiap orang telah mendapat porsi rezekinya dari Allah dan Allah akan memberikan jalan keluar bagi semua permasalahannya.

 “Memang tidak masuk di akal. Tapi memang begitu adanya. Padahal motor saya sudah dari tahun 2002, tapi mengapa customer selalu bilang bapaknya oke, bapaknya mantep, dan berikan uang tip? Ngobrol di jalan juga kadang enggak. Nah, itu makanya kadang-kadang rezeki memang beda-beda,” tandasnya.

LEAVE A REPLY