Pernyataan Kontroversial PM India Soal Ibadah Haji

0
35

447285-modi-in-mysuruHAJIUMRAHNEWS – Beberapa waktu yang lalu PM India, Narendra Modi membuat pernyataan kontroversial. Dia menginginkan Kementerian Urusan Minoritas memastikan semua wanita yang telah mengajukan perjalanan berhaji sendirian (tanpa mahram atau wali), diizinkan berziarah.

Pernyataan ini mengundang reaksi kaum muslim India. Dilansir dari UCA News pada Jumat (5/1), kelompok Muslim mulai memprotes campur tangan perdana menteri ihwal masalah agama umat Islam. Umat Islam beranggapan, pemerintah tak memiliki mandat apapun terhadap agama mereka.

Menurut mereka, ibadah haji dianggap suci oleh umat Islam seluruh dunia. Itu juga diwajibkan hanya bagi orang dewasa yang mampu, minimal melakukannya sekali seumur hidup. Mampu di sini diartikan mampu berhaji secara fisik dan finansial. Sehingga, Islam tak pernah mewajibkan bagi yang tak mampu.

Kita ketahui bahwa ada sekitar 172 juta Muslim di India. Angka ini hanya 14,2 persen dari 1,3 miliar orang India yang mayoritas beragama Hindu. Jumlah yang cukup besar tentunya.

Tujuan PM Modi sebenarnya baik. Sebab, wanita Muslim di India tidak memiliki hak bepergian sendiri dan melakukan ibadah haji. Tetapi hal itu tak sejalan dengan nilai-nilai dasar dari ibadah haji, yaitu seorang wanita harus ditemani oleh mahramnya.

Dalam Islam berlaku hukum bahwa seorang wanita Muslim dilarang melakukan perjalanan lebih dari tiga hari atau lebih dari 78 mil tanpa wali laki-laki, entah untuk haji atau ke tempat lain. Sehingga, apabila seorang wanita tidak memiliki mahram dan tidak memiliki dana membawa wali laki-laki bersamanya berhaji maka mereka dibebaskan dari kewajibannya.

Dewan Hukum Pribadi Muslim All India, yang bertindak sebagai pengadilan yurisprudensi Islam, mengatakan bahwa Modi tidak memiliki mandat mengubah peraturan yang ditetapkan oleh agama manapun. Dewan itu mengingatkan haji adalah isu agama yang tidak bisa diputuskan oleh pemerintah.

Maulana Abdul Hamid Azhari (ulama), mengatakan bahwa sebagian besar umat Islam mengikuti panduan yang ditetapkan oleh Islam. Ini adalah masalah agama dan bukan sesuatu yang harus diangkat dalam legislasi dan disahkan di parlemen.

Ulama lainnya yang berbasis di Kashmir, Moulana Azhar Ali Shah mengatakan, Islam mendikte seorang wanita harus didampingi oleh suaminya jika dia ingin pergi ke haji. Jika suami dari seorang wanita tidak diizinkan (berangkat), maka dia harus disertai dengan mahram, yang berarti seorang kerabat laki-laki.

Sebagian menilai, apa yang dikatakan oleh Modi adalah bagian dari usaha dia untuk mendukung gagasan Partai Janar Bharatiya untuk menjadikan India sebagai negara yang benar-benar Hindu.

Syed Ali Geelani (89) mengatakan, campur tangan perdana menteri dalam masalah agama tidak dapat diterima. “Ini telah membuktikan faksi-faksi fanatik Hindu mempromosikan dogma spesifik dan bias mereka dan sangat bersikeras untuk mewartakan India sebagai negara Hindu,” tutur dia.

Namun, pandangan Modi ini rupanya didukung oleh sekelompok Muslim liberal. Seorang ilmuwan penelitian yang berbasis di New Delhi, Safura Farooqi mengatakan bahwa pembatasan terhadap wanita Muslim untuk bepergian sendiri dipaksakan tanpa konteks modern.

Dia mengatakan bahwa arahan awalnya dipaksakan untuk memastikan keselamatan wanita, terutama saat perjalanan udara tidak tersedia. “Tidakkah kamu melihat wanita Muslim bepergian keliling dunia sekarang ini? Jika mereka bisa mengunjungi negara lain, mengapa mereka tidak bisa melakukan ibadah haji tanpa pasangan laki-laki?” kata Safura.

Bagaimana dengan Anda? (Kun)

LEAVE A REPLY