Arab Saudi Terapkan Pajak 5%, Bisnis Haji & Umrah Terancam

0
563

4-dampak-mengerikan-anjloknya-harga-minyak-duniaHAJIUMRAHNEWS – Salah satu sumber pendapatan terbesar negara-negara Timur Tengah adalah minyak. Namun, harga minyak dunia kini sedang mengalami penurunan yang signifikan.

Para pelaku pasar mengatakan, melemahnya harga minyak hari ini disebabkan oleh kembalinya total kapasitas pipa berkapasitas 450.000 bpd di Laut Utara, serta perbaikan yang sedang berlangsung di jaringan pipa Libya, yang telah mengurangi produksi di sana sebesar 70.000 bpd menjadi 100.000 bph.

Data lain menunjukkan, hal ini diperkuat oleh permintaan impor minyak mentah dari China yang naik secara signifikan serta meningkatnya aktivitas kilang di AS. Di sisi lain, aktivitas perdagangan relatif tipis pada akhir tahun mengingat banyak pelaku yang berlibur.

Kondisi inilah yang memicu Arab Saudi memperlakukan pajak sebesar 5%. Jadi, sejak Januari 2018 Arab Saudi mulai memperlakukan pajak tersebut pada makanan, pakaian, barang elektronik, bensin, tagihan telepon, air dan listrik, serta pemesanan hotel.

Pertanyaannya: apakah kondisi ini akan berpengaruh pada biaya haji dan umrah?

Secara logika, sudah pasti akan berpengaruh. Kemungkinan besar harga untuk ibadah haji dan umrah pun mengalami kenaikan yang signifikan. Bisa saja harganya tidak naik, tapi travel beresiko akan kehilangan keuntungan dari bisnisnya ini. Dalam dunia bisnis, hal ini sulit dilakukan. Rumusnya, berdagang itu mencari untung, bukan rugi.

Meski begitu, kondisi ini tak akan berdampak besar pada animo dan antusiasme orang untuk pergi haji atau umrah. Sebab, yang namanya orang pergi haji atau umrah setiap tahun selalu saja jumlahnya bertambah, padahal harganya (haji & umrah) juga terus naik.

Mengapa? Karena orang selalu merindukan tanah suci. Jangankan yang belum pergi haji atau umrah, yang sudah ke sana pun ingin kembali lagi. Jadi, besarnya biaya terkadang bukan menjadi persoalan.

Inilah keuntungan dari bisnis travel haji dan umrah. Bisnis ini tidak pernah khawatir akan kehilangan peminat. Tinggal bagaimana menjaga agar travel tersebut terus amanah dan bertanggung jawab.

Apalagi, akhir-akhir ini kita banyak dihadapkan pada kasus-kasus penipuan travel yang sangat merugikan jamaah umrah seperti yang dilakukan oleh First Travel, SBL (Solusi Balad Lumampah), Hannien Tour dan sebagainya.

Jadi, masalahnya, bukan pada harganya atau jumlah peminatnya, tapi pada travelnya itu sendiri: amanah ataukah tidak? (Kun)

 

 

 

LEAVE A REPLY