CATATAN AKHIR 2017 (1) : Hebohnya Kasus First Travel

0
241
Polisi saat mengawal Andhika Surrachman, tersangka utama penipuan puluhan ribu jamaah umrah First Travel. (foto:ist)
Polisi saat mengawal Andhika Surrachman, tersangka utama penipuan puluhan ribu jamaah umrah First Travel. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS–Dunia bisnis perjalanan haji dan umrah di tahun 2017 telah meninggalkan jejak kasus yang menghebohkan. Betapa tidak, meledaknya kasus First Travel yang melibatkan sepasang suami istri Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan yang acap pamer gaya hidup mewah menjadi sorotan banyak pihak. Lantaran kasus itu pula, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap biro penyelenggara umrah menurun.

Kasus First Travel mulai mencuat ketika biro travel ini gagal memberangkatkan jamaahnya pada 28 Maret. Jamaah yang diinapkan di hotel sekitar Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Tanggal 18 April, Kementerian Agama (Kemenag) memanggil bos Firts Travel untuk memberikan klarifikasi. Pada 22 Mei Kemenag kembali mengundang First Travel mediasi dengan jamaah. Berikutnya pada 24 Mei 2017 Kemenag kembali memanggil First Travel, namun tidak datang.

Tanggal 10 Juli Kemenag mengeluarkan ultimatum kepada First Travel selama 7 hari untuk memberikan data jumlah jamaah dan proses refund, tapi tidak direspon First Travel. Akhirnya, 21 Juli Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membekukan operasional penjualan paket umrah murah First Travel. Hingga 1 Agustus, barulah Kemenag berani mencabut izin First Travel.

Alih-alih ingin mempertanyakan dan memediasi kasus gagal berangkat di kantor Kemenag, 9 Agustus Andika Surachman dan Annisa Hasibuan ditangkap oleh Dirtipidum Bareskrim Mabis Polri. Keesokan harinya 10 Agustus Polri menetapkan keduanya sebagai tersangka.

Andika dan istrinya Anniesa beserta adiknya Kiki Hasibuan disangka menipu sekitar 58.682 calon jamaah umrah dari kurun waktu Desember 2016 hingga Mei 2017. Selama kurun waktu tersebut, tercatat ada sekitar 72.682 calon jamaah, namun baru diberangkatkan 14.000 orang. Dan dari aksi tersebut First Travel menghimpun dana sebesar Rp 848,7 miliar yang didapat dari harga paket umrah promo seharga Rp 13,5 juta per paket.

Adanya sejumlah selebriti seperti Syahrini, Vicky Shu hingga Ade Irawan yang ikut terseret dalam kasus ini makin menghebohkan. Pasalnya, mereka pernah diendorse First Travel, meski tidak full, melainkan hanya mendapat diskon.

“Kerjasamanya adalah saya pastinya dapat discount dari harga asli, misalkan satu jadi setengah untuk saya. Di mana saya harus memposting (foto) satu kali setiap harinya ketika saya di Mekkah, Madinah dan di Istanbul. Tapi keluarga saya semuanya full membayar,” ujar Syahrini usai memberi kesaksian di Bareskrim Mabes Polri, Rabu (27/9).

Yang lebih mengejutkan lagi adalah data dan fakta yang dipaparkan oleh Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Badrudin seputar aliran dana jamaah yang diperuntukkan kegiatan fashion show Anniesa dan Andika di Amerika Serikat. “Satu ke New York gitu ya. Ya yang ada hubungannya dengan fashionnya, itu kami sudah tahu,” kata Kiagus.

Selain itu ada yang untuk membuka rekening, ada yang digunakan untuk membeli tiket, menyewa hotel dan sebagainya untuk berangkatkan jamaah. “Jadi yang terkait langsung ada, untuk operasional perkantoran, untuk pribadi juga ada,” katanya.

PPATK pun menemukan sisa dana sebesar Rp 7 miliar dari sebanyak 50 rekening First Travel yang telah diblokir PPATK. Di samping itu, PPATK juga memastikan adanya aset restoran di London, Inggris milik Andika yang berasail dari uang setoran calon jamaah umrah yang batal diberangkatkan. “Iya, aset itu kalau kami kan dari pihak transaksi, kalau transaksi ada. Artinya ya yang tercatat dalam transaksi ada dana untuk membeli aset itu,” tegasnya.

Sementara Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, kala itu masih dijabat Brigjen Rikwanto mengungkapkan bahwa Andika dan Anniesa juga menggunakan keuntungan dari dana jamaah diduga untuk berfoya-foya. Hal itu ditengarai setelah polisi tidak menemukan adanya keuntungan yang didapat oleh First Travel.

“Padahal dari hitung-hitungan dalam penyidikan, First Travel tidak ada keuntungan sama sekali. Yang ada adalah pemakaian anggaran yang disetorkan oleh para jamaahnya,” tandasnya.

Pada Kamis (7/12), pihak Kepolisian menyerahkan sejumlah barang bukti kasus First Travel sebanyak 807 barang yang berupa barang bergerak maupun dokumen kepada Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Kota Depok, Heri Jerman. Di antaranya baju dan gaun sebanyak 774 potong, kuintasi pembayaran pelunasan sebanyak 2040 lembar. Tak pelak, halaman Kejari Kota Depok pun dipenuhi kendaraan mewah berbagai merek seperti Hummer, Toyota Fortuner, Toyota Vellfire dan Pajero Sport yang merupakan sebagian dari 10 mobil mewah milik bos First Travel.

Adapun barang bukti lainnya yang tidak dibawah ke kantor Kejari Depok adalah tiga  rumah tinggal, satu unit apartemen, dan satu kantor milik First Travel. “Sementara uang Rp 1,537 miliar akan ditransfer dari rekening Polri ke rekening Kejari Kota Depok,” kata. (hai)

LEAVE A REPLY