6 Tips Menjadi Haji Mabrur, Nomer Terakhir Tak Disangka-sangka

0
100

haji-mabrurHAJIUMRAHNEWS– Cobalah Anda tanyakan pada jamaah haji, apa yang ada dalam benak mereka? Saya pikir sebagian besar –jika tidak dikatakan semuanya, mereka  akan menjawab ingin menjadi haji yang mabrur. Ingin agar hajinya diterima oleh Allah swt. Ingin agar kembali ke kampung halaman berubah menjadi orang yang lebih baik.

Mengapa jamaah haji ingin memperoleh haji yang mabrur? Gampang saja jawabannya: karena ingin sukses di dunia dan akherat. Di akherat mereka ingin mendapatkan surga Allah. Hal ini berdasarkan teks suci (hadits) yang tak terbantahkan, “Umrah ke umrah adalah penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari – Muslim).

Di dunia mereka juga ingin sukses dalam hidup dan karir mereka. Percayalah bahwa haji mabrur itu menjanjikan pelakunya akan mendapatkan kesuksesan dalam hidupnya di dunia ini. Haji mabrur adalah simbol kesalehan seseorang. Dan orang saleh selalu diikuti dengan kesuksesan. Ketika ia berusaha, usahanya akan sukses. Saat menjadi pekerja, kerjaannya juga akan sukses. Karena itu, orang yang pulang dengan membawa haji mabrur, dipastikan akan sukses hidupnya.

Tapi, untuk mendapatkan haji yang mabrur tentu saja tidaklah mudah. Tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Banyak proses yang harus Anda lalui agar keinginan itu bisa tercapai. Berikut ini ada 6 tips agar bisa menjadi haji yang mabrur:

Pertamaikhlas.

Ya keikhlasan dari Anda. Ikhlas adalah beribadah dan melakukan pekerjaan apapun semata-mata kerena Allah, tidak karena yang lain. Ketika tertinggal rombongan ia ikhlas. Ketika makanan datang terlambat ia ikhlas. Ketika disakiti orang ia ikhlas. Karena ia percaya bahwa semuanya sudah menjadi takdir-Nya. Ketika jamaah haji berada pada pemikiran seperti ini, percayalah ia telah melampaui tahap pertama untuk mendapatkan haji yang mabrur.

Allah berfirman, “Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Kedua, berhaji ala Rasul.

Maksudnya, mengikuti pola hajinya Rasul. Nabi saw. bersabda, Contolah cara manasik hajiku.” (HR. Muslim).

Ketika Rasul memerintahkan untuk thawaf, thawaflah! Saat Rasul melakukan sa’i, sa’ilah! Ketika Nabi bilang jangan banyak berkata-kata kotor dan berdebat selama beribadah haji, lakukanlah! Percayalah, ketika Anda melakukannya, Anda telah melampaui tahap kedua untuk mendapatkan haji yang mabrur.

Ketiga, harta untuk berhaji adalah halal.

Bukan dari cara-cara kerja yang haram atau hasil mencuri, hasil memalak, dan sebagainya. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak menerima kecuali dari yang baik.” (HR. Muslim)

Keempat, menjauhi segala kemaksiatan.

Maksudnya, menghindari hal-hal yang mendatangkan dosa seperti suka bergunjing, mencuri, melihat wanita cantik –kecuali tak sengaja, berantem, berhubungan seks dan sebagainya. Allah berfirman, “Barangsiapa yang menetapkan niatnya untuk haji di bulan itu maka tidak boleh rafats (kata-kata tak senonoh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan pada masa haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Kelima, berakhlak yang baik.

Selanjutnya adalah berakhlak baik seperti suka membantu orang, senang bersedekah, memudahkan urusan orang dan sebagainya.

Keenam, tidak pergi haji karena seluruh hartanya disedekahkan kepada orang yang membutuhkan.

Bagian keenam ini terkait dengan sebuah kisah yang sangat menggugah perihal seorang yang gagal naik haji karena uang untuk ibadah hajinya ia sedekahkan untuk orang yang membutuhkan.

Kisah ini tentang Abdullah bin Al-Mubarak. Suatu hari ia pergi haji untuk ke sekian kalinya. Setelah thawaf, ulama besar tabi’ut tabi’in yang lahir pada 118 H itu bermimpi. Ia melihat dua malaikat yang turun dari langit sedang bercakap-cakap.

“Berapa jumlah umat Islam yang menunaikan haji pada tahun ini?” tanya salah seorang malaikat.

“600.000 jama’ah haji,” jawab malaikat yang lain, “sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang diterima hajinya.”

Dalam mimpi itu, Abdullah bin Mubarak merasa terperangah. Jumlah sebanyak itu tak ada yang diterima? “Padahal jama’ah haji ini datang dari berbagai negeri. Mereka sudah mengeluarkan banyak uang, melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan. Bagaimana mungkin semuanya tidak diterima?” Ibnu Mubarak menangis.

“Namun…” lanjut malaikat, “Ada satu orang yang hajinya diterima. Namanya Ali bin Muwaffaq, seorang penduduk Damaskus yang berprofesi sebagai tukang sepatu. Sebenarnya ia tidak jadi berangkat haji, tetapi Allah menerima hajinya dan mengampuni dosanya. Bahkan berkat dia, seluruh jama’ah haji yang sekarang ada di tanah suci ini diterima hajinya oleh Allah swt.”

Abdullah bin Mubarak sangat bahagia. Ia bersyukur, hajinya dan haji seluruh jama’ah diterima. Sayangnya, Abdullah bin Mubarak terbangun sebelum mendengarkan dialog malaikat berikutnya. Sehingga ia pun tidak mengetahui lebih lanjut siapa orang mulia yang karenanya haji ratusan ribu orang ini diterima.

Musim haji selesai, rasa penasaran Abdullah bin Mubarak semakin menjadi. Maka ia pun memutuskan untuk pergi ke Damaskus, mencari seorang lelaki yang hajinya diterima sebelum ia datang ke tanah suci.

Damaskus bukanlah kota kecil. Alangkah susahnya mencari seseorang yang hanya diketahui nama dan profesinya, tanpa diketahui alamatnya. Namun dengan izin Allah, setelah berusaha dan bertanya ke sana kemari, akhirnya Abdullah bin Mubarak dapat menemukan rumah orang yang bernama Ali bin Muwaffaq.

“Assalamu’alaikum,” kata Abdullah bin Mubarak di depan rumah itu.

“Wa’alaikum salam.”

“Benarkah ini rumah Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu?”

“Ya, benar. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya Abdullah bin Mubarak, sewaktu haji saya bermimpi dua malaikat bercakap-cakap bahwa seluruh jama’ah haji tidak diterima hajinya kecuali Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu dari Damaskus. Padahal Ali bin Muwaffaq tidak jadi berangkat haji. Lebih dari itu, Allah akhirnya menerima haji seluruh jama’ah berkat Ali bin Muwaffaq.”

Mendengar itu Ali bin Muwaffaq sangat terkejut, hingga jatuh pingsan.

Setelah ia sadar, Abdullah bin Mubarak menceritakan kisahnya lebih lengkap. “Amal apakah yang telah engkau lakukan sehingga Allah menerima hajimu padahal engkau tidak jadi berangkat ke tanah suci?”

“Ya, aku memang tidak jadi berangkat haji. Sungguh anugerah dari Allah jika Allah mencatatku sebagai orang yang hajinya diterima. Sebenarnya aku telah menabung sejak lama, hingga terkumpullah biaya haji. Namun suatu hari, sebelum aku berangkat ke tanah suci, aku dan istriku mencium masakan yang sedap. Istriku yang sedang mengandung jadi sangat ingin masakan itu. Lalu kucari sumbernya, ternyata dari tetanggaku. Aku katakan maksudku, namun ia malah menjawab, ‘Sudah beberapa hari anakku tidak makan. Hari ini aku menemukan keledai mati tergeletak, lalu aku memotong dan memasaknya menjadi masakan ini. Makanan ini tidak halal untuk kalian.’

Mendengar itu, aku merasa tertampar sekaligus sangat sedih. Bagaimana mungkin aku akan berangkat haji sedangkan tetanggaku tidak bisa makan. Maka kuambil seluruh uangku dan kuserahkan padanya untuk memberikan makan anak dan keluarganya. Karena itu, aku tidak jadi berangkat haji.”

Abdullah bin Mubarak terharu. Bulir-bulir air mata membasahi pipi ulama itu. “Sungguh pantas engkau menjadi mabrur sebelum haji. Sungguh pantas hajimu diterima sebelum engkau pergi ke tanah suci,” kata Abdullah bin Mubarak kepada Ali bin Muwaffaq.

Demikian 6 tips agar Anda bisa menjadi haji yang mabrur. Semoga, jika diberikan kesempatan oleh Allah swt untuk pergi haji, kita semua bisa menjadi haji yang mabrur. Amien yra. (Kun)

LEAVE A REPLY