Menakar Pelayanan Haji 2017

0
71
Para petugas haji Indonesia. (foto:ist)
Para petugas haji Indonesia. (foto:ist)

PEMERINTAH mengklaim bahwa persiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini sudah hampir 100 persen. Jamaah haji siap diterbangkan ke Tanah Suci mulai 28 Juli. Termasuk persiapan untuk menyambut jamaah haji di Arab Saudi. Pun dengan adanya penambahan kuota sebanyak 52.200 jamaah, Pemerintah mengakui tidak terlalu kesulitan.

“Persiapan haji kita di Tanah Suci sudah mendekati 100 persen karena seluruh hotel-hotel, baik di Mekkah, Madinah, juga perusahaan katering, sudah kita kontrak. Dan sudah siap,” tegas Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Untuk penginapan jamaah di Mekkah kualitasnya setara hotel bintang tiga. Dimana setiap kamarnya dihuni maksimal tiga orang. Begitu pula dengan penginapan di Madinah semua sudah siap. Bukan hanya itu, Menag juga memastikan, transportasi lokal dari Mekkah ke Madinah dan sebaliknya, Jeddah ke Mekkah dan sebaliknya untuk jamaah haji sudah siap.

Nantinya, kata Lukman, ada bus Shalawat yang akan beroperasi 24 jam untuk mengangkut jamaah Indonesia yang tinggal 1,5 kilometer dari Masjidil Haram. Pemerintah Arab Saudi juga telah menyediakan lebih dari 16 ribu kendaraan yang dipersiapkan 27 perusahaan terafiliasi untuk melayani 2-4 juta muslim dunia.

Hanya saja, masih ada persiapan yang belum selesai yakni dokumen perjalanan ibadah haji berupa paspor dan visa gelombang kedua. Meski begitu, Menag merasa tenang, karena kloter pertama haji Indonesia sudah bisa berangkat pada 28 Juli mendatang. “Tinggal yang di Tanah Air, kita sedang menyelesaikan dokumen perjalanan ibadah haji dalam bentuk paspor dan visa. Seluruh gelombang pertama, paspor dan visa sudah selesai, tinggal kita menuntaskan gelombang kedua,” ujarnya.

Dan mulai tahun ini, lanjut Menag, tenda wukuf di Arafah sudah merupakan fasilitas yang baru. Bahkan, pada setiap tenda dilengkapi dengan alat pendingin udara. “Kain tendanya baru. Rangka tendanya pun lebih kokoh karena terbuat dari tiang rangka baja. Jumlah pendingin udara di dalam tenda juga diperbanyak. Jadi bukan hanya pakai AC saja, juga fan (kipas angin) yang ada di setiap tenda pun ditambah jumlahnya,’’ kata Lukman.

Namun, untuk ketersedian toilet di Mina, pihaknya masih terus mendesak pemerintah Arab Saudi, agar fasilitas ini ditambah. Pasalnya, terkait layanan Mina, pemerintah Indonesia tidak bisa berbuat banyak, hanya sebatas mengusulkan, karena itu menjadi otoritas pemerintah Arab Saudi. “Fasilitas ini memang sangat penting, mengingat nanti di Mina ada sekitar dua juta jamaah yang bermalam untuk melakukan lempar jumrah,’’ terang Menag.

Sementara terkait tenda di Arafah, pejabat di Kantor Urusan Haji Indonesia (KUHI) di Jeddah, Arsyad Hidayat mengatakan, di musim haji 2017 ini, rencananya pemerintah Arab Saudi akan mengganti tenda lama yang sudah digunakan lebih dari 100 tahun. Konon, kain tenda Arafah itu terbuat dari PVC dengan konstruksi rangka sangat kokoh, tahan api dan air, anti sinar UV, tidak mudah sobek, tidak menyerap panas dan tahan terpaan angin 30-40 km/per jam. “Di dalam tenda tersebut disediakan AC dan kipas angin,” katanya.

Dalam penyelenggaraan ibadah haji 2017 yang terbagi dalam 507 kelompok terbang (kloter) ini, pemerintah menurunkan petugas sebanyak 3500 orang. Artinya, seiring dengan bertambahnya kuota sebanyak 52.200 jamaah, tahun ini Pemerintah menambah 250 petugas dari tahun sebelumnya yang berjumlah 3.250 orang.

Untuk petugas kesehatan sendiri terdiri 1.963 orang. Tenaga itu terdiri dari tenaga kesehatan kloter atau Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang berjumlah 1.521 orang (507 dokter dan 1.014 perawat). “TKHI dari dokter dan perawat ini selalu menyertai jamaah haji dalam 507 kloter penerbangan, sehingga setiap keluhan jamaah haji langsung mendapat penanganan dari tenaga kesehatan yang menyertainya,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Eka Jusup Singka.

Sedangkan untuk tenaga kesehatan non-kloter yang sering disebut Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bidang kesehatan berjumlah 268 orang yang terdiri dari Tim Asistensi 8 orang, Tim Manajerial 13 orang, Tim Kuratif dan Rehabilitatif 154 orang, Tim Gerak Cepat 75 orang dan Tim Promotif dan Preventif 18 orang. Selain itu, ada juga Tenaga Pendukung Kesehatan (TPK) sebanyak 174 orang yang direkrut dari WNI yang bermukim di Arab Saudi.

Pemerintah juga meminta maskapai pengangkut jamaah haji dalam hal ini Saudia Airlines dan Garuda Indonesia untuk menggunakan produk Indonesia dalam penyajian makanan selama penerbangan jamaah haji. Sebagai contoh, teh produk lokal selain harganya yang relatif terjangkau, kualitasnya juga tidak kalah bagus. Sedangkan untuk air mineral kemasan agar diperbesar ukurannya. “Kurangi penyajian minuman bersoda karena kurang baik bagi kesehatan, ada baiknya diganti dengan jus dan perbanyak air mineral,” kata Menag.

Untuk memberikan layanan prima, pemerintah juga akan memenuhi menu makanan khusus karena alasan kesehatan. Syaratnya harus melapor ke pihak embarkasi masing-masing setidaknya tiga hari sebelum jadwal keberangkatan.

Sementara itu, Marketing Saudi Airlines, Sumista Abdul Rojak, menjelaskan pihaknya terus berusaha meningkatkan pelayanan kepada jamaah haji. Terkait hal ini makanan akan mulai diberikan kepada jamaah satu jam setelah pesawat tinggal landas. Ada dua pilihan makanan hangat yakni nasi, sayur, dan daging atau nasi, sayur, dan ikan. Makanan hangat berikutnya akan dibagikan kepada jamaah pada saat dua jam sebelum pesawat mendarat. Sedangkan kudapan diberikan dalam bentuk kemasan untuk dibawa jamaah sebagai bekal ketika mengurus proses imigrasi.

“Untuk tahun ini, Saudi Airlines menambah berat nasi yang semula 120 gram menjadi 130 gram. Untuk setiap penyajian makanan yang diberikan mengandung 1.000 kalori,” ujar Sumista.

Masih soal makanan, sebagaimana disampaikan Kasubdit Katering Haji Ahmad Abdullah menegaskan, pihaknya akan menambah layanan katering bagi jamaah haji selama di Tanah Suci. Dimana, jamaah haji bakal menerima layanan 59 kali makan yang terdiri dari 18 kali makan di Madinah, 25 kali di Mekkah, satu kali di Jeddah dan 15 kali di Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuna). Layanan katering di Madinah, juga akan diberikan di hotel jamaah dalam rentang waktu 8–9 hari sepanjang jamaah haji melakukan proses Arbain.

Ketika di Jeddah, akan diberikan saat kehadiran atau kepulangan yang melalui bandara King Abdul Aziz International Airport (KAAIA) Jeddah. Waktu kehadiran diberikan pada jamaah yang diberangkatkan pada gelombang kedua, sedang waktu kepulangan diberikan pada jamaah gelombang pertama.

Sedangkan katering di Mekkah, akan didistribusikan di hotel dua kali sehari, siang serta malam. Makan siang diberikan jam 08.00-11.00, makan malam jam 16.30-21.00. Sewaktu di Makkah, jamaah akan memperoleh makan selamat datang atau selamat jalan. Makanan selamat datang diberikan pada jamaah gelombang pertama begitu tiba dari Madinah. Sedang makanan selamat jalan untuk jamaah gelombang kedua ketika akan menuju Madinah. Begitu memasuki puncak haji, jamaah haji akan memperoleh 15 kali layanan katering di Arafah serta Mina. Sedang waktu di Muzdalifah, jamaah mendapat satu kali makanan ringan.

Terkait pemondokan, Direktur Layanan Haji Luar Negeri, Sri Ilham Lubis, memastikan bahwa penyediaan akomodasi jamaah selama di Arab Saudi sudah siap. Tahun ini, jamaah haji akan diinapkan di pemondokan setara dengan hotel bintang tiga. Untuk hotel di Mekkah, jarah terjauh dari Masjidil Haram 4,4 kilometer, sedangkan di Madinah jarak paling jauh dari Masjid Nabawi yakni 1,2 kilometer. “Ada 155 hotel di Mekkah yang berada pada enam wilayah, yakni Jarwal, Raudhah, Syisyah, Misfalah, Mahbas Jin, dan Aziziah,” kata Sri Ilham.

Hotel jamaah haji Indonesia terdekat dengan Masjidil Haram ada di wilayah Jarwal sejauh 963 meter. Selama di Mekkah, konsentrasi jamaah haji paling banyak ada di Mahbas Jin yang mencapai 47.877 jamaah. Hotel dengan kapasitas terkecil dengan daya tampung 328 orang, juga ada di Mahbas Jin. Sedangkan yang terbesar ada di Jarwal berkapasitas 21.801 orang.

Untuk di Madinah pemerintah menyewa setidaknya 131 hotel, dimana 95 persen hotel berjarak kurang dari 600 meter dari Masjid Nabawi. Sisanya terletak sejauh 700-1.200 meter dengan perincian 17 hotel berjarak di atas 600 meter, tiga hotel jaraknya 1.000-1.150 meter, dan hanya satu hotel yang berjarak 1,2 kilometer dari Masjid Nabawi.

Sekretaris Jenderal Kemenag, Nur Syam menjelaskan pada pelaksanaan ibadah haji 2017 ini, pihaknya sudah melakukan beberapa usaha perbaikan. Diantaranya pertama, penambahan layanan embarkasi dengan pemberian bantuan pengembangan serta standarisasi asrama haji. Kedua, penambahan layanan konsumsi jamaah haji di Mekkah. Ketiga, penambahan kualitas layanan transportasi jamaah haji antar kota di Arab Saudi serta bus shalawat dengan jumlah armada sebanyak 359 bus.

“Usaha perbaikan yang dilakukan Kementerian Agama ini tidak lain adalah upaya untuk perbaikan serta kenyamanan para jamaah. Semoga, pada tahun ini, tingkat kepuasan jamaah haji bakal makin baik,” harapnya.

Pemerintah dalam hal ini Kantor Teknis Haji pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Saudi Arabia meluncurkan Call Center (920013210) dan SMS/WA Center (0503500017). Layanan ini untuk memudahkan jamaah haji dalam menjalin komunikasi khususnya sebagai media komunikasi antara jamaah dan petugas. Kedua media komunikasi ini beroperasi 24 jam selama pelaksanaan ibadah haji. Nomor-nomor tersebut bisa ditemui dalam bentuk stiker dan spanduk yang dipasang di bus Sholawat dan hotel.

Tidak cukup sampai di situ, pemerintah juga merilis aplikasi mobile berbasis Android bernama Siskoppih (Sistem Informasi dan Komunikasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) yang dapat diunduh di PlayStore.

Untuk mempermudah pengawasan dan mempercepat petugas di bandara Arab Saudi sana, pemerintah juga menerapkan pengelompokan barang bawaan seperti koper, paspor dan kursi roda dengan tanda khusus berdasarkan warna. Warna pita koper dan stiker paspor dibedakan menjadi sepuluh rombongan dengan warna yang berbeda. Warna itu berurutan dari rombongan satu hingga sepuluh adalah merah, kuning, biru, cokelat, hijau, putih, oranye, ungu, hitam dan merah muda.

Tantangan

Boleh jadi, adanya penambahan kuota haji yang diberikan Kerajaan Arab Saudi bagi Indonesia di musim haji 2017 ini merupakan kabar gembira, namun sekaligus tantangan. Pasalnya, selain akan mengurangi antrian daftar tunggu yang selama ini menjadi momok bagi muslim Indonesia, namun kenaikan sebanyak 52.200 jamaah ini jadi tantangan besar.

Setidaknya, Kemenag sebagai leading sector penyelenggaraan haji Indonesia harus bekerja keras untuk mempersiapkan pelayanan ibadah haji pada 2017 ini secara matang. Jika musim haji 2016 lalu Indeks Kepuasan Jamaah Haji Indonesia mencapai 83,83 persen –yang dinilai lebih baik 1,16 poin dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 82,67 persen— maka tahun ini paling tidak harus dipertahankan. Dan pastinya, publik berharap besar pelayanan haji tahun ini akan meningkat.

Diakui Ketua Komnas Haji Indonesia, Mustolih Siradj, memang penyelenggaraan haji 2017 memiliki tantangan tersendiri bagi Kementerian Agama. Pasalnya, kata Mustolih, tahun ini jumlah jamaah haji lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Sehingga sudah semestinya persiapan yang dilakukan lebih matang.

“Jika merujuk pada pelaksanaan tahun lalu yang menjadi persoalan yang mencuat adalah keterlambatan visa pada beberapa kloter, maka tahun ini tidak boleh terjadi lagi,” katanya.

Justeru Mustolih mempertanyakan, kenapa petugas kesehatan pada tahun ini malah berkurang, padahal jamaah bertambah. Menurutnya, masih ada waktu bagi pemerintah untuk mengevaluasi lebih jauh persiapan dan jadwal-jadwal prosesi penyelenggaraan ibadah haji baik di Tanah Air maupun selama di Tanah Suci nanti. (*)

LEAVE A REPLY