Lebih 2.500 Santri Ikuti MQK 2017

0
155

HAJIUMRAHNEWS- Pesantren Roudlotul Mubtadiin  yang terletak di Balekambang, Jepara, Jawa Tengah tahun ini kembali terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan  Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat Nasional ke VI  yang akan berlangsung dari 29 November hingga 7 Desember 2017.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ahmad Zayadi mengungkapkan  MQK tahun ini akan diikuti oleh lebih dari 2.500 santri di 25 bidang lomba kitab kuning dari berbagai pesantren diseluruh Indonesia. “Hampir dipastikan, peserta yang mengikuti lomba kitab kuning itu santri atau pernah nyantri di pondok pesantren,” kata Zayadi di Jakarta, Senin (27/11).

Zayadi menegaskan bahwa ajang MQK merupakan wadah untuk memperlombakan substansi dari apa yang selama ini diajarkan di pondok pesantren. Para Santri akan unjuk kebolehan dalam membaca membaca, memahami, menerjemahkan dan mengartikulasikan teks-teks yang terdapat dalam kitab kuning.

“Kitab kuning merupakan ruh dari pondok pesantren. Tanpa kajian kitab, bukanlah pondok pesantren,” ujar Zayadi.

“Total ada 25 bidang yang akan dikompetisikan yang terbagi dalam tingkat dasar, menengah, dan tinggi,” sambungnya.

Untuk marhalah ula (tingkat dasar), ada lima bidang lomba, yakni:

  1. Fiqh (KitabMatn Safînah an-Najâkarya Sâlim Samîr al-Hadlary);
  2. Nahw (KitabMatn al-Âjurrûmîyahkarya Abu Abdillâh Muhamad ash-Shanhâjî);
  3. Akhlaq (KitabWashâyâ al-Âbâ li al-Abnâ’karya asy-Syaikh Muhammad Syâkir);
  4. Tarikh (KitabKhulâshah Nûr al-Yaqînkarya ‘Umar ‘Abd al-Jabbâr); dan
  5. Tauhid (KitabAqîdah al-‘Awâmkarya Ahmad Muhammad al-Marzûqi al-Mâliki).

“Marhalah ula diikuti santri yang sudah berada di pesantren minimal satu tahun, dan berusia maksimal lima belas tahun kurang satu hari,” papar dia.

Untuk marhalah wustha (tingkat menengah), ada sembilan bidang lomba, yakni:

  1. Fiqh (KitabFath al-Qarîb al-Mujîb fî Syarh Alfâzh at-Taqrîbkarya Abû Abdillâh Syams ad-Dîn Muhammad Qâsim Al-Ghazziyy);
  2. Nahw (KitabNazhm al-Âjurrûmîyah (al-‘Imrîthî) karya Syarf ad-Dîn Yahyâ al-‘Imrîthî);
  3. Akhlaq (KitabTa’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum, karya Burhân al-Islâm az-Zarnûjiy);
  4. Tarikh (KitabNûr al-Yaqîn fî Sîrah Sayyid al-Mursalîn, karya asy-Syaikh Muhammad al-Khudhari Bik);
  5. Tafsir (Kitab Tafsiral-Jalâlain, karya Jalâl ad-Dîn al-Mahalliy & Jalâl ad-Dîn as-Suyûthiy);
  6. Hadis (KitabAl-Majelis al-Saniyah Fil al-Kalam Ala Arba’in An- Nawawiyah(Syarh Kitab Al-Arbain An-Nawawi) karya Syaikh Ahmad bin Hijazi Al Fasyani);
    7. Ushul Fiqh (Kitab Al-Waraqat  karya Abu al-Ma’ali Abdul Malik al-Haromain);
  7. Balaghah (KitabAl-Jauhar al-Maknûnkarya Abd ar-Rahmân Shaghîr Al-Akhdlariy); dan
  8. Tauhid (KitabRisâlah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ’ahkarya KH. Hasyim Asy’ari).

“Tingkat ini diikuti santri yang sudah menetap minimal 1 (satu) tahun, dan berusia maksimal 18 (delapan belas) tahun kurang 1 (satu) hari,” lanjutnya.

Untuk marhalah ulya (tingkat tinggi), ada 11 bidang lomba, yakni:

  1. Fiqh (KitabFath al-Mu’în bi Syarh Qurrah al-‘Ain bi Muhimmât ad-Dînkarya Ahmad Zain al-Dîn al-Malîbârî);
  2. Nahw (KitabSyarh Ibn ‘Aqîl ‘alâ Alfîyah Ibn Mâlikkarya Bahâ’ ad-Dîn Abdullâh Ibn ‘Aqîl);
  3. Akhlaq (KitabMukhtashor Ihya ‘Ulumu al-Din, karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali);
  4. Tarikh (KitabAr-Rahîq al-Makhtûmkarya Shafiy ar-Rahmân al-Mubârakfûri);
  5. Tafsir (KitabMarâh Labîd li Kasyf Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîdkarya asy-Syaikh Muhammad ‘Umar Nawawi al-Jâwî);
  6. Ilmu Tafsir (KitabAl-Itqân Fî Ulûm al-Qur’ân, karya Jalâl ad-Dîn as-Suyûthiy);
  7. Hadis (KitabNuzhatul Muttaqin Syrah’ala Riyadh ash-Shalihinkarya al-Syaikh Dr. Musthofa al-Bugho);
  8. Ilmu Hadits (KitabManhaj Dzawî an-Nazhar Syarh Mazhûmah al-Atsarkarya Syekh Mahfud Termas);
  9. Ushul Fiqh (Kitab Syarhal-Luma’ Bayan al-Mullama’ ‘an al- Lafzhi al-Luma’karya KH.Sahal Mahfuzh al-Jawi);
  10. Balaghah (KitabUqûd al-Jumânkarya Jalâl ad-Dîn as-Suyûthiy); dan
  11. Tauhid (KitabHâsyiyah ad-Dasûqî ‘alâ Umm al-Barâhîn li as-Sanûsiy, karya asy-Syaikh Muhammad ad-Dasûqî).

“Marhalah ulya ini akan diikuti santri yang sudah mukim di pesantren minimal satu tahun, dan berusia maksimal 21 tahun kurang sehari,” tutupnnya.

LEAVE A REPLY