Baznas Resmikan Kampung Tanggap Bencana

0
30
Peresmian Kampung Tanggap Bencana oleh Baznas
Peresmian Kampung Tanggap Bencana oleh Baznas

HAJIUMRAHNEWS – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) meresmikan Kampung Tanggap Bencana di Desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

“Kampung Tanggap Baznas ini merupakan bentuk inisiasi ketangguhan yang utuh bagi masyarakat dengan sinergitas program Baznas,” ujar anggota Baznas Nana Mintarti, di lokasi program yang terletak di Kampung Sukamukti itu, sebagaimana dalam keterangan resmi yang diterima hajiumrahnews.com, Kamis (23/11).

Hadir Direktur Koordinator Pendistribusian, Pendayagunaan, Renbang dan Diklat Zakat Nasional Baznas Mohd Nasir Tajang, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dan Ketua Baznas Provinsi Jawa Barat KH. Arif Ramdani. Acara ini juga ditandai pemberian sarana usaha Kopi Tangguh Sukamukti.

Nana menjelaskan, Sukamukti merupakan kampung terparah terdampak bencana banjir bandang pada Mei 2016 silam. Di mana sebanyak 63 dari 134 rumah rusak dan seluas 32,5 hektare areal pertanian milik warga gagal panen.

“Hasil parcipatory rural appraisal atau PRA, longsor terhitung sering terjadi dikarenakan keadaan alam Kampung Sukamukti yang berada di antara dua gigir bukit sehingga kampung ini berada pada wilayah rawan longsor,” ujarnya.

 

Direktur Baznas Mohd Nasir Tajang menambahkan, hasil pendampingan masyarakat melalui program Kampung Tanggap Baznas, mendorong warga Kampung Sukamukti memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana.

“Tetapi itu belum terstruktur secara baik dan terdapat potensi livelihood atau penghidupan, yang bila diberikan sistem kesiapsiagaan di dalamnya diharapkan dapat membangun sustainable atau kebersinambungan, baik saat tidak terjadi bencana maupun saat terjadi bencana, sampai pada keadaan pascabencana,” ujarnya.

Nasir mengemukakan, kesiapsiagaan dibentuk pada dua sisi sesuai dengan definisi bencana itu sendiri, yakni kesiapsiagaan terhadap kehidupan dan penghidupan.

“Pembentukan kesiapsiagaan terhadap kehidupan masyarakat antara lain seperti pengenalan tentang materi pengurangan risiko bencana, analisa partisipatif risiko bencana, penentuan bencana prioritas, penyusunan sistem peringatan dini dan rencana aksi sampai pada uji coba rencana aksi atau simulasi,” katanya.

Di samping itu, imbuh Nasir, inisiasi terhadap ketangguhan penghidupan yakni menemukan potensi aset tradisional dengan memberikan alat usaha dan sistem simpanan dalam bentuk hasil panen yang dapat dimanfaatkan saat kondisi paceklik, gagal panen atau kondisi darurat bencana sebagai stimulan pengembangan penghidupan bagi warga terpapar ancaman bencana.

“Badan Amil Zakat Nasional merupakan barometer praktik penyaluran zakat di Indonesia, dengan pembuka program Baznas Tanggap Bencana dalam bentuk Kampung Tanggap Bencana, peningkatan ketangguhan dan kebersinambungan penghidupan hendaknya dapat mengurangi keterpaparan dan angka kemiskinan pascabencana melalui sinkronisasi program-program penyaluran Baznas,” ucapnya.

Nasir menyatakan, simultan sistem simpanan hasil panen dan alat usaha bagi warga hendaknya dapat menjadi modal awal bagi pendampingan penghidupan mereka dengan program Zakat Community Development (ZCD) agar dapat terus bersinambungan dan berkembang dikemudian hari.

“Hal ini merupakan bentuk deferensiasi praktik program peningkatan ketangguhan masyarakat melalui penyaluran dana zakat yang dibandingkan dengan lembaga penanggulangan bencana di Indonesia, maka dengan bentuk sinkronisasi program ini diharapkan dapat menunjukkan kiprah lembaga zakat dalam upaya pencapaian pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs),” tuturnya.

Nasir berharap, melalui kegiatan program Kampung Tanggap Bencana akan mengujicobakan rencana aksi masyarakat yang telah disusun selama proses pendampingan yang telah berjalan selama satu bulan. Yakni, imbuh dia, dengan melakukan simulasi bencana.

Pada pelaksanaan simulasi bencana ini, lanjut Nasir, dukungan program kesehatan Baznas yang dalam praktik tanggap darurat bencana juga memiliki banyak andil menjadi penting sebagai bentuk antisipasi kecelakaan saat pelaksanaan simulasi.

Menurut dia, simbolisasi penyerahan alat usaha simultan menunjukkan deferensiasi praktik pendampingan ketangguhan masyarakat yang utuh. “Yaitu, tidak hanya tangguh saat tanggap darurat bencana, tetapi juga memiliki sistem penghidupan yang bersinambungan serta berkelanjutan yang akan disaksikan oleh stakeholder utama penanggulangan bencana di Indonesia, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan pihak terkait lain,” ujarnya. (hai)

LEAVE A REPLY