Goresan Jihad Sang Kyai

0
43
ilustrasi
ilustrasi

HAJIUMRAHNEWS – Di masa kolonialisme, pesantren merupakan salah satu basis pergerakan pejuang kemerdekaan Indonesia. Para kyai sebagai tokoh sentral berhasil menjadikan surau-surau di lingkungan pesantren tidak hanya sebagai tempat mengaji para santri, tapi juga sebagai pusat kegiatan politik, penyebaran informasi serta penggalangan strategi. Dapat dikatakan, kolaborasi antara pesantren, kyai dan santri menjadi pilar penting bangsa Indonesia dalam melawan dan mengusir penjajah. Kontribusi mereka, salah satunya tercatat pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Luluh lantaknya kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 memaksa kekaisaran Jepang untuk menyerah kepada tentara sekutu, sekaligus mengakhiri perang dunia kedua. Kabar kekalahan Jepang mendorong rakyat dan pejuang kemerdekaan di tanah air untuk melucuti persenjataan tentara Jepang yang ketika itu menduduki Indonesia. Belum lama upaya pelucutan tersebut berlangsung, kabar tidak sedap datang dari Jakarta: tentara Inggris berhasil mendarat di Indonesia pada tanggal 15 September 1945.

Kedatangan tentara Inggris ke Indonesia membuat Soekarno mengkhawatirkan kedaulatan Indonesia. Situasi ini membuatnya meminta K.H. Hasyim Ay’ari secara khusus untuk memberikan fatwa tentang pentingnya jihad memperjuangkan tanah air. Atas permintaan Soekarno, K.H. Hasyim Ay’ari mengeluarkan fatwa jihad pada tanggal 17 September 1945. Menindaklanjuti fatwa yang telah dikeluarkan, K.H Hasyim Asy’ari memanggil K.H Wahab Hasbullah agar mengundang seluruh ulama NU di seluruh Jawa dan Madura.

Hasil pertemuan yang berlangsung selama 2 hari di Surabaya tersebut (21-22 Oktober 1945) menghasilkan pernyataan sikap yang kelak mampu membakar semangat juang para santri dan warga Surabaya untuk gagah berani menghadapi tentara sekutu. Melalui konsul-konsul yang datang ke pertemuan, seruan wajibnya membela tanah air yang termanifestasikan dalam resolusi jihad disebarluaskan ke seluruh elemen umat Islam umumnya khususnya yang berada di Jawa dan Madura.

Tiga hari setelah resolusi jihad dikeluarkan, tentara Inggris atas nama blok sekutu di bawah komando jenderal Mallaby berhasil mendarat di Surabaya. Awalnya kedatangan mereka dimaksudkan untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang sekutu yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Nyatanya, kedatangan mereka memiliki tujuan lain untuk mengembalikan Indonesia sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Diambil alihnya bangunan-bangunan vital dan strategis oleh tentara Inggris serta provokasi yang dilancarkan oleh mereka memunculkan gejolak perlawanan oleh rakyat Indonesia, khususnya para kyai dan santri.

Tercatat, Pasukan Hisbullah yang terdiri dari para santri dan pemuda dengan pimpinan H. Zainul Arifin, barisan non reguler Sabilillah yang terdiri dari para kyai dan dikomandani oleh K.H. Maskur, serta K.H. Wahab Hasbullah dengan barisan Mujahidinnya berhasil merepotkan bala tentara Inggris. Belum lagi barisan tentara PETA dan TKR didikan Jepang yang hampir setengah batalyonnya dipimpin oleh para kyai berkat strategi cerdik yang dimainkan oleh K.H. Wahid Hasyim, K.H. Ilyas dan, K.H. Yusuf Hasyim.

Pertempuran yang sengit antara kedua belah pihak memaksa Inggris untuk berunding dengan pemerintah Indonesia dan melakukan genjatan senjata pada tanggal 30 Oktober. Namun pertempuran kembali meletus di hari yang sama serta menewaskan komandan pasukan sekutu Jendral Mallaby. Kondisi itu membuat Inggris memutuskan untuk mengambil alih Surabaya dengan paksa. Puluhan ribu pasukan beserta puluhan artileri darat, air maupun udara didatangkan untuk menunjang kekuatan Inggris menghadapi perlawanan pejuang kemerdekaan Indonesia yang terbukti merepotkan mereka.

Ultimatum dan ancaman Inggris kepada masyarakat Surabaya untuk menyerah, meninggalkan kota kelahirannya serta meyerahkan persenjataan kepada mereka dijawab dengan penolakan. Pada akhirnya, di tanggal 10 November meletuslah pertempuran heroik yang kelak dikenang sebagai hari pahlawan. Berbekal resolusi jihad serta pidato berapi-rapi Bung Tomo yang diiringi pekikan takbir, rakyat sipil dari berbagai elemen tidak henti-hentinya terus bertempur mempertahankan negerinya dari cengekeraman imperialis. Persenjataan yang minim tak melemahkan semangat jihad yang membara, karena mereka memiliki Allah, Sang Maha Penolong.

Akhir pertempuran yang berlangsung selama tiga minggu tersebut memang menimbulkan kerugian masif di pihak Indonesia. Namun, meski dengan persenjataan dan kekuatan yang lebih rendah dan korban jiwa yang lebih banyak dibanding pihak Inggris, rakyat Indonesia terbukti mampu merepotkan mereka. Semuanya tak bisa dilepaskan dari peran kyai serta santri yang memaknai pertempuran melawan penjajah tidak semata mengusir mereka dari tanah air, lebih tinggi dari itu, untuk mencari keridhoan Allah Azza wa Jalla. Kedudukan para kyai di masyarakat, kecerdasan mereka dalam membaca keadaan serta mengambil keputusan mampu menjadi motor pergerakan di masyarakat. Goresan hitam tinta para ulama dan merahnya darah para syuhada nyatanya telah membuat negeri ini mampu terbebas dari belengu penjajahan.

Perjuangan para kyai dan santri di masa lalu mampu kita rasakan hasilnya di masa kini berupa nikmat kemerdekaan. Namun bukan berarti perjuangan telah usai. Sudah selayaknya sebagai generasi terdidik, spirit mereka merawat negeri ini kita teruskan dengan melakukan kerja-kerja produktif untuk perbaikan ummat. Menjadikan negeri ini baldatun thayyibatun. (*)

Penulis: Abdullatif Ridho

LEAVE A REPLY