10 Catatan Penyelenggaraan Ibadah Haji 1438H

0
130
Salah Satu Rangkaian Prosesi Ibadah Haji. (foto:ist)
Salah Satu Rangkaian Prosesi Ibadah Haji. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS-Penyelenggaraan haji tahun ini terbilang sukses dan tanpa ada hambatan berarti. Pujian pun datang dari berbagai kalangan terkait meningkatnya pelayanan pada jamaah haji tahun ini. Meski demikian, Amirul Hajj yang juga Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin masih memiliki 10 catatan penting.

Dalam rapat evaluasi delegasi Amirul Hajj dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang dihadiri Dubes RI untuk Saudi Agus Maftuh Abegebriel dan perwakilan dari KJRI Jeddah Menag Lukman mengatakan, setidaknya ada catatan 10 point evaluasi penyelenggaraan haji.

Seluruh permasalahan itu akan dibahas lebih lanjut agar pelaksanaan haji tahun berikutnya dapat terlaksana lebih baik lagi. Sepuluh catatan pelaksanaan ibadah haji tahun ini:

  1. Perbaikan infrastruktur di Arafah – Muzdalifah – Mina (Armina).

Menag mencatat tentang perlunya penambahan pasokan listrik, tenda, dan toilet, utamanya di Mina. Menurut Menag ada dua hal yang perlu dilakukan ke depan, yaitu:  lobby pemerintah Saudi agar meningkatkan kapasitas  infrastruktur di Mina.

“Saya berharap Pak Dubes bisa meyakinkan Saudi agar Mina bisa menjadi contoh dunia bahwa umat Islam bisa melaksanakan ibadahnya dengan baik,” katanya.

  1. Status jemaah haji.

Menag mengatakan, jangan sampai ada jemaah yang dideportasi karena ternyata memiliki catatan hukum di Saudi.

Oleh karena itu, perlu dilakukan kerja sama dengan pihak imigrasi Arab Saudi untuk melakukan screening bahwa seluruh calon jemaah haji bersih dari permasalahan hukum

  1. Tentang rencana perubahan  sistem sewa hotel di Madinah.

Harus dilakukan kajian mendalam mengenai sistem sewa hotel di Madinah apakah harus tetap sistem sewa blocking time atau sistem sewa satu musim.

“Ini bagian yang perlu kita dalami, dari blocking time rencananya akan diubah jadi sewa musim,” ucapnya.

  1. Penambahan kuota petugas,

Tahun ini, kuota petugas  hanya 3.500, dan itu terbukti belum mampu mengimbangi banyaknya jemaah haji Indonesia.

  1. Perlunya ruang rawat khusus di bandara, Jeddah dan Madinah.

Seperti tahu lalu, keberadaan klinik di Bandara Jeddah diadakan lagi untuk tahun 2018. Karena jumlah jemaah Indonesia yang lansia atau berisiko tinggi tetap butuh pengawasan saat berada di bandara.

  1. Transportasi di Arafah dan Muzdhalifah.

pemerintah akan mengupayakan agar bus pengantar jemaah ke Masya’ir (Arafah – Muzdalifah – Mina) bisa diupgrade. Evaluasi tahun ini, banyak jemaah Indonesia yang menggunakan bus tua.

“Meski jaraknya tidak panjang, karena macet, ini perlu jadi perhatian kita,” terangnya. Selama ini, angkutan Masya’ir menjadi kewenangan penuh pemerintah Saudi.

  1. Keberadaan TPHD (Tim Pemandu Haji Daerah).

Menurut Menag, ke depan harus ada penegasan tentang siapa yang layak menjadi TPHD dan bagaimana tugas mereka bisa dioptimalkan.

  1. Jemaah yang belum diketahui keberadaannya.

Dalam setiap pelaksanaan haji, ada saja jemaah yang tersasar. Beberapa dari mereka yang mengalami demensia bahkan ada yang ditemukan meninggal dunia. Hingga saat ini ada satu jemaah yang belum diketahui keberadaannya.

  1. Pembinaan ibadah.

Masalah ini tidak hanya tentang waktu lempar jumroh, tapi juga yang terkait masalah perhajian lainnya.

“Terkait fiqih, tarikh, dan hikmah haji bisa diurai secara mendasar agar meminimalisir ketidakpahaman jemaah haji kita,” katanya.

10. Regulasi

Guna meningkatkan pelayanan, perlu juga menelaah sejumlah regulasi yang ada. Harus ada upaya untuk meneliti apakah ada regulasi yang sudah tidak relevan atau malah bertentangan dengan upaya meningkatkan kualitas pelayanan haji.

LEAVE A REPLY