Arafah, Lailatul Qadar dan Kurban

0
162
Jamaah haji saat wukuf di Arafah. (foto:ist)
Jamaah haji saat wukuf di Arafah. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS – Tidak ada amalan yang paling disukai Allah kecuali pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Demikian kutipan artikel yang ditulis oleh pimpinan Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah, Kyai Anang Rikza Masyhadi.

Di bawah ini adalah artikel yang mengupas antara Arafah, Lailatul Qadar dan Kurban.

Tidak ada amalan yang paling disukai Allah kecuali pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA dari Nabi SAW bersabda: “Tidak ada hari-hari yang lebih mulia di sisi Allah dan lebih disukai oleh-Nya beramal shaleh di dalamnya daripada 10 hari ini, maka perbanyaklah bertahlil, bertakbir dan bertahmid.” (HR. Ahmad)

Maka, dalam sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini, selain memperbanyak tahlil, takbir dan tahmid, perbanyak pula beramal shaleh: memberi makan orang, menyantuni fakir-miskin dan yatim, dan menolong kesulitan saudara.  Jangan lewatkan pada 10 hari pertama ini tanpa melipat-gandakan sedekah dan wakaf, karena sungguh pahala sangat besar dan kemuliaan yang Allah janjikan.

Keutamaan 10 hari Dzulhijjah ini terang benderang, terutama pada tanggal 9 dimana merupakan Hari Arafah, dan tanggal 10 merupakan Idul Adha. Jika Lailatul Qadar yang memiliki keutamaan 1000 bulan, Allah rahasiakan waktunya (apakah malam ganjil atau genap, tanggal berapakah pastinya), maka Hari Arafah tidak demikian halnya. Jika pada malam Lailatul Qadar, kemuliaannya diiringi dengan turunnya para malaikat, maka pada hari Arafah Allah sendiri yang turun ke langit dunia sebagaimana diriwayatkan dalam banyak Hadis Shahih.

Arafah adalah hari yang dimuliakan dan diagungkan oleh Allah, dimana pada hari itu Allah membanggakan hamba-hamba-Nya yang sedang berhaji kepada penghuni langit. Maka, sangat dianjurkan bagi yang tidak berhaji untuk berpuasa sunnah pada hari tersebut yang pahalanya dapat menghapus dosa setahun sebelumnya. Meninggalkan puasa sunnah pada 9 Dzulhijjah adalah tindakan merugi.

Diantara amalan terbesar pada Dzulhijjah adalah berkurban. “Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah)” (Qs. Al-Kautsar [108]:2)

Menurut pendapat yang paling populer di kalangan fuqaha, yang dimaksud “shalat” dalam surat Al-Kautsar adalah shalat hari raya (Shalat Ied). Maka, usai shalat Ied segeralah menyembelih hewan kurban. Batas dibolehkannya menyembelih adalah mulai setelah shalat Ied hingga terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah (hari-hari Tasyrik).

Hadis Nabi SAW: “Tidak ada satu amal pun yang dilakukan anak cucu Adam pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai Allah SWT dibandingkan amalan menumpahkan darah (hewan). Sesungguhnya, ia (hewan-hewan yang dikurbankan itu) pada Hari Kiamat kelak akan datang dengan diiringi tanduk, kuku dan bulu-bulunya. Sesungguhnya, darah yang ditumpahkan (dari hewan itu) telah diletakkan Allah SWT di tempat khusus sebelum ia jatuh ke tanah. Oleh karena itu, doronglah diri kalian untuk suka berkurban.” (HR. Al-Hakim, Ibnu Majah, At-Turmudzi)

Maknanya, hewan kurban itu akan datang pada Hari Kiamat persis seperti kondisi ketika ia disembelih, ada tanduk, kuku dan bulu-bulunya. Dan darah hewan kurban akan lebih dahulu sampai ke tempat yang diridhai Allah sebelum jatuh ke tanah.

Berkurban adalah ajaran yang pertama kali dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS. “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Qs. As-Shaffat [37]:107) Nama dan kemuliaan keluarga Nabi Ibrahim diabadikan oleh Allah dan dimuliakan di hadapan seluruh semesta karena pengorbanan dan keikhlasannya kepada Allah.

“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. (Qs. As-Shaffat [37]: 108-109)

Berkurban adalah ekspresi rasa syukur atas semua nikmat yang Allah telah berikan. Nikmat hidup, kesehatan, rezeki, dan lain-lain, termasuk nikmat atas telah diampuninya dosa-dosa yang pernah kita lakukan baik dosa yang disebabkan oleh pelanggaran terhadap perintah-Nya maupun ketidak-optimalan dalam menjalankannya.

Imam Syafii berpendapat bahwa berkurban hukumnya adalah Sunnah Ain bagi setiap orang sekali seumur hidup, dan Sunnah Kifayah setiap tahun bagi setiap keluarga yang berjumlah lebih dari satu. Artinya, jika dalam satu keluarga jumlahnya lebih dari satu orang, misalnya suami, isteri dan anak-anak yang masih dalam tanggungan, maka disunnahkan salah satu dari mereka berkurban (kifayah) dan hal itu disunnahkan tiap tahun. Artinya, jangan sampai tidak ada seorang pun yang berkurban dari anggota keluarga. “Jika kalian telah melihat hilal tanda masuknya bulan Dzulhijjah lalu salah seorang kalian ingin berkurban, maka hendaklah ia tidak memotong rambut dan kukunya (hingga datang hari berkurban).” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain ditegaskan lagi oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana Hadis dari Abu Hurairah RA: “Siapa yang dalam kondisi mampu lalu tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami ini.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Disamping itu ada pula Hadis lain, dari Ibnu Abbas RA yang berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Ada tiga hal yang bagi saya hukumnya fardlu sementara bagi kalian sunnah, yaitu shalat witir, berkurban dan shalat dhuha.” (HR. Ahmad, Al-Hakim & Ad-Daruqutni)

Demikianlah, keutamaan berkurban. Maka, usahakanlah diri dan keluarga untuk berkurban, karena selain pahalanya yang sangat besar di sisi Allah, berkurban sesungguhnya adalah manifestasi yang nyata sekali dari kesyukuran kita atas nikmat-nikmat-Nya. “Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu; dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim [14]: 7)

Inilah bulan Dzulhijjah dimana semua ibadah berkumpul di dalamnya: shalat, puasa, haji dan kurban. Berpuasalah pada 9 Dzulhijah dan berkurbanlah, jangan lewatkan peluang emas ini berlalu begitu saja, sebab menunggunya lagi butuh waktu satu tahun. (*/hai)

LEAVE A REPLY