Merah Putih Berkibar di Gua Hira

0
199
Pengibaran Bendera Merah Putih di Gua Hira di Puncak Jabal Nur pada Peringatan HUT RI ke-72, pada Kamis (17/8). foto:nizar
Pengibaran Bendera Merah Putih di Gua Hira di Puncak Jabal Nur pada Peringatan HUT RI ke-72, pada Kamis (17/8). foto:nizar

HAJIUMRAHNEWS – Tepat detik-detik peringatan Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 2017 waktu Saudi Arabia, bendera Merah Putih berkibar di atas Jabal Nur, Gua Hira, Mekkah. Pengibaran bendera Republik Indonesia itu dilakukan oleh sebagian jamaah haji asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah yang tergabung dalam kloter SOC 09.

Rombongan pendaki dipimpin oleh Kyai muda Anizar Masyhadi, salah seorang Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang. Rombongan tersebut mengawalinya dengan shalat Subuh di masjid di sekitar Jabal Nur, lalu dilanjutkan dengan doa bersama sebelum memulai pendakian. Diantara rombongan ada Ketua Kloter SOC 09 Bapak Ramdan, TPHD Bapak Suwanto, dan TKHI Bapak Sair.

“Alhamdulillah, syukur luar biasa dapat mengibarkan Merah Putih di atas Jabal Nur, di tempat yang menjadi tonggak kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW). Semoga Merah Putih tetap jaya mempersatukan Indonesia sebagaimana jayanya Islam yang berawal dari Gua Hira ini,” tandas Kiai Anizar, kepada hajiumrahnews.com melalui pesan WhatsApp pada Kamis (17/8) sore.

Kyai muda ini menjelaskan bahwa Gua Hira adalah sejarah pertama peradaban Islam, dimana Nabi Muhammad menerima wahyu pertama. Pendakian ini dimaksudkan untuk refleksi dan napak tilas bagaimana perjuangan Rasulullah dalam mengemban misi Islam.

Gus Nizar, sapaan akrab kyai muda ini menambahkan wahyu pertama diterima oleh Rasulullah SAW dimulai dengan suatu mimpi yang benar. “Dalam mimpi itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar menyingsing di pagi hari, kemudian beliau melakukan khalwah atau perenungan dengan menyendiri di Gua Hira, bertaqarrub dan memohon petunjuk kepada Allah,” ungkap pembimbing ibadah haji dan umrah Gaido Travel ini.

Maka, pada suatu hari datanglah Malaikat Jibril lalu berkata: “Bacalah“. Nabi Muhammad menjawab: “Aku tidak dapat membaca.“ Dialog antara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad itu terjadi sampai tiga kali. Dan ahirnya Malaikat Jibril meneruskanya dengan wahyu pertama: “Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah sebagaimana dalam surat Al-Alaq ayat 1-5.

“Iqra, bacalah, maknanya manusia diperintah untuk membaca alam ini, membaca kehidupan, dan membaca keseluruhan dinamika yang ada, tanpa membaca, manusia tidak akan pernah sampai kepada puncak kemanusiaannya,” jelasnya.

Rombongan Pendakian Jabal Nur Mekkah yang dilakukan oleh Jamaah Haji Kabupaten Batang, yang dipimpin oleh Kyai Anizar Masyhadi pada Kamis (17/8) dalam rangka pengibaran Merah Putih di detik-detik Peringatan Proklamasi 17 Agustus.
Rombongan Pendakian Jabal Nur Mekkah yang dilakukan oleh Jamaah Haji Kabupaten Batang, yang dipimpin oleh Kyai Anizar Masyhadi pada Kamis (17/8) dalam rangka pengibaran Merah Putih di detik-detik Peringatan Proklamasi 17 Agustus.

Kesempatan Pendakian ke Gua Hira dimanfaatkan oleh jamaah Kabaputen Batang untuk mengibarkan Bendera Merah Putih, tepat pada detik-detik proklamasi waktu Saudi Arabia. “Tanggalnya cantik yaitu 17817 menjadi momentum spesial jamaah haji asal Batang,” lanjut Kyai Anizar.

Jamaah yang tergabung dalam rombongan 3 dan 4 merupakan jamaah haji KBIH Muzdalifah binaan Pondok Pesantren Tazakka yang menjadi satu-satunya jamaah asal Indonesia yang mengibarkan bendera Merah Putih di atas ketinggian Jabal Nur Saudi Arabia.

Dari puncak Jabal Nur, Gus Nizar menjelaskan makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, Pancasila yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa semua silanya merupakan cerminan ajaran-ajaran prinsip dalam Islam.

Menurutnya, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah manifestasi dari ajaran tauhid, disusul kemudian kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan. “Itu semua ajaran-ajaran paling prinsip dalam Islam, maka mestinya setiap orang Islam di negeri kita adalah seorang Pancasilais, karena tidak mungkin umat Islam mengingkari ajaran tauhid, penghormatan pada manusia, perintah untuk bersatu, musyawarah dan menegakkan keadilan,” ujar alumnus Pondok Gontor itu.

Maka, lanjutnya, setiap upaya yang ingin menjauhkan bangsa ini dari umat Islam adalah tindakan menyimpang dan ahistoris. Sebab, pada Pembukaan UUD 1945, agama memperoleh tempat yang kokoh.

“Silahkan baca pembukaan UUD 1945, dinyatakan bahwa kemerdekaan adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, ini kental sekali pandangan keagamaannya. Maka, setiap pandangan dan usaha yang mempertentangkan antara Islam dan Pancasila menjadi tidak bermakna dan bahkan meluruhkan nilai dasar keduanya sebagai sumber nilai luhur berbangsa dan bernegara,” tukas Kiai Anizar.

Di akhir pandangannya di atas Jabal Nur, Gus Nizar kembali menegaskan bahwa Indonesia tidak mungkin dibangun dan diisi oleh ideologi sekuler, liberal, komunisme, dan paham lain yang bertentangan dengan agama dan Pancasila.

Menurutnya, pandangan ini harus menjadi dasar berpikir dan bertindak semua anak bangsa agar NKRI tetap memiliki jiwa, alam pikiran, dan pola tindak tanduk yang mendasar dan benar.

“Saya bersyukur bisa ikut mengibarkan Merah Putih di atas Jabal Nur ini, dan pandangan pandangan, serta tausiyah singkat kebangsaan yang bagus dari Kiai Nizar,” ujar Widoyuli, salah seorang jamaah yang ikut dalam rombongan. (hai)

LEAVE A REPLY