Kisah Khamim, Berjalan Kaki ke Tanah Suci Sebarkan Pesan Toleransi

0
410
Mochammad Khamim Setiawan Saat tiba di Konsulat Indonesia di Dubai. (foto:ist)
Mochammad Khamim Setiawan Saat tiba di Konsulat Indonesia di Dubai. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS – Menunaikan ibadah haji merupakan dambaan dan cita-cita setiap muslim yang ada di seluruh penjuru dunia. Jutaan orang berbondong-bondong mengantri untuk bisa menyempurnakan rukun Islam kelima tersebut.

Umumnya, perjalanan menunaikan ibadah haji saat ini ditempuh melalui para penyelenggara ibadah haji yang ada dengan biaya perjalanan yang tidak sedikit. Semua biaya perjalanan dialokasikan untuk tiket pesawat, biaya penginapan dan biaya hidup selama di tanah suci.

Namun, tidak demikian dengan Mochammad Khamim Setiawan.  Pria asal Pekalongan Jawa Tengah ini melakukan perjalanan haji yang tak biasa saat ini yaitu dengan berjalan kaki atau backpacker ke tanah suci.

Khamim memulai perjalanannya sejak 28 Agustus 2016 lalu dengan perlengkapan seadanya. Ia hanya membawa dua potong kaos dan celana, dua pasang sepatu, sejumlah kaos kaki dan pakaian dalam, sebuah kantung tidur, tenda, lampu, telepon pintar dan GPS. Seluruh perlengkapan ia masukkan dalam sebuah tas punggung yang di luarnya terpasang sebuah bendera mini Indonesia. Ada tulisan “I’m on my way to Mecca by foot” di kaosnya, untuk memberi pesan kepada orang-orang yang ditemui di perjalanan tentang misinya menuju Mekah.

Khamim memiliki keyakinan bahwa berjalan kaki merupakan bentuk murni dalam melaksanakan ibadah haji. Menguji kekuatan fisik dan spiritual merupakan tujuan Khamim berjalan kaki ke tanah suci, selain keinginan untuk menyebar pesan berupa harapan, toleransi dan keharmonisan hubungan sesama manusia.

“Saya percaya ibadah haji bukan hanya mengajarkan solidaritas sesama muslim saja. Cara saya menunjukkan kepatuhan kepada Allah ialah mempelajari islam dari berbagai cendikiawan muslim dan bertemu orang-orang dengan berbagai macam keyakinan untuk mempelajari budaya mereka dan menolerirnya,” jelas Khamim, seperti dikutip dari Khaleej Times Rabu (24/5).

Pria yang juga Sarjana Ekonomi dari Universitas Negeri Semarang ini percaya berhaji tak hanya soal interaksi dengan sesama muslim, namun juga manusia dari berbagai keyakinan berbeda. Bertemu dan mempelajari budaya berbeda, bagi Khamim, akan tumbuhkan rasa toleransi yang juga merupakan bentuk kepatuhan kepada Tuhan.

Baginya, kesempatan bertemu orang-orang baik dalam perjalanannya merupakan anugerah Tuhan. Sebab pertemuan itu membuatnya terus bisa lanjutkan perjalanan, meski tak miliki banyak uang. Perjalanan 9.000 kilometer ini rencananya akan berakhir di Mekah pada 30 Agustus 2017 nanti, atau sehari sebelum Idul Adha. Saat itu sekaligus menjadi penanda, akan setahun perjalananya dengan berjalan kaki ke Mekah.

Selama perjalanan, Khamim menjalankan ibadah puasa setiap hari. Kebiasaan berpuasa setiap hari, kecuali di hari besar agama Islam, telah ia lakukan selama lima tahun terakhir. Kondisinya yang berpuasa, membuatnya hanya berjalan di malam hari. Dalam kondisi fisik yang baik, ia dapat menempuh perjalanan sepanjang 50 kilometer, dan hanya sekitar 15 kilometer jika kakinya merasa capek.

Hebatnya meski tidak meminum suplemen khusus, selama perjalanan ini hanya dua kali ia mengalami sakit, yaitu di Malaysia dan India. Untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya dari perubahan cuaca di negara-negara yang dilalui, Khamim hanya mengonsumsi campuran air dan madu.

“Saya juga melakukan jihad dalam bentuk lebih besar, mendisiplinkan diri saya dan berjuang melawan godaan berbuat dosa,” tambahnya.

Khamim menghindari segala macam hal berbau duniawi. Ia meninggalkan bisnisnya di Indonesia untuk perjalanan ini. Selama lima tahun belakang, pemilik perusahaan kontraktor itu pun setiap hari berpuasa kecuali di hari-hari terlarang.

Kebiasaan berpuasa tidak ia tinggalkan selama perjalanan. Khamim rutin berpuasa dan melakukan perjalanan pada malam hari sebagai gantinya. Ia bisa berjalan hingga 50 km per hari dalam kondisi sehat atau 10-15 km jika kakinya sakit.

Selama perjalanannya Khamim tidak pernah mengemis walaupun memiliki perbekalan yang minim. Ia selalu mendapat makanan dari orang-orang yang ia temui dan tak jarang mereka pun memberikan bekal untuk diperjalanan.

Berbekal niat yang kuat, ia menemukan banyak kemudahan selama di perjalanan. Ia disambut saat menyambangi sebuah kuil Buddha di Thailand. Ia juga pernah diberi makanan oleh orang-orang desa di Myanmar dan berteman dengan pasangan Kristiani asal Irlandia saat mereka bersepeda di Yongon. Khamim yang melewati India pun menyempatkan diri belajar islam dari para cendikiawan berbagai negara di Masjid Jamaah Tablig, India.

“Itu merupakan anugerah Tuhan. Kebaikan akan selalu datang selama kita tidak memiliki niat buruk terhadap orang yang kita temui. Saya dapat melanjutkan perjalanan walaupun tidak memiliki sumber penghasilan,” kata Khamim.

Dilansir dari Khaleej Times, Mochammad Khamim Setiawan tiba di Dubai Rabu, 24 Mei 2017 dan langsung mengunjungi Konsulat Indonesia. Ia berencana melanjutkan perjalanan ke Abu Dhabi pada esok hari untuk mengurus visa di Kedutaan Indonesia. Khamim menargetkan tiba di Kota Mekkah sebelum tanggal 30 Agustus 2017. (abi)

LEAVE A REPLY