Gelar Ritual Seba Baduy, Upaya Masyarakat Baduy Jaga Tradisi

0
306

 

Ribuan warga Baduy saat mengikuti upacara Seren Taun atau Seba Baduy. (foto:ist)
Ribuan warga Baduy saat mengikuti upacara Seren Taun atau Seba Baduy. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS-Masyrakat Adat Suku Baduy Banten atau yang biasa disebut Wewengkon Kanekes akan menggelar ritual Seba Baduy pada 28-29 April 2017 di Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak Provinsi Banten.

Tradisi ritual budaya lokal yang diwariskan secara turun temurun ini merupakan sebuah ritual perjalanan yang dilakukan oleh ribuan masyarakat dari Wewengkon Kanekes  menuju Rangkasbitung, tempat Penggede Kabupaten Lebak dan Kota Serang tempat Penggede Provinsi Banten dengan membawa berbagai hasil bumi untuk dinikmati para Penggede Lebak dan Banten.

Budayawan Banten dan Pendiri Akademi Bambu Nusantara, Mukoddas Syuhada mengatakan dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (26/4) bahwa ritual ini terkadang salah dipahami oleh kebanyakan orang yang menganggapnya sebagai ritual penghormatan suku baduy pada Penggede.

“Kebanyakan orang menganggap ritual Seba Baduy merupakan bentuk penghormatan Suku Baduy kepada Penggede Lebak dan Banten. Kenyataannya, Ritual Seba Baduy merupakan suatu peringatan  yang harus disampaikan tiap tahun kepada Penggede di Lebak dan Banten,” Kata Mukoddas.

Anggapan ini, menurut Mukoddas terlihat dari bermacam hasil bumi yang dibawa Suku Baduy dan diberikan kepada Penggede sebagai ‘seserahan’ pada ritual Seba Baduy. Ditambah lagi, penerimaan dari Penggede yang memperlakukan kedatangan Suku Baduy layaknya penguasa kepada rakyat.

Padahal, lanjutnya, Ritual perjalanan yang dilakukan dengan berjalan kaki ini, menunjukkan bahwa masih ada sebuah kawasan yang merupakan Pancer Bumi, Pusatnya Bumi dan sampai sekarang terjaga oleh 2 Jaro Tangtu dan 1 Pu’un.

Mukoddas mengungkapkan meski saat ini perkembangan teknologi informasi serta pergeseran zaman yang sudah semakin digital tak lantas mempengaruhi tradisi budaya dan kesakralan Cikertawana, Cibeo dan Cikeusik dengan Hutan Sasaka Domasnya sebagai benteng alam Wewengkon Kanekes

“Dengan berjalan puluhan kilo meter tanpa alas kaki sambil membawa berbagai hasil bumi, Masyarakat Baduy mengajarkan kita tentang gaya hidup ramah lingkungan sekaligus peringatan bagi Penggede untuk tidak mengeksploitasi alam,” ungkapnya.

“Bermukim dalam tradisi Masyarakat Baduy,  tidak hanya sebagai tempat tinggal, di sinilah masyarakat melakukan ritual kehidupan. Ketika alam menyediakan sumber kehidupan, maka di situlah terjadi bentuk komunikasi antar individu, keluarga, masyarakat, sesama makhluk hidup dengan alam dan Penciptanya,” tambahnya.

Mukoddas menuturkan bahwa tradisi Seba Baduy juga tertuang dalam falsafah hidup mayrakat baduy yaitu “Leuweung Hejo Rakyat Ngejo“ yang artinya “Hutannya Hijau, Rakyatnya Makmur”. Hal ini mengacu pada warisan wilayah milik masyarakat baduy yang dinamakan Tanah Tutupan, Titipan dan Olahan.

“Tanah Tutupan merupakan hutan yang boleh dimanfaatkan non kayunya. Luasnya ±51,2% dari luas kawasan tempat sumber air berada. Tanah Titipan yang disebut Sasaka Domas,  adalah tanah yang dijaga dan dilestarikan untuk keseimbangan alam, berupa hutan dengan luas ±37,7% yang tidak boleh dimanfaatkan kayu dan non kayunya. Bahkan yang boleh memasukinya hanya Pu’un, itupun setahun sekali. Sisanya ±11,1% merupakan Tanah Olahan yang dimanfaatkan untuk perkampungan, persawahan dan lainnya,” tuturnya.

Dengan warisan wilayah itu, papar Mukoddas, Masyarakat Baduy punya ketahanan pangan yang stabil bahkan berlebih untuk sekedar memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

“Lahan persawahannya (±10,4%) mampu memenuhi lumbung padi (leuit) yang jumlahnya ribuan. Bahkan, ada padi yang usianya puluhan tahun masih layak dimakan dan dikeluarkan saat Upacara Seren Taun. Ini bukti hasil padinya melimpah dan tidak habis di makan sendiri walaupun panennya sekali setahun.

Bagi masyrakat baduy, kata Mukoddas Tradisi Seba Baduy ini adalah momen silatruhami yang memiliki tujuan untuk mengingatkan para Penggede agar tidak berlebihan dalam mengeksploitasi alam. Masyarakat baduy mulai resah dengan banyaknya kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh perusahaan Migas asing di Wewengkon Kanekes.

Maka dari itu pelaksanaan tradisi Seba Baduy kali ini juga sebagai wadah sosialisasai masyarakat Baduy pada para Penggeda agar mampu menjaga wilayah di luar Wewengkon Kanekes yang belakangan ini diresahkan dengan issue pembelian lahan oleh perusahaan migas asing. Sehingga dengan begitu keseimbangan alam yang selama ini sudah dijaga secara turun temurun bisa tetap terjaga.

Dalam hal ini, masyarakat baduy memiliki ungkapannya sendiri yaitu:

Lojor teu beunang dipotong

Pondok teu beunang disambung
Gunung teu beunang dilebur
Lebak teu beunang dirakrak
Buyut teu beunang dirobah
Larangan aya di darat di cai
Gunung aya maungan, lebak aya badakan
Lembur aya kokolotan, leuwi aya buayaan
Kudu teguh kudu patuh
Kudu cageur kudu bageur
Kudu pinter kudu beneur
Kudu Jalingeur kudu cingeur
Manuk hirup ku jangjangna
Lauk hirup ku asangna
Jelema hirup ku akalna
Otak, taktak, jeung ceplak
Mun teu bisa unyeum-unyeum
kudu bisa unyam anyam
Saluhureun pi bapaeun
Sapantaran pi batureun
Sahandapeun pi anakeun
Neangan elmu ti bincurang
Tapi ti papada urang
Lembu kungkung, kuda cangcang
Kebo kaluhan, jelema ikrab, ijab lisan
Jelema teu beunang dipeuncit diarah dagingna
tapi ucapan atawa lisanna. (Jab)

LEAVE A REPLY