Menag: Cegah Hoax dengan Verifikasi, Konfirmasi dan Klarifikasi

0
493
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menyampaikan pidatonya dalam kegiatan Seminar Nasional, pada Selasa (7/3), di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (foto:ist)
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menyampaikan pidatonya dalam kegiatan Seminar Nasional, pada Selasa (7/3), di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (foto:ist)

HAJIUMRAHNEWS – Khalifah Usman bin Affan harus mengakhiri kepemimpinan dan hidupnya secara tragis. Pun demikian dengan Khalifah Ali bin Abu-Thalib, yang juga mengalami hal yang sama, ia ditikam dengan pedang saat tengah melaksanakan sholat subuh. Peristiwa ini tercatat di dalam sejarah, dan menjadi cerita mengharukan dalam perjalanan panjang  umat Islam.

Apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa hal ini dikarenakan fitnah dan berita palsu (hoax). Berita hoax mampu menggerakan orang untuk melakukan tindakan-tindakan kejam. Hoax dapat meracuni siapa saja, yang membunuh Khalifah Usman dan Ali adalah seorang muslim, bahkan mereka ada penghafal al-Qur’an.

“Dampak hoax begitu dahsyat, ia mampu menggerakan orang untuk melakukan kekejaman, dan itu sangat mempengaruhi kehidupan manusia bahkan peradabannya,” ujar Menag dalam acara Seminar Nasional yang bertajuk “Hoax di Media Massa dan Media Sosial”, pada Selasa (7/3) di Universitas Negri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Menag juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya umat Islam untuk menjadikan sejarah kelam itu sebagai sebuah pelajaran. Masyarakat harus lebih cerdas menerima dan mengolah informasi yang didapatkan, sehingga kebenarannya dapat dipastikan.

“Apa yang terjadi pada Khalifah Usman dan Ali merupakan takdir sejarah yang harus dipelajari oleh setiap manusia. Betapa berita palsu dan fitnah begitu dahsyat akibatnya. Oleh karena itu kita harus lebih berhati-hati dalam meyakini kebenaran suatu informasi,” paparnya.

Menag mencontohkan Imam Bukhori sebagai tokoh yang patut dijadikan teladan dalam menyikapi beragam informasi. Menurutnya Imam Bukhori merupakan figur yang sangat teliti dalam mengidentifikasi informasi (hadis).

“Kita perlu belajar ketelitian dari Imam Bukhori. Imam Bukhori selalu mempertanyakan kebenaran informasi yang didapatkannya. Apakah isinya benar, apakah sanadnya jelas, apakah pemberi informasi tersebut dapat dipercaya,” tuturnya.

Untuk menyikapi era digital dengan jutaan informasi yang bertebaran di media sosial, Menag sangat menganjurkan agar masyarakat selalu melakukan verifikasi, konfirmasi dan klarifikasi terhadap segala berita atau informasi yang diterima.

“Saat ini, jutaan informasi dapat kita temui dengan mudah, maka saya sangat menganjurkan agar kita selalu melakukan verifikasi, klarifikasi, dan konfirmasi, agar kita dapat terhindar dari hoax dan dapat memastikan kebenaran suatu informasi,” tutupnya. (dar)

 

LEAVE A REPLY